Pelestarian Aksara Jawa di Sekolah Macapat



Sumber : Dokumen Nuansa
(Nuansa Online) - Bahasa daerah merupakan salah satu keragaman budaya yang harus dijaga kelestarianya karena mampu menggambarkan identitas dari si penutur bahasa tersebut. Ditengah kemajuan globalisasi, nyatanya bahasa daerah mulai ditinggalkan dan jarang digunakan untuk bertutur kata dalam interaksi sehari-hari. Fenomena ini  banyak terjadi di kota besar di Indonesia dimana masyarakat khususnya golongan muda lebih tertarik untuk mempelajari bahasa asing dari pada bahasa daerah. Ada banyak penyebab terjadinya fenomena ini salah satunya adalah anggapan bahwa bahasa daerah adalah bahasa yang kuno dan tidak up to date tidak seperti bahasa asing yang terus menjadi bahasa kekinian. Kejadian ini juga terjadi di Yogyakarta, tidak bayak orang khususnya generasi muda yang memahami dan melestarikan aksara jawa.
 
Untuk mempertahankan bahasa jawa, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menyediakan sebuah bangunan kecil untuk masyarakat umum belajar baca-tulis aksara jawa dan macapat ( puisi jawa yang dibaca degan cara dilagukan). Bangunan tersebut seringkali disebut sebagai ‘Sekolah Macapat’ karena pada awalnya memang diperuntukan khusus belajar macapat. Namun seiring degan berjalanya waktu dan adanya minat dari masyarakat untuk belajar baca-tulis aksara jawa maka sekolah macapat inipun mengajarkan cara menulis dan membaca aksara jawa setiap Jumat sore


Sekolah yang sudah sudah ada sejak masa pemerintahan  Sri Sultan Hamengkubuana VII atau sekitar tahun 1920 ini dulunya hanya dapat diikuti oleh para kerabat keraton. Menurut Dwijo Cipto Wandowo, salah seorang abdi dalem dan pengajar, tidak ada alasan khusus terpilihnya hari Jumat sebagai hari untuk belajar baca-tulis aksara jawa. 


Di dalam keraton pada hari Jumat tidak membunyikan gamelan, untuk mengisi kekosongan seni itu  maka lalu diisi degan macapat dan yang dibaca itu huruf jawa tulisan tangan bukan cetak,  tutur Dwijo yang kerap disapa Romo oleh murid-muridnya.


Sekolah yang terletak di  Jl.Rotowijayan No. 3, Yogyakarta ini sekilas terlihat seperti tempat kursus dikarenakan luas bangunannya yang terbatas. Didalamnya terdapat satu ruang kelas utama yang diisi dengan beberapa kursi, meja, lemari dan papan tulis masing masing berjumlah satu. Meskipun begitu, sekolah ini memiliki tiga orang pengajar handal yang semuanya mengajarkan macapat, dua diantaranya turut mengajarkan baca-tulis aksara jawa. Para pengajar sekolah ini merupakan abdi dalem keraton sehingga kemampuannya tidak perlu diragukan.


Pada masa kejayaannya, sekolah ini memiliki banyak murid, setidaknya ada 20-30 murid yang menimba ilmu disekolah ini. Sistem belajar-mengajarnya pun hampir sama dengan sekolah formal dimana ada sistem ujian setiap setengah tahun atau satu kali setahun.  Murid yang berhasil melewati ujian nantinya akan diberikan sertifikat atau ijazah.
 

Seiring berjalannya waktu, peminat sekolah ini terus mengalami penurunan. Saat ini, jumlah murid yang hadir untuk belajar macapat dan baca-tulis aksara jawa seringkali kurang dari 10 orang. Padahal sekolah ini sudah merubah sistem yang lama dan memberikan banyak kemudahan seperti dibukanya sekolah ini untuk umum, tidak adanya biaya yang dikenakan terhadap murid, dan tidak adanya sistem ujian. 


Dwijo mengatakan beberapa faktor yang ia perkirakan menyebabkan sekolah ini terus mengalami penurunan minat. Menurutnya ini dikarenakan dikampung-kampung sudah banyak kelompok-lelompok macapat sehingga tidak ada lagi yang ke sekolah ini. Disisi lain, ia juga memperkirakan terlambatnya pembagian ijazah setelah ujian berlangsung juga turut menjadi penyebab berkurangnya murid. 


Kenyataan yang dihadapi sekolah ini sekarang tidak lagi terkait jumlah murid yang terus menurun melainkan juga sulitnya menemukan pengajar baru. Para pengajar yang kini semuanya sudah memasuki usia lanjut mengaku kesulitan melakukan regenerasi. Pengajar termuda sekolah ini berusia 60 tahun, sudah saatnya para pengajar ini menikmati hari tuanya bersama keluarga mereka. 


Menurut Dwijo, sulitnya regenerasi untuk sekolah ini dikarenakan banyak generasi muda yang merasa tidak mampu dari segi ilmu untuk mengantikan posisi sebagai pengajar.  Padahal mereka juga mengetahui bahwa pengajar saat ini sudah lanjut usia dan saatnya pensiun dari sekolah ini. 


Untuk mengatasi hal tersebut, para murid yang sudah belajar di sekolah macapat atau alumni yang sudah memiliki kemampuan memadai akan diberikan kepercayaan untuk mengajar. Ini merupakan wujud keinginan kuat dari  pihak keraton dan pengajar untuk tetap mengusahakan agar sekolah ini tetap berjalan. 


Sejatinya bahasa daerah dan kebudayaan daerah adalah refleksi dari masyarakat yang memiliki budaya tersebut. Setiap kearifan lokal mengajarkan arti nilai kehidupan. Begitupun degan aksara Jawa yang setiap bentuk hurufnya memiliki nilai filosofis yang sangat mendalam dan beragam. Kewajiban untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan daerah bukan hanya menajdi tugas pemerintah dan generasi tua melainkan kewajiban semua pihak khususnya generasi muda yang harus berperan aktif dalam melestarikannya. (ska, elv)


Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar