Dibalik Kata “Istimewa” Yogyakarta

Sumber: Pemda DIY

Nuansa Online - Daerah Istimewa Yogyakarta adalah salah satu provinsi di Indonesia hasil metamorfosis dari Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Paku Alaman. Gelar istimewa yang dimiliki Yogyakarta didapatkan dari proses sejarah yang panjang dan kompleks. Dimulai dari masa sebelum kemerdekaan Indonesia sampai masa seteleh kemerdekaan. 

Sebelum Indonesia meredeka, Yogyakarta merupakan daerah yang memiliki pemerintahan sendiri atau disebut Daerah Swaparaja. Pada masa itu, Pemerintahan Hindia Belanda mengakui Kasultanan dan Pakualaman sebagai kerajaan yang memiliki hak mengatur cakupan wilayahnya sendiri secara keseluruhan yang dinyatakan dalam kontrak politik  Staatsblaad 1942 Nomor 47 (Kasultanan) dan Staatsblaad 1941 Nomor 577 (Pakualaman). Pada masa penjajahan, eksistensi keduanya telah mendapat pengakuan dari dunia internasional, Belanda, Inggris, dan Jepang. Bahkan ketika Jepang meninggalkan Indonesia, kedua kerajaan tersebut telah siap untuk menjadi sebuah negara sendiri.

Setelah diproklamasikannya Kemerdekaan Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII melayangkan surat kepada Soekarno sebagai presiden RI. Surat tersebut berisi bahwa Daerah Kasultanan Yogyakarta dan Daerah Pakualaman menjadi bagian dari RI, bergabung menjadi kesatuan wilayah yang dinyatakan sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Lanjutnya, Sri Sultan Hamekubuwana IX dan Sri Paku Alam VIII menjadi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang bertanggung jawab langsung kepada presiden RI. Hal ini tertulis dalam Piagam kedudukan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 19 Agustus 1945 dari Presiden RI dan amanat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 55 September dan 30 Oktober 1945.

Dalam sejarah perjuangan pergerakan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), DIY memiliki peran penting di dalamnya. Sejarah mencatat pada tanggal 4 Januari 1946 sampai dengan 27 Desember 1949 DIY pernah menjadi Ibu kota Negara. Tanggal 4 Januari inilah yang kemudian ditetapkan menjadi hari Yogyakarta Kota Republik pada tahun 2010. 

Keistimewaan DIY tercantum dalam UU Nomor 22 Tahun 1948, yaitu Kepala Daerah Istimewa diangkat oleh Presiden dari keturunan keluarga yang berkuasa di daerah itu dengan syarat kecakapan, kejujuram,  kesetiaan, dan mengingat adat istiadat yang berlaku di sana. Adapun keistimewaan Yogyakarta yang mempunyai hak-hak asal-usul, dan pada zaman sebelum Republik Indonesia telah memiliki pemerintahan sendiri yang bersifat istimewa. Saat ini keistimewaan DIY diatur dalam UU Nomor 13 Tahun 2012 yang berisikan perpolitikan, kelembagaan Pemerintah Daerah DIY, kebudayaan, pertanahan, dan tata ruang. Kewenangan istimewa ini terletak pada tingkat provinsi.

Lebih dari itu, secara implisit keistimewaan Yogyakarta sesungguhnya terletak pada cara masyarakat beraktivitas dan bersosialisasi antar sesama. Nilai-nilai kebudayaan yang masih sangat melekat di dalam kehidupan keseharian masyarakatnya menjadikan Yogyakarta salah satu destinasi utama wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia. Hal tersebut dikarenakan selain wisata alam, para turis juga menyukai wisata budaya, terlebih Yogyakarta masih merawat nilai kebudayaannya dengan baik.

Selain itu, Yogyakarta juga menjadi kota tujuan bagi pelajar-pelajar lulusan setingkat SMA yang ingin melanjutkan pendidikannya ke tingkat lebih lanjut yaitu ke perguruan tinggi. Yogyakarta merupakan rumah bagi ribuan pelajar dari seluruh daerah di Indonesia yang ingin menaikkan taraf pendidikannya. Yogyakarta memiliki perguruan-perguruan tinggi yang bagus dan terkenal. 

Semua keistimewaan yang dimiliki Yogyakarta tidak lain tidak bukan adalah berasal dari masyarakat Yogya itu sendiri, nilai-nilai budaya yang masih diberlakukan sampai saat ini merupakan sebuah refleksi bahwa gaya sosial Post-modern tidak kalah dengan gaya-gaya sosial yang modern yang berlaku di kota-kota besar lain. Yogyakarta menunjukkan eksistensinya sebagai provinsi yang kaya akan nilai budaya di tengah-tengah tren globalisasi saat ini.

Reporter: Lautan Hesychia
Editor: Sa'idatuz Zakiyah
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar