Harus ya Koreografi ?

lustrasi: https://statik.tempo.co/data/2018/08/19/id_727226/727226_720.jpg

Nuansa Online- Musim awal perkuliahan, musim orientasi perkenalan kampus (ospek) atau dengan segala istilah  sesuai kampus masing-masing. Belakangan tahun ini musim tersebut diwarnai dengan ajang unjuk gigi kreatifitas kampus menampilkan koreografi antara panitia ospek dan mahasiswa baru. Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan aksi mahasiswa baru Institut Pertanian Bogor (IPB) yang konon telah mencetak rekor dunia dengan koreografinya, dan bahkan mungkin dapat dikatakan dari tahun ke tahun IPB selalu mejadi pusat perhatian dalam hal koreografi pada musim-musim ospek.

Tak hanya IPB, berbagai kampus baik dari kampus negeri sampai kampus swasta  juga melakukan hal serupa pula. Tapi penulis akui yang menjadi pusat perhatian khalayak mahasiswa di Indonesia tetap koreografi dari IPB. Lha terus yang lain bagaimana? Sebenarnya beragam banyak kampus yang melakukan hal serupa dengan hasil yang luar biasa pula, seperti halnya koreo dari UGM dan kampus lain (mohon maaf ya jika tidak tersebutkan). Tapi banyak pula yang hasilnya seperti hasil jepretan kamera VGA  handphone Nokia.

Sering menjadi pertanyaan di benak penulis, sebenarnya apa sih yang membuat koreografi layaknya sebuah ajang unjuk gengsi antar kampus bahkan antar fakultas. Seolah-olah ospek tanpa koregrafi bagaikan ospek tanpa kreatifitas. Sebuah hal yang menjadi miris apabila hal tersebut atas dasar gagasan yang tidak kuat, panitia ospek membuat koreografi atas dasar gengsi dan korban dokumentasi semata. Pastinya yang menjadi korban adalah mahasiswa baru yang masih lugu harus panas-panasan di bawah terik matahari dan terkadang tanpa konsumsi. Syukur hasilnya luar biasa hingga dapat dijadikan bahan pamer ke kawan kampus tetangga. Tetapi apabila hasilnya seperti foto jepretan kamera VGA Nokia, ya jadinya untuk apa?

Entah mulai kapan, pastinya sejak penulis menjadi maba (mahasiswa baru) sampai maba kembali (mahasiswa hampir basi) gebrakan kreatifitas sebagian kampus-kampus saat musim ospek masih berkutat di koreografi. Apakah tidak ada alternatif kreatifitas lain yang muncul dari panitia-panitia ospek tersebut. Pastinya ada, bahkan saat ini, hanya saja saja mungkin karena tidak terlalu terekspos di media sehingga tidak se-booming koreografi khususnya dari mahasiswa IPB. 

Apakah salah jika tetap menggelar koreografi? Tentunya tidak jika hal tersebut dilakukan dengan landasan yang kuat, bukan karena perilaku latah ataupun korban dokumentasi. Jadi koreografi bukan karena “yang penting ada koreografi” atau “kok tidak ada koreografi” tapi perlu dikuatkan “mengapa ada koreografi.” Jangan sampai mahasiswa baru jadi korban ajang coba-coba senior kampus. Masa ngga kasian lihat mahasiswa baru panas-panasan? syukur jika panitia menyediakan fasilitas dan akomodasi. Tetapi jika hasilnya malah bikin minder bagaimana? Apakah akan ada kalimat dari senior khusunya kepada mahasiswa baru berbunyi  kurang lebih dmikian “Semua kalian hebat, hasil demikian yang penting adalah prosesnya.”

Tidak salah memang jika kita sebagai mahasiswa terlalu terbawa oleh arus tren, tidak ada memang larangan baik di kitab suci agama maupun negara. Tetapi alangkah luar biasanya jika ada alternatif kreatifitas lain tanpa terjebak arus latah dan dokumentasi. Banyak hal yang bisa dilakukan, seperti apa yang disampaikan oleh salah satu dosen ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Fajar Junaedi dalam akun twitternya @fajarjun. Menurutnya bagaimana jika sekali-kali mahasiswa tidak diharuskan menggunakan baju putih hitam akan tetapi mahasiswa baru diminta untuk memakai jersey klub sepakbola asal daerah masing-masing. Hal tersebut agar mahasiswa baru dibiasakan degan keberagaman yang ada. Hal tersebut  hanya permisalan belaka.


Penulis yakin sebenarnya mahaiswa saat ini, khususnya panitia ospek di setiap kampus memiliki potensi dalam mebuat karya yang luar biasa selain koreografi. Hanya saja mungkin masih terpendam di bawah alam pikiran yang sangat dalam, sehingga untuk memunculkannya perlu adanya penggalian ide.  Jika tidak pernah menggali secara dalam pasti tidak akan keluar ide-ide yang brilian tersebut. Alangkah baiknya jika kita mahasiswa tidak terlalu membatasi ide-ide kreatifitas kita, sehingga karya yang dihasilkan luar biasa da pastiya memiliki dasar gagasan dan narasi yang kuat.

Dany Tantowi Prastyo
Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta  2016

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar