Resensi "Sekolah Itu Candu"


Sumber: https://www.goodreads.com/book/show/1464719.Sekolah_itu_Candu

Judul buku : Sekolah Itu Candu                         
Penulis : Roem Topatimasang                                               
Penerbit : IntistPress
Pengantar : -
Tahun terbit : 2010 ( cetakan ke-8)
Tebal buku : xx + 178 halaman

Kata sekolah berasal dari bahasa latin, yakni skhole, scola, scolae atau schola, kata itu secara harfiah berarti ''waktu luang'' atau ''waktu senggang''. Dimulai dari orang Yunani yang biasa mengunjungi suatu tempat atau seseorang yang mereka anggap pandai untuk bertanya dan mempelajari, yang mereka rasa perlu dan butuh untuk diketahui untuk mengisi waktu luangnya. Hingga kebiasaan itupun diberlakukan kepada anak-anak mereka, caranya dengan menyerahkan kepada orang yang dianggap tahu atau pandai di suatu tempat tertentu. Kebiasaan itu berlangsung hingga saat ini, yang lebih akrab kita sebut dengan sekolah.

Lewat bukunya yang berjudul Sekolah itu Candu, Roem Topatimasang memberikan gambaran mengenai sistem sekolah dan lembaga pendidikan baik di Indonesia maupun di dunia. Disampaikan menggunakan bahasa semi cerpen agar mudah dipahami oleh pembaca, walaupun terdapat beberapa kata–kata yang sukar dimengerti oleh orang awam. Sekolah Itu Candu yang terbagi menjadi 14 bab ditambah dengan prolog dan epilog yang menceritakan tentang sejarah sekolah, budaya sekolah, fenomena sekolah di Indonesia maupun dunia dan bagaimana lembaga pendidikan belum sepenuhnya menghasilkan SDM yang terdidik.

Dalam bab Sekolah Anak–anak Laut, Roem meceritakan tentang sebuah Sekolah Dasar (SD) yang memiliki peraturan mewajibkan para muridnya menjemput dan mengantar pulang guru mereka yang ada di seberang pulau. Dan jika tidak dijalankan diberikan sanksi, yaitu menyuruh murid-murid pergi mencari ikan segar di laut untuk guru mereka. Ketika anak–anak itu dihukum, Roem menyaksikan bahwa mereka malah bersukaria jika mendapat hukuman tersebut. 

Apakah masih ada makna sekolah bagi mereka pada saat–saat seperti itu? Jangan–jangan hukuman mengkap ikan itulah justru ''sekolah mereka yang sebenarnya''? Ketika anak–anak belajar bagaimana mengendalikan sampan, belajar di mana perairan yang terdapat banyak ikan, dan mengetahui perbedaan antara ombak dengan gelombang antara arus dengan air.

Buku ini digolongkan buku yang laris (best seller), yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1998. Kemudian dilakukan beberapa cetak ulang dengan beberapa sentuhan baru, mulai dari perubahan sampul sampai tata-letak dan ilustrasi, untuk itu sangat menarik untuk dibaca, dan menjadi rujukan untuk para pencinta buku. (mat) 
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

5 comments:

  1. Kalimat diatas termasuk konjungsi kebahasaan apa ya? Jika boleh tau

    BalasHapus
  2. Kalimat diatas termasuk konjungsi kebahasaan apa ya? Jika boleh tau

    BalasHapus
  3. Kalimat diatas termasuk konjungsi kebahasaan apa ya? Jika boleh tau

    BalasHapus
  4. Judul resensinya apa kak?

    BalasHapus