Hadapi Perang, Kenalkan Literasi Media Berbasis Adab Islami

Nuansa Online - Festival Dakwah 2019 dibuka, Himpunan Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (HMJ KPI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menggelar acara Seminar Nasional bertajuk “Menyebarkan Kebaikan Melalui Media di Convention Hall lantai 3 Asri Media Centre, pada Sabtu lalu (30/3). Acara seminar ini menghadirkan dua sosok penulis yang telah masyhur di kalangan masyarakat, dan tidak asing lagi di ranah masyarakat dengan sapaannya, Habiburrohman El-Shirazy atau yang lebih akrab dengan sapaan Kang Abik dan Hanum Salsabiela Rais.

Di era yang serba digital, media saat ini sangat berkembang dibandingkan jaman dahulu. Jaman sekarang, jarum jatuh itu langsung terdengar bunyinya. Seperti itulah pengibaratan Kang Abik mengenai karakteristik media sekarang ini yang perkembangannya sangat cepat.

 Perkembangan media saat ini justru menjadi suatu hal yang dapat menimbulkan polemik baru bagi masyarakat milenial. Polemik maraknya perang terhadap ideologi atau ghozwul fikri yang tidak dapat diperangi dengan senapan melainkan dengan pemantapan ideologi. Masyarakat tidak lagi melakukan perlawanan dengan kekerasan fisik, melainkan intelektual.

“Yang di sebelah juga menggunakan buku, menggunakan film, menggunakan games, menggunakan serba digital untuk memerangi kita secara ideologi juga.” Ujar Hanum, pejuang literasi Indonesia yang ikut serta dalam memantapkan ideologi melalui media.

Ironisnya, upaya perlawanan tersebut terhalangi oleh adanya penyebaran berita bohong atau  hoax yang kian lama kian meraja-lela di tengah masyarakat.

Pada permulaan sesi, Hanum memaparkan sejarah lahirnya berita bohong (hoax) di dunia ini. Dimana berita bohong berawal disebarkan oleh profesor Alan Sokal dengan tujuan mengetes kadar intelektual seorang redaktur di sebuah majalah yang sakral di paris. Hasilnya pun menyatakan bahwa seorang redaktur yang memiliki kualitas yang cukup bagus dan masyhur bisa termakan hoax.

 “Alan tahu ia mengatakan sesuatu yang berbohong tapi dikemas dengan bagus sehingga terlihat sangat meyakinkan.” Jelas Hanum.

Seni dalam mengemas sebuah informasi tersebut, bagi Hanum menjadi suatu alasan mengapa berita bohong tersebut dengan mudah meyakinkan masyarakat.
Hanum memaparkan bahwa dalam lingkup dakwah, Al-Qur’an Surat Al-Hujurat Ayat 6  yang secara eksplisit menjadi referensi dan pengingat awak media dalam menyikapi berita bohong (hoax).
Hanum saat ditemui awak media setelah acara usai

Wahai orang-orang yang beriman, kalau ada orang fasik datang kepadamu, maka lakukanlah validasi dulu, melakukan verivikasi dulu, melakukan crosscheck dulu, sehingga kemudian kita menjadi orang-orang yang tidak memberikan keputusan kepada suatu kaum tanpa pengetahuan sehingga kalian akan menyesali diri atas apa yang telah kalian kerjakan.” Jelas Hanum mengenai tafsiran Al-Qur’an surah Al-Hujurat Ayat 6, seruan bagi umat manusia yang beriman untuk berhati-hati dalam penyebaran dan penerimaan informasi.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Kang Abik bahwa terkait dengan dunia tulis-menulis, atau mengisi media sosial, tetap harus menggunakan adab-adab yang diajarkan oleh islam yaitu tabayyun.
“Satu kalimat yang sangat berharga sekali dari Rasulullah, Min husni islami al-mar'i tarkuhu ma la ya'nihi. Termasuk baiknya islam seseorang kalau orang itu mampu meninggalkan apa yang tidak ada manfaat baginya.” Ungkap Kang Abik kepada Nuansa.

Minimnya literasi memang tidak dapat disangkal lagi sebagai salah satu faktor empiris tersebarnya berita bohong (hoax). Mengingat pada filosofi firman pertama yang diturunkan kepada Rasulullah “Iqra’,” menjadi jawaban bahwa edukasi literasi berperan sebagai alternatif bagi masyarakat agar terhidar dari serangan hoax terutama di kalangan anak-anak zaman milenial.

Hanum berharap visi dan misinya di buku tidak hanya sekedar tertoreh di atas kertas namun ia ingin tulisan tersebut dapat terealisasikan di negara ini. Dan ia berpesan kepada para peserta yang hadir dalam seminar tersebut demi menggempur berita bohong (hoax) dan framing media agar masyarakat lebih banyak untuk mengikuti tidak hanya sosial media yang menyenangkan diri dan sesuai harapan tapi berusaha mendekati media-media lainnya.

Begitupula dengan kang Abik, ia menorehkan harapannya kepada mahasiswa khususnya, bahwa mahasiswa tetap tidak berjarak dengan media, artinya mahasiswa tidak boleh kuper, harus tahu media, dan menjadi bagian yang mengisi kebaikan-kebaikan. (nsn)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar