Pemira UMY 2019: Tak Sekadar Suksesi Menuju Kursi






Akmal Akhsan Tahir (Alumni UMY)

Pemira (pemilihan umum raya) dimana ajang pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa UMY sejenak lagi akan menghiasi dinamika kemahasiswaan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Sebagaimana biasanya, partai yang selama ini hadir dalam gelanggang politik kampus bisa jadi akan kembali memasuki pertandingan, bisa juga kalah sebelum kontestasi dimulai. Diskurus politik mahasiswa UMY segera akan tampil, harapan semua pihak kontestasi ini adalah wadah besar untuk membangun nalar politik di kalangan mahasiswa.

Memasuki diskursus politik kampus beberapa bulan mendatang, tantangan seluruh pihak yang terkait bukan hanya memenangkan kepentingan golongan, namun juga memenangkan nalar mahasiswa UMY secara keseluruhan. Para calon, penyelenggara, dosen dan civitas akademika secara keseluruhan diharapkan turut terlibat bukan hanya dukung-mendukung, namun juga memupuk nalar yang argumentatif dan paradigmatik.

Secara realistis, menurut saya masih sangat sukar untuk melawan kekuatan Partai Islam Progresif (PIP) yang selama ini masih langgeng sebagai partai penguasa di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Hal ini dapat dilihat dari terus bertambahnya simpatisan partai, sekalipun akhir akhir ini PIP sedang mengalami kemandegan peran dalam tataran fakultas-kampus. Potensi mengalahkan PIP hanya dapat terjadi bilamana seluruh partai oposisi menggalang kekuatan jauh-jauh hari. Namun diluar dari diskurus itu, pertanyaan yang mesti bergumul dalam dialektika politik mahasiswa ialah sejauh mana kontestasi ini dapat membangun paradigma politik yang argumentatif dalam dataran mahasiswa UMY.

Pemira 2018 silam terlihat lebih argumentatif dari pemira sebelumnya, tampilnya Affan-Hilmy sebagai pemenang bukan hanya memenangkan persona belaka, namun juga memenangkan gagasan yang selama ini disebut sebagai “tri orientasi”, yakni membawa arah gerakan pada konsen pembahasan pendidikan, sosial-politik dan sosial-masyarakat. Meski demikian, narasi yang dibangun keduanya harusnya mampu terus dikritik oleh oposisi dalam rangka memperkuat narasi yang ada. Dalam upaya mempertahankan dinamika politik yang argumentatif, saya mengusulkan beberapa transformasi gerakan yang dapat dilakukan oleh pihak yang terlibat dalam kontestasi, yakni :

Partai Politik : Dari Emosi Menuju Argumentasi

Jalannya proses perpolitikan di UMY kita harapkan tidak hanya menjadi ladang “demagog” partai kampus, sebaliknya diharapkan partai yang ada mampu “berperang” lewat gagasan atau narasi yang menguntungkan Mahasiswa dan civitas akademika UMY. Seluruh prosesi politik yang ada diharapkan tidak hanya memantik emosi sesaat sebab orientasi kemenangan golongan semata, namun juga dibarengi dengan pertarungan argumentasi yang dialektis antara pihak yang sedang bertanding. Peran partai tidak hanya sebagai peserta yang ada dalam gelanggang, namun juga pihak yang berkepentingan membumikan nilai yang baik dalam pergolakan kemahasiswaan di kampus.

Transformasi ini dapat dilakukan partai terlibat misalnya dengan mengadakan riset tentang persoalan kemahasiswaan UMY, mengkaji ulang peran BEM-KM UMY dan menghadirkan visi misi yang argumentatif dan futuristik. Akun media yang sering digunakan di Instagrampun diharapkan mampu memantik perdebatan yang diskursif, tak sekadar penggiringan opini belaka.

KPU : Dari Fasilitator Menuju Edukator

Dalam pemilu beberapa tahun terakhir, peran Komisi Pemilihan Umum (KPU) terlihat hanya sebagai fasilitator Pemira, kepuasan seolah sudah dirasakan bilamana seluruh rangkaian acara telah terlaksana. Perihal ini akhirnya mengerdilkan peran KPU sebagai penyelenggara pemilu.

Dalam upaya meningkatkan level peran, menurut saya KPU harus tampil tak sekadar sebagai fasilitator Pemira, namun juga sebagai Educator, pihak yang mampu merangsang diskurus dan nalar mahasiswa untuk tertarik dalam dialektika politik kampus. Jalan ini hanya dapat ditempuh KPU dengan menghadirkan inovasi program pemilu yang edukatif bagi mahasiswa secara umum. Misalnya, dengan memperbanyak diskusi atau debat argumentatif para pasangan calon yang terlibat.

Mahasiswa : Dari Objek menuju Subjek

Kita memahami, semakin hari terlihat mahasiswa semakin apatis terhadap diskurus politik, dialektika politik akhirnya hanya menjadi konsumsi segelintir mahasiswa/ golongan mahasiswa belaka, partisipasi politik khususnya di UMY pun mengalami kemunduran. Hal ini tentu menjadi kerugian bagi nalar mahasiswa di masa yang akan datang.

Maka dari itu, kesempatan untuk terlibat dan belajar dalam belantika perpolitikan telah terbuka lebar bagi mahasiswa, pemira UMY adalah ladang untuk menempatkan diri sebagai subjek, bukan sebagai objek belaka, sebagai pelaku bukan sebagai individu yang diperlakukan. Mahasiswa harus terlibat langsung dalam menganalisi realitas politik atau bahkan terjun sebagai bagian dari partai. Harapannya, dengan transformasi paradigmatik ini, mahasiswa secara keseluruhan dapat tampil dan meningkatkan partisipasi politik di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Akhirnya, saya berharap kita dapat meningkatkan level diskurus dari sejauh ini hanya berorientasi pada kemenangan belaka menuju pada diskurus politik yang edukatif. Pemira diharapkan hadir tak sekadar sebagai pemilu belaka, namun juga menjadi ladang subur bagi mahasiswa untuk menumbuhkan nalar politik yang kritis. Semoga kita menjadi intelektual organik.

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar