Di Punggungku, Asa Keluargaku Kujunjung



sumber:https://www.brilio.net

(Nuansa Online) - Mata kita sudah tidak asing lagi dengan fenomena di Pasar Bringharjo yang mana sering terlihat beberapa wanita paruh baya yang sering berlalu-lalang di tempat ini. Khususnya di Pasar Bringhrajo bagian belakang, tepatnya di lapak-lapak tempat para pedagang menjajakan aneka macam sayur mayur, bumbu dapur, daging, dan berbagai kebutuhan dapur lainnya. Keadaan inilah yang membuat beberapa wanita paruh baya tadi menggantungkan hidupnya di Pasar Bringharjo sebagai buruh gendong. 

Orang-orang yang tergabung dalam Paguyuban Buruh Gendong Pasar Bringharjo ini mengaku rela bangun di pagi buta dan pergi jauh dari rumah demi mendapat beberapa lembar rupiah demi menyambung hidup tiap harinya. Berbekal Jarit Suruh Ringin, wanita-wanita perkasa ini menggendong barang belanjaan pembeli dari dalam pasar hingga ke lokasi tempat parkir. Barang yang diangkutya pun bermacam-macam, mulai dari bumbu dapur, sayur mayur, kerajinan tangan, hingga sembako. Layaknya seorang pramuniaga di sebuah toko, mereka mengikuti kemanapun orang yang menyewanya untuk menggendong barang bawaan itu. 

“Yo gur kanggo mlaku wae sakjane, nduk. ketimbang nglangut neng omah ra ana wong ngenei pangan, (red : sebenarnya hanya cukup untuk ongkos jalan saja, nak. Daripada di rumah berdiam diri tidak ada yang memberi makan),” tutur Wantiyem, salah satu buruh gendong Pasar Bringharjo ketika ditanya perihal penghasilannya menjadi seorang buruh gendong. 

Sebagai tulang punggung keluarganya, tiap pagi buta Wantiyem harus berangkat menempuh setidaknya 45 kilometer untuk mencapai lokasi ini. Bersama ke 50 teman seperjuangannya, ia berangkat dari Kulon Progo dengan menaiki bus rombongan sampai ke Pasar Bringharjo. Sesampainya di lokasi, mereka langsung berpencar ke segala penjuru pasar ini, mencari dan menawarkan jasanya kepada siapapunn yang ia temui. Demi uang 15.000 rupiah per sekali gendongnya, para buruh gendong ini rela naik turun tangga yang ada di setiap blok Pasar Bringharjo hingga parkiran depan Pusat Perbelanjaan Progo. 

Yuniarti, seorang penjual grosiran bumbu dapur menuturkan adanya paguyuban Buruh Gendong ini sangat membantu pedagang maupun pembeli. Ia mengaku bahwa perempuan-perempuan ini sangat meringankan beban dalam mengangkat barang belanjaan. Meskipun di zaman modern ini sudah ada alat yang lebih canggih, namun tenaga yang dihasilkan dari para buruh gendong ini dinilai lebih efektif ketimbang sebuah troli. 

“Ya kan, jalan di sini nggak seperti jalan raya yang bisa lancar dengan menggunakam troli. Saya sih sering menggunakan jasa mereka, kadang nyariin, kadang makai sendiri,” tutur Yuniarti saat ditemui di Pasar Bringharjo pada Sabtu (22/12).

Di siang hari, mereka -para buruh gendong- ini terlihat bergerombol di beberapa titik. Sambil bercengkrama, dan sesekali tetap menawarkan jasanya. Meskipun dengan nafas yang masih terengah-engah, sebuah tawaran untuk mengangkut selada sebanyak 5 kilogram tetap diterimanya. Salah satunya adalah Wantiyem, ia mengaku dalam sehari sudah biasa menggendong 30 kilogram barang bawaan. Yang dalam satu kali gendongannya bisa mencapai 5 hingga 7 kilogram. 

“Meski usianya sudah seharusnya tingal dirumah, tapi kekuatan mereka masih berkeliaran untuk membantu sesama di Bringharjo,” tutur Nisa salah satu pengunjung dan pengguna jasa buruh gendong. Wanita-wanita tangguh yang bermatapencaharian sebagai buruh gendong ini mungkin bisa jadi salah satu contoh untuk kita semua bahwa usia bukanlah alasan untuk tidak melakukan apapun, termasuk mencari sesuap nasi demi menyambung hidup. (srft) 
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar