UMY dan Polemik Atribut Wisuda

Sumber : Dokumen Pribadi

Nuansa Online – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta kembali mendapat sorotan. Tidak hanya dari mahasiswa UMY, melainkan juga mahasiswa dari kampus lain mengenai model baru atribut wisuda periode September 2019 dengan topi segi delapan yang dianggap tidak biasa.

Beragam tanggapan mengenai atribut wisuda tersebut, ada yang merasa biasa saja, namun ada juga yang merasa aneh. Hal itu tentu saja tidak semerta-merta diterima oleh calon wisudawan. Tidak sedikit dari mereka merasa sedih karena pada momen bersejarahnya harus menggunakan topi dengan desain yang tidak biasa itu. Bagi mereka –calon wisudawan-, perjuangan dan biaya yang telah digelontorkan selama kuliah harus ditutup dengan momen bahagia. Akibatnya muncul polemik antara calon wisudawan dengan pihak kampus atas desain atribut tersebut.

“Sebenarnya ide dari kampus dengan inovasi toga menarik sih, karena mungkin kampus ingin memperkenalkan bahwa UMY mempunyai baju toga yang berbeda. Untuk mahasiswa mungkin sebenarnya hanya takut ditertawakan oleh kampus lain. Padahal menurutku bisa dijadikan kenangan yang lucu dan untik,” ungkap salah satu calon wisudawan yang tidak ingin disebutkan namanya.

Kamis (5/9) tim Lembaga Penerbitan dan Pers Mahasiswa (LPPM) Nuansa UMY berhasil mendapatkan konfirmasi langsung dari Wakil Rektor Bidang Akademik Dr. Sukamta, S.T., M.T. via Whatsapp.

“Seharusnya ada produk dummy dulu di acc pimpinan universitas baru kemudian diproduksi massal. Karen ternyata hasil produk tidak sesuai dan ada yang sudah sampe ke tangan wisudawan,” ungkap Dr. Sukamta melalui pesan Whatsapp

Pihak Universitas Muhammadiyah Yogyakarta telah mengakui kesalahan prosedur dalam produksi. Dr. Sukamta menganngap bahwa seharusnya produk yang diterima sesuai dengan desain yang dibuat. Tanpa menyalahkan pihak manapun, pimpinan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menyadari bahwa urusan sensitif dan strategis seperti ini memang menjadi pelajaran yang sangat berharga.

Dr. Sukamta menuturkan bahwa desain topi segi delapan tersebut mewakili visi dan misi dari UMY sendiri. Yakni unggul, berkarakter islami, bermanfaat untuk umat bangsa serta kemanusiaan.  Beliau merasa bahwa sesuatu yang baru selalu menimbulkan pro kontra dan hal itu merupakan hal yang wajar bagi beliau. Namun beliau juga sadar bahwa dari respon para mahasiswa beliau tau apa yang dipikirkan oleh mereka dan beliau merasa bangga punya mahasiswa yang kritis.

Akibat polemik tersebut, pihak universitas harus menghentikan sementara produksi atribut wisudawan serta membatalkan penggunaan atribut yang telah diterima oleh sebagian calon wisudawan. Rencananya, pihak Universitas Muhammadiyah Yogyakarta akan mengganti atribut tersebut dengan versi lama yakni segi lima. (AR,MWS)




Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar