Apakah Permainan PUBG Bakal dari Terorisme ? (Part 2)

Sumber : Freepik.com
Nuansa Online- Lanjutan..
http://www.lppmnuansa.com/2019/09/apakah-permainan-pubg-bakal-dari.html


Dampak Permainan PUBG terhadap Pemainnya

Dalam setiap permainan online terutama permianan PUBG tentunya banyak terlihat dampak negatif terhadap penggunanya. Berdasarkan hasil wawancara dari beberapa mahasiswa yakni menurut Luthfi dan Decky mereka juga mengalami dampak negatif dari permainan PUBG seperti memunculkan sifat kecanduan bagi pemainnya sehingga akan mempengaruhi waktu yang seharusnya digunakan untuk hal-hal semestinya seperti belajar, beribadah dan lainnya. Adapun pengeluaran yang dibutuhkan dalam permainan PUBG cukup banyak sehingga pemain dapat bersifat boros. Masalah kesehatan pun  dapat terganggu seperti kesemutan, badan terasa kaku, badan dan mata terasa lelah. Hal tersebut dapat terjadi karena pemain terlalu lama fokus bermain dan posisi tubuh yang salah saat bermain permainan PUBG tersebut. Namun, ada juga pemain permainan PUBG yang mendapatkan dampak positif seperti menoreh prestasi dalam ajang perlombaan permainan PUBG. Salah satu mahasiswa, sebut saja Luthfi yang merupakan pemain dari permainan PUPG dan telah mencapai prestasinya dalam ajang permainan tersebut. Berikut merupakan prestasi yang pernah diraih yaitu: Juara 3 Fisipol “Extra Joss Goes to Campus”, Topkill Fisipol “Extra Joss Goes to Campus”, 1 Duo mini turnamen Klaten, dan Nomor 6 “Gojek Kampoeng Tugu Jogja”.

Tentu tidak mudah dalam mencapai prestasi tersebut, dibutuhkan usaha termasuk waktu dan biaya. Waktu yang dihabiskan Luthfi dalam bermain PUBG ketika masih aktif sekitar 8-10 jam per hari, namun saat ini mulai bulan April sekitar maksimal 3 jam dalam sehari. Tidak hanya waktu, biaya pun perlu dikeluarkan seperti pembelian perlengkapan dalam permainan tersebut. Permainan tersebut terus digeluti oleh Luthfi dari tahun 2017-2018 hingga mengikuti perlombaan dan berhasil memenangkan kejuaraan, dengan demikian hobi dari Luthfi yang mengeluarkan biaya pun tidak sia-sia karena Ia juga memperoleh uang dari kompetisi yang diikuti, serta mendapatkan kesenangan dan teman baru. Sebagai mahasiswa, Luthfi memiliki kewajiban dalam tugas perkuliahan, sehingga untuk saat ini intensitas dalam bermain mulai berkurang. 

Adapun pemain PUBG lainnya adalah Decky yang sudah bermain PUBG sekitar 1 tahun 3 bulan dan mengabiskan waktu sekitar 6-12 jam per hari untuk kegiatan tersebut. Manfaat yang Decky peroleh dalam bermain PUBG yaitu kepuasan dan kesenangan meskipun tidak memperoleh prestasi dalam bermain PUBG. Hanya saja untuk sekadar refreshing  dari padatnya tugas atau kegiatan lainnya.

Pendapat dan fakta mengenai permainan PUBG oleh psikolog, bahwasanya permainan apapun itu jika tujuannya memang hanya sebagai hiburan dan kesenangan itu wajar saja, namun dapat menjadi dampak negatif ketika permainan tersebut dijadikan kebiasaan dan membuat kecanduan penggunanya secara belebihan serta mempengaruhi tingkah laku yang buruk seperti lupa waktu, lupa tugas-tugas lain yang harus dikerjakan, apalagi ditakutkannya ada pemain yang memang berasal dari keluarga kurang mampu yang harus mengeluarkan uang yang dibutuhkan untuk perlengkapan permainan tersebut. Begitu juga sebaliknya, jika penggunanya bisa membagi waktu dengan kegiatan-kegiatan lain merupakan hal yang wajar karena ada beberapa orang yang berelaksasi dengan permainan online, dimana permainan tersebut dijadikan alat untuk refreshing atau hiburan.


Wacana Majelis Ulama Indonesia tentang Fatwa Pengharaman Permainan PUBG

Terkait adanya wacana Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang fatwa ‘pengharaman’ permainan PUBG pada bulan Maret 2019, dilansir dari berita Detik.com Wakil Ketua Umum MUI Pusat Zainut Tauhid Sa'adi menilai bahwasanya permainan PUBG ini telah menimbulkan mudarat yaitu segala sesuatu yang tidak menguntungkan dan menyebabkan kerugian dalam berbagai aspek, sehingga perlunya MUI segera mengkaji lebih dalam mengenai permainan PUBG ini. Permainan PUBG sedang menjadi sorotan global karena aksi penembakan brutal di Selandia Baru yang menewaskan banyak warga muslim pada tanggal 15 Maret 2019. Senjata yang digunakan pelaku disebut mirip dengan senjata yang digunakan dalam permainan PUBG. Adapun fakta lainnya terkait tindakan atas permainan PUBG oleh negara India, dimana adanya larangan terhadap anak dan remaja bermain PUBG karena dinilai mengandung aksi kekerasan serta berpengaruh terhadap perilaku anak muda. Bahkan kepolisian di India mengancam hukuman penjara bagi yang kedapatan bermain PUBG.

Permainan PUBG yang booming saat itu juga besertaan dengan kejadian di Selandia Baru pada bulan Maret lalu mengenai penembakan terhadap jemaah yang dilakukan di dua masjid di Christchurch. Hal tersebut tentunya masuk dalam isu-isu internasional, dimana adanya tindakan teror terhadap suatu etnis agama islam di Selandia Baru yang perlu ditangani dan dibahas dalam sidang organisasi perdamaian dunia. Terdapat beberapa pihak yang menganggap teroris tersebut terinspirasi oleh permainan PUBG dan menganggap permainan PUBG merupakan salah satu bakal dari terorisme. Hal tersebut tentu dibantah oleh pemain PUBG, diantaranya adalah Luthfi dan Decky sebagai pemain aktif dalam permainan PUBG. Mereka menganggap kekerasan yang terjadi di Selandia Baru murni ultranasionalis, tidak hanya disebabkan dari permainan saja dan permainan tidak bisa berpengaruh terhadap tindakan kekerasan, hal tersebut selayaknya dikembalikan ke pribadi masing-masing. Pelaku dalam teror di Selandia baru mempunyai motif dendam masa lalu sehingga melakukan aksi teroris tersebut, jadi tidak bisa dikaitkan dengan PUBG hanya karena pada saat itu PUBG sedang booming.  Sehingga pengharaman PUBG tidak tepat, namun sebaiknya ada pembatasan dalam bermain, karena dampak buruk yang dirasakan adalah ketika intensitas bermain yang tinggi.

Dilansir dari berita Kompasiana.com pada tanggal 16 Maret 2019, bahwasanya tindakan teror di Selandia Baru bukanlah motif yang terinspirasi oleh permainan PUBG, namun aksi penembakan brutal tersebut dikarenakan adanya motif Islamophobia yang menjadi dasar pelaku melakukan tindakan teror tersebut. Sehingga untuk saat ini fatwa haram masih dalam tahap kajian yang dilakukan oleh MUI Pusat. Terutama pengkajian bentuk permainan PUBG yang mengandung tindakan kekerasan yang bisa saja mempengaruhi sikap seseorang. MUI Jawa Barat mengkaji fatwa haram terhadap PUBG sebagai langkah antisipasi dampak buruk permainan tersebut, jadi untuk saat ini memang belum dikeluarkan fatwa sah bahwa permainan PUBG itu haram. 

Menurut seorang psikolog mengenai kejadian teroris di Selandia Baru dikaitkan dengan permainan PUBG, hal tersebut bisa saja iya dan bisa saja tidak. Memungkinkan jika permainan tersebut mempengaruhi tindakan seseorang jika orang tersebut memang benar-benar kecanduan dengan permainan tersebut, namun hal tersebut tidak bisa dijadikan sebab mutlak, karena perlunya menyelidiki faktor-faktor lainnya seperti latar belakang pelaku, adannya kebencian terhadap suatu etnis, atau rasa dendam pelaku dan lainnya.

Bersambung... 

Penulis : Tim Research Korps Mahasiswa Hubungan Internasional UMY
Ediitor : Rani Nur Aini

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar