TRAUMA MERAPI VS PENGHIDUPAN MASYARAKAT MERAPI


Sumber : ranselhitam.com 

Nuansa Online - “Merapi adalah sumber penghidupan, lahir dan tumbuh di sini. Bila sewaktu- waktu Merapi meletus lagi, saya harap kami semua selamat,” tutur Wijiana, warga  asli Merapi.

Masih lekat di benak Wijiana malam mencekam saat Merapi meletus, Jumat malam bulan Oktober 2010, sekitar pukul dua belas, Wijiana bersama istri dan satu orang anaknya diungsikan ke Maguwoharjo, akan tetapi tempat pengungsian tersebut penuh sesak dengan orang-orang yang juga mengungsi, Wijiana berserta keluarga lantas mengungsi menuju tempat lain hingga akhirnya sampai di STIE YKPN Yogyakarta. Setidaknya kurang lebih dua bulan ia mengungsi, pulang-pergi melihat kondisi rumahnya yang telah menjadi kerangka, terkena awan panas dari letusan gunung Merapi. Ia ingat bagaimana hal serupa juga terjadi terhadap rumah-rumah warga lainnya. Kemudian datang kabar, teman baiknya, Mbah Maridjan sekaligus kuncen (juru kunci) gunung Merapi ditemukan tewas di rumahnya dalam keadaan bersujud, kini rumah tersebut dijadikan objek wisata (baca: Petilasan Mbah Maridjan).

Wijiana mengenang, dahulu tempat Mbah Maridjan dijadikan tempat kumpul wisatawan. Banyak wisatawan datang dari luar kota bahkan luar negeri. Mbah Maridjan dalam benaknya adalah sosok yang hangat, pandai menyambut tamu. “Semua wisatawan yang datang suka Mbah Maridjan,” tutur Wijiana. Tak lupa kenangan mengenai sosoknya yang sering membuat wedang dan kopi untuk tamu-tamu dan wisatawan yang menginap di rumah Mbah Maridjan. “Dia hebat, menyatukan banyak orang dalam satu kelompok, berdiskusi bersama,” jelasnya lagi. Sebelum Mbah Maridjan ada Mbah Hargo yang merupakan ayah dari Mbah Maridjan, karena sudah tua ia mewariskan jabatan kuncen kepada Mbah Maridjan, sampai Mbah Maridja meninggal, diturunkan kepada Mbah Asih, anak ketiga Mbah Maridjan.

Wijiana tahu Merapi sewaktu-waktu bisa saja meletus, terlebih kini Merapi dalam status waspada level 2. Mengingat peristiwa letusan yang menewaskan sedikitnya 300 orang, Wijiana menanggapi pertanyaan jika Merapi kembali meletus, bagaimana pendapatnya? 

“Saya biasa- biasa saja, Merapi adalah sumber penghidupan, lahir dan tumbuh di sini. Bila sewaktu-waktu Merapi meletus lagi, saya harap kami semua selamat,” ujar Wijiana. 

Namun berbeda dengan Ngatinem, wanita berusia 81 tahun yang hidup dengan berjualan makanan-makanan ringan untuk wisatawan yang datang berkunjung ke Petilasan Mbah Maridjan, saat diberikan pertanyaan serupa, Ngatinem mengatakan trauma. Ekspresinya saat diwawancarai terlihat jelas ketakutan. Beberapa kali Ngatinem bahkan sampai menepuk kepalanya untuk menjauhkan bala (penangkal malapetaka). “Amit-amit, mba. Trauma itu jelas,” jawabnya sembari bergidik.

Bila dilihat baik Ngatinem dan Wijiana, keduanya sama-sama tidak bisa berbuat banyak. Meski pemerintah telah memberikan bantuan relokasi rumah tetap yang aman dari dampak letusan gunung Merapi, akan tetapi sumber penghidupan mereka berada di kawasan gunung Merapi. Pada akhir wawancara bersama Wijiana, ia menyampaikan aspirasinya, “Saya harap semua kembali kepada aktivitas semula. Ada warga yang dahulu ikut merasakan bencana Merapi pergi, dan ada banyak warga baru yang menetap di sini. Dahulu warga kami kebanyakan bertani dan beternak. Jadi ada saja hikmahnya setelah Merapi meletus, kini banyak yang berkunjung. Anak-anak muda jadi punya komunitas jip. Saya terbuka dengan wisatawan yang datang, silakan berkunjung ke sini,” tutup Wijiana. (RKI)

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar