RKUHP dianggap Tidak Masuk Akal : Siswa SMK Turun ke Jalan

Sumber : Dokumen Nuansa

Nuansa Online - Demonstrasi bukan hak milik, ia boleh di ikuti oleh siapa saja, dari berbagai jenis kalangan.  Di bawah panasnya terik matahari, ribuan aksi massa yang terdiri dari mahasiswa, pelajar dan masyarakat sipil kembali hadir dalam aksi #GejayanMemanggil setelah sepekan sebelumnya menggelar aksi serupa. Aksi ini dikomandoi oleh Aliansi Rakyat Bergerak.
Berdasarkan pantauan LPPM Nuansa, sekitar ratusan pelajar SMA / SMK turut serta meramaikan aksi #GejayanMemanggil jilid 2 pada Senin (30/9)  di sepanjang Jalan Colombo-Gejayan, Yogyakarta.
Para pelajar tampak antusias mengikuti aksi ini, bahkan mereka rela absen dari bangku sekolah demi ikut menyuarakan keresahan. Keresahan yang juga dirasakan oleh peserta aksi lainnya. Beberapa dari mereka dengan sengaja mengenakan seragam putih-abu-abu. Sebagai simbol perlawanan, ini sekaligus tamparan bagi mahasiswa yang izin kuliah untuk demonstrasi.
Ilham, salah satu peserta aksi yang berasal dari SMK 2 Pengasih, Kulon Progo mengaku bahwa ia hadir atas dasar panggilan hatinya. Ilham menceritakan kekhawatirannya terhadap pasal-pasal yang  ia anggap bermasalah dalam Rancangan Undang-Undang Hukum Pidana ( RKUHP ).
 “Sebenernya saya datang untuk mendukung apa yang telah dilakukan kakak-kakak mahasiswa,  juga karena RKUHP ini dirasa terlalu merugikan.  Lha wong bapak saya itu punya ayam banyak, nanti kalau jadi disahkan kan kasihan bapak saya harus jual rumah buat bayarin ayam yang main ke rumah tetangga,” ungkapnya.
Yang dimaksud oleh Ilham tertuang dalam pasal 287 bunyinya :
” Setiap Orang yang membiarkan unggas yang diternaknya berjalan di kebun atau tanah yang telah ditaburi benih atau tanaman milik orang lain dipidana dengan pidana denda paling banyak Kategori II (maksimal Rp 10 juta).” 
Sama halnya dengan Ilham, rekannya yang bernama Gilang juga memaparkan alasan mengapa ia hadir dalam aksi tersebut. Menurutnya beberapa pasal dalam RKUHP tidak  masuk akal.
“Saya itu punya ayam, selain itu ada juga mentok . Tetangga saya di kampung  juga punya pekarangan. Kalau ayam saya ga sengaja main gimana, bisa aja kan dia laporin, nanti saya bisa jual rumah.  Nah kan itu tidak masuk akal. Hewan kan nggak tau apa-apa, kok dimasukkan ke undang-undang segala.” Ujar Gilang ketika diwawancarai LPPM Nuansa.

Reporter : Naila Salma, Sri Fatimah
Editor  : Gigih Imanadi

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar