Orbituari Tommy Apriando: Ingatan dan Bayang-Bayang Kematian

Sumber: Dokumen Nuansa

Oleh: Gigih Imanadi Darma

Setelah memperkenalkan diri seadanya, tentu dengan sedikit bumbu kelakar.

Pernahkah kalian jadi penanggap dalam satu forum diskusi? Karena pematerinya bagus dan membuat kalian ingat dengan sejumlah hal. Akhirnya kalian putuskan untuk melempar pertanyaan.

Saya pernah. Sewaktu Equilibrium, pers mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis UGM mengadakan diskusi publik, Oktober yang lewat, tema besarnya tentang media, kalau ingatan saya tidak khianat.

Waktu itu, saya jadi penanya, yang memantik diskusi adalah mas Tommy Apriando, belakangan saya tau dia jadi orang penting, dalam pembuatan film dokumenter Sexy Killer, pemasok data kalau tidak salah. Watchdog documentary selayaknya berterimakasih.

Sekira 3 meter dari tempat duduk mas Tomy, sisi kiri panggung, ada mas Akhmad Khadafi, kawan lamanya sewaktu aktif di pers kampus. Redaktur di mojok.co, yang juga sebagai pemantik diskusi.

Saya ingat, usai pemaparan, saya menanyakan pendapat mas Tommy tentang konglomerasi media, arah pemberitaan dan kaitannya dalam menghasilkan produk jurnalistik yang remeh temeh.

Mas Tommy menjawab dengan baik sekali. 

Karena itulah, membuat saya niat untuk menyambung diskusi lanjutan, mengingat latar pekerjaan mas Tommy yang dekat dan mudah dijangkau oleh kami mahasiswa Jogja, saya jadi terpikirkan, semacam ingin menggelar kegiatan serupa dengan kawan-kawan di pers kampus.

Usai acara, di parkiran kendaraan, saya bertemu lagi dengan mas Tommy.

Mengajaknya berfoto, sebentar kemudian berbincang, menjajak kemungkinan untuk mengundangnya sebagai pembicara, fasilitator, pengisi forum atau apalah sebutan yang pas, dilain diskusi, atau pelatihan menulis.

"Kebetulan saya di Nuansa Mas"

"Oh Nuansa... nanti kontak aja gampang kok. Main-main juga ke kantor kita, deket! "

Timpal mas Tommy dengan senyum di wajah.

Saya pamit, bunyi klakson motor dua kali jadi pengiring terakhir jelang Isya waktu itu.

****

3 bulan setelahnya. Saat hari dimana matahari belum menyentuh benar kulit. Separuh waktu saya habiskan di atas kasur, beranjak hanya untuk membasuh wajah yang kusut.

Kemudian gorengan, sprite, nasi telor dan mentega, dan kipas angin dan lima buku yang berserakan.

Dan gawai yang kemudian melemparkan pada ingatan: laman Facebook saya memunculkan nama mas Dandy Laksono, hati saya berderit ketika membaca keterangan mas Dandy.

Tiba-tiba saja kenangan diatas berkelebat. Saya tau, kesehatan mas Tomy menurun. 96 jam sebelum hari ini, ia menggungah fotonya, tengah berada di rumah sakit.

Tapi sedikit pun tak menduga, akan berujung seperti ini.  Di Facebook, ia sempat bercanda waktu itu, " empat hari lebih terkapar. Akhirnya diperbolehkan pecicilan lagi sama dokter."

Kepergian mas Tommy, membuat saya ingat dengan seloroh orang-orang tua Kolanus dalam lakon Sofokles Oedipus at Colanus, tentang urut-urutan nasib yang menimpa manusia. Mulai dari yang terbaik sampai yang paling sial: tidak pernah dilahirkan sama sekali, mati muda, dan hidup sampai tua.

****

Hari ini mas Tommy berpindah dimensi, padahal saya belum ngopi bareng dengan beliau. Meskipun mati muda, terlalu banyak kebaikan yang beliau bikin untuk hidup nya yang ternyata singkat.

Sementara diluar, dinding bercat kuning dan daun pintu mulai saya biarkan terbuka begitu saja. Cahaya masuk, tapi matahari sedikit mulai beringsut ke Barat. Dan hujan mulai jinak. Ya, langit Jogja berair hari ini. Deras sekali.

Barangkali Tuhan dengan sengaja mengirim hujan untuk melepas kepergian, menyuburkan tanah yang menanam mu, mas.

Sebuah fragmen yang mirip tapal pemisah antara hidup saya yang begini-begini saja, dengan dunia luar yang lembab, hampir gelap, dengan suara cericit kegelisahan burung-burung.

Sementara itu, ada bayang-bayang hitam, di depan pintu, seperti hendak mengetuk dan singgah di kamar saya yang pengap. Tetapi suara adzan Isya lebih dulu menyeruak masuk.

Mengingatkan saya pada suara adzan, di waktu yang sama ketika saya dan mas Tommy saling pamit untuk melanjutkan kegiatan masing-masing.

***

Saya bersaksi, semasa hidupnya beliau adalah orang baik. Surga terbuka lebar untuk orang-orang yang membela kaum Mushtadh' afin seperti beliau.

Mushtadh' afin dalam hak politik, hukum, ekonomi. Apalagi beliau yang mencintai lingkungan dengan serius.

Selamat jalan. Selamat menjawab pertanyaan malaikat dengan mantap, mas. Kita ketemu lagi nanti. Mari janjian untuk ngopi bareng.

Ketua Asosiasi Jurnalis Independen Yogyakarta dan Jurnalis sekaligus pegiat lingkungan di Mongabay.

Kau yang menetap dalam ingatan : Tommy Apriando. (10 April 1989-2 Februari 2020)

Al-fatihah....

Tabik.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar