Memupuk Kepedulian Mengurangi Kerusakan Lingkungan

Sumber: Pinterest.com

Nuansa OnlineFenomena yang belakangan terjadi sangat memprihatinkan, tak hanya merusak ekosistem, tetapi juga mengancam kehidupan manusia. Fenomena tersebut adalah kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan di Indonesia makin hari kian parah.

Kerusakan lingkungan dapat diartikan sebagai proses deteriorasi atau penurunan mutu (kemunduran) lingkungan. Deteriorasi lingkungan ini ditandai dengan berkurangnya fungsi sumber daya tanah, air, udara, punahnya flora dan fauna liar, yang berakibat pada kerusakan ekosistem.


Kerusakan lingkungan dapat memicu terjadinya bencana alam. Adapun  bencana alam itu sendiri biasanya disebabkan oleh dua faktor. Pertama, faktor alam dan yang kedua, faktor perbuatan manusia. Keduanya merupakan hubungan sebab akibat, misalnya saja lingkungan yang tidak terawat: menumpuk sampah, membuang sampah industri di sungai, menebang pohon, dan semisalnya dapat memicu terjadinya banjir.


Contoh kasus di atas adalah fenomena alam yang diakibatkan ulah manusia. Seperti halnya yang dapat kita rasakan dalam lingkup universitas tempat kita menimba ilmu ini, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Betapa kurangnya drainase atau daerah resapan air di area kampus. 


Bisa dilihat ketika hujan turun, banyak sekali genangan air yang tidak terserap ke tanah. Hal tersebut, jika dibiarkan dan dengan intensitas hujan yang tinggi, bukan tidak mungkin dapat memicu terjadinya banjir. Selain sistem drainase yang buruk, pembangunan gedung-gedung baru  juga menjadi persoalan lain, yang boleh jadi ikut menyebabkan adanya genangan air. Hal tersebut ditandai oleh ruas jalan di area kampus yang menjadi kotor bahkan rusak.


Perilaku yang menggambarkan tidak ramah lingkungan lainnya datang dari mahasiswa. Beberapa mahasiswa terlihat melanggar aturan mengenai pasal tidak bolehnya merokok di area kampus. Bukan sekedar merokok, puntung rokoknya pun dibuang sembarangan. Padahal itu berbahaya, dapat memicu terjadinya kebakaran. Selain itu, puntung rokok merupakan sampah yang susah terurai, akibatnya lingkungan tercemar.


Dalam skala nasional, Jakarta adalah contoh terbaru dari kerusakan lingkungan. Air yang tinggi di Jakarta menunjukan pada kita, betapa persoalan hidup menjadikan manusia berperilaku kurang bijak. Sebutlah kebiasaan buang sampah sembarangan di sungai. 
Selain itu, badan sungai yang harusnya menjadi tempat air mengalir, justru dibangun rumah-rumah. Sehingga ketika hujan turun, warga kerapkali kerepotan. Hal tersebut semakin diperparah dengan tata ruang kota yang sudah salah sejak zaman penjajahan Belanda.

Fenomena kerusakan lingkunan dan bencana alam lainnya, juga dirasakan negara tetangga, Australia. Baru-baru ini negeri Kanguru itu merasakan kebakaran hutan yang dahsyat. Kebakaran hutan itu dipicu oleh naiknya suhu global rata, alias musim panas yang berkepanjangan. 
Pemanasan suhu itulah yang memperbesar kobaran api, akibatnya hutan dan ekosistem di dalamnya yang harus menanggung.  Hampir 50% populasi flora dan faunapun lenyap.

Berkaca pada kejadian-kejadian di atas, kita sebagai generasi muda penerus bangsa, tidak bisa tidak, dan harus peduli juga mencintai lingkungan.  Banyak cara yang dapat dilakukan, tapi mari mulai dari yang kecil-kecil, bisa dengan membuang sampah pada tempatnya, membersihkan lingkungan sekitar setiap hari, mengkampanyekan gerakan untuk tidak merusak lingkungan, melakukan reboisasi, dan banyak pilihan bijak lainnya.


Reporter: Talita Rahma

Editor : Gigih Imanadi
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar