Kontradiksi dan Penawaran Solusi Pembangunan Wilayah Selatan Jawa

Sumber : Dokumen Nuansa


Nuansa Online- Clapeyron Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada kembali mengadakan acara tahunan Clapeyron Proyek dan Expo #4 pada hari Sabtu (21/9) hingga Minggu (22/9) dengan mengusung tajuk “Mega Proyek Penyemai Rupiah”. Acara tahunan ini dikemas dengan serangkaian acara seperti talkshow, workshop, dan pameran.  Dalam talkshow yang digelar pada Minggu (22/9) di University Club Universitas Gadjah Mada dengan mengangkat tema “Efektivitas Pembangunan Konektivitas di Wilayah Selatan Jawa terhadap Pertumbuhan Ekonomi Nasional” tidak tanggung-tanggung menghadirkan tiga pembicara sekaligus yang ahli dalam bidangnya masing-masing, yakni Hengki Purwoto, Ir. Arif Wismadi, dan Abdul Hamid Dipopramono.

Pembangunan infrastruktur menjadi salah satu hal terpenting dalam memajukan setiap wilayah. Namun, pembangunan infrastruktur tidak lantas dengan mudahnya diwujudkan. Perlu adanya persetujuan dari pihak-pihak terkait. 

“Seperti halnya jika ahli dalam bidang teknik sudah merancang pembangunan, maka perlu pertimbangan dari sisi ekonomi, lingkungan juga politik.” Ujar Ali Awaludin, selaku Sekretaris Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan UGM mengenai pembangunan nasional.

Menelisik lebih jauh mengenai pembangunan, terdapat sedikit gejolak antara pertumbuhan wilayah utara dan selatan Jawa. Dimana terjadi ketimpangan pembangunan yang dirasa lebih maju di wilayah utara dibandingkan wilayah selatan. Oleh karena itu, saat ini pemerintah sedang gencar merencanakan pembangunan koridor pantai selatan Jawa.

Dari kacamata sisi ekonomi sendiri, pembangunan tentunya memerlukan waktu. Karena pembangunan tidak bisa dirasakan secara langsung hasilnya. Dalam pembangunan tidak hanya memerlukan dana, tetapi juga diperlukan kreativitas dan hasil pemikiran yang smart. Apalagi saat ini kita memasuki era globalisasi ekonomi yang arusnya tak terlihat namun dampaknya cukup hebat. 



Menurut Hengki Purwoto, membangun konektivitas bisa dilakukan dengan membangun sarana transportasi, karena transportasi menjadi hal utama dalam masalah logistik. Dimana Tol Jawa dirancang sebagai urat nadi perekonomian. Dalam politik ekonomi juga dikenal istilah “white elephant” yang mana dapat diartikan banyak infrastruktur dibangun, tetapi tidak ada manfaatnya. Sehingga kita perlu cermat dalam melakukan pembangunan.

Dibalik suatu kebijakan pembangunan pastinya ada unsur kontradiksi. Apalagi mengenai pembangunan sarana transportasi. “Perlu dilakukan inovasi yang sistematis dimana harus ada metode yang tepat sebagai penawaran solusi.” Tutur Arif, dosen Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia. 



Saat ini dimana zaman semakin maju dan teknlogi semakin canggih, dunia sains tidak lagi memerlukan waktu yang lama untuk meneliti suatu studi kasus. Arif memaparkan bahwa penelitian yang dulunya memerlukan waktu hampir 6 bulan bisa kita lakukan hanya dengan 1-2 hari, dengan menemukan konsepnya hanya dengan waktu 10 menit saja. Hal itu bisa ditawarkan untuk menangani kontradiksi pembangunan transportasi di daerah Selatan Jawa, dimana ada penawaran solusi kontradiksi toll dan non-toll dengan menggunakan metode TRIZ (Teorija Resenija Isobretatelskih Zadac).

Lalu, di sisi pemerintah sendiri yang diwakili oleh pemateri dari Staf Khusus Menteri Perhubungan Bidang Komunikasi Publik dan Hubungan Internasional, yaitu Ir. Abdul Hamid menuturkan bahwa setiap kebijakan pembangunan yang ditetapkan pemerintah pastinya sudah melalui proses penggodokan yang benar-benar matang dan tidak asal dibuat saja. Sehingga proyek pembangunan yang telah dirancang pastinya akan memberi manfaat untuk kesejahteraan masyarakat. Diakhir acara, talkshow ini ditutup dengan peluncuran majalah Clapeyron vol.64 yang mengusung judul Skema Logistik Indonesia Demi Pertumbuhan Ekonomi. 

Reporter : Yustika, Nurlita
Editor : Zakiyya 
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar