Sisi Lain #GejayanMemanggil Jilid 2

Sumber : Dokumen Nuansa

Nuansa Online - Ribuan masa aksi yang terdiri dari mahasiswa, pelajar, buruh, dan warga sipil kembali penuhi seruan unju rasa #GejayanMemnggil jilid 2 pada Senin (30/9) di Jalan Gejayan, Yogyakarta. Masa aksi dengan 2 titik kumpul yakni di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA) dan Universitas Gajah Mada (UGM) melakukan longmars dan bertemu di pertigaan Colombo pukul 13:56 Wakktu Indonesia Barat.
Layaknya aksi pada umumnya, penyampaian orasi beserta yel-yel tiap rombongan Universitas adalah hal yang lumrah. Namun, ada beberapa kejadian yang dapat menjadi perhatian selama aksi berlangsung. Salah satunya adalah kostum yang digunakan oleh komunitas Sewonderland, yakni dengan pakaian bertajuk kesenian.
“Kita respon politik melalui cara kesenian.Baju yang saya pakai dan celana yang dipakai Cuma ini doang, ada lebih dari 10 orang yang memakai baju dengan kesenian ini”ujarAskal, salah satu anggota komunitas Sewonderland.
Tak hanya dari Sewonderland, mahasiswa Program Studi Agroteknologi Universitas Mercu Buana yang membagiakan bibit cabai pada seluruh masa aksi #GejayanMemanggil. Menurut Arif, pemberian bibit ini dilakukan sebagai wujud kepedulian dan harapan terhadap sector pertanian di Indonesia.

SUmber : Dokumen Nuansa

Cuaca Yogyakarta yang panas tak menyurutkan semangat masa aksi dalam menggunakan haknya sebagai warga negara demokrasi. Hal inilah yang menjadikan beberapa relawan  memberikan air mineral dan makanan secara gratis kepada masa aksi. 
“Tujuan kita untuk membantu aksi dalam hal logistik seperti air mineral, untuk relawan ada 20 orang membagikan air mineral gratis, dan ada sekitar 89 kardus air mineral gratis yang di bagikan ke masa aksi,” ujar salah  satu seorang relawan HamkaDarwis.
Yang tak kalah menarik, seorang pedagang Es Cincau memberikan kritikannya atas keterlambatan agenda #GejayanMemanggil Jilid 2. Dalam poster yang tersebar di sosial media, batas kumpul masa aksi adalah pukul 08.30 Waktu Indonesia Barat, kemudian dilanjutkan longmars mulai pukul 11.00 menuju pertigaan Colombo. Namun berdasarkan pantauan tim LPPM Nuansa pada pukul 12:37 WIB lokasi panggung orasi masih terlihat sepi.
“Saya kecewa dengan mahasiswa. Seharusnya demonyapas panas-panasnya gini. Jadi dagangan saya cepat laku,” ungkapnya.
Sebelum pergi, pedagang Es Cincau yang takmau disebutkan namanya ini menambhakan bahwa kalau mahasiswa ingin merubah suatu sistem maka ia harus mengubah budaya terlambatnya itu terlebih dahulu.

Reporter          : Wilian Susilo, Ari Ramadhan
Editor              : Sri Fatimah

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar