Pengamen Angklung Tak Dapat Dipandang Sebelah Mata


Sumber: Dokumen Nuansa

Nuansa Online
- Sepanjang jalan Malioboro kerap kali ditemui banyak pengamen angklung jalanan. Mereka mengamen untuk mencari nafkah untuk dirinya sendiri ataupun keluarga. 
Namun banyak orang yang melihat profesi seorang pengamen ini dengan sebelah mata. Hal ini tidak membuat Kumbiyono Udi Sumarto atau biasa dipanggil Pak Udi, berkecil hati dan pesimis. Dalam kesehariannya, pria asli Kulon Progo ini berprofesi sebagai pengamen Angklung di Malioboro. Diumurnya yang bahkan sudah tidak muda lagi yang mana telah menginjak 50 tahun, tidak menyurutkan niatnya untuk selalu bekerja keras demi memenuhi kehidupan finansialnya lewat melestarikan musik tradisional asal sunda.

Pak Udi telah melakoni profesi sebagai pengamen Angklung di Malioboro ini selama kurang lebih 30 tahun. Beliau biasa memulai pekerjaannya dari jam 14.00 WIB sampai dengan 19.00 WIB. Beliau melakoni profesi ini semata-mata untuk menghidupi keluarga dan juga menyekolahkan anaknya. Dari hasil jerih payah beliau selama mengamen ini, beliau dapat menyekolahkan kedua anaknya hingga lulus bangku perkuliahan.

“Alhamdulillah untuk makan sehari-hari saya cukup dengan uang dua belas ribu rupiah. Walaupun saya pengamen, saya ingin anak lebih dari saya.” ujar Pak Udi.      
    
Sebelum menjadi pemain angklung jalanan, beliau sempat menekuni profesi sebagai pemain band Campursari di daerah asal beliau. Namun seiring dengan perkembangan selera musik masyarakat milenial, musik tradisional sudah tidak lagi sepopuler dulu. Hal ini dikarenakan faktor ekonomi yang harus dipenuhi setiap harinya. Beliau merasa bahwa hanya dengan menjadi pemain band campursari tidak memfasilitasi ekonomi keluarga beliau.

Akhirnya Pak Udi mengganti profesi pekerjaannya dengan menjadi seorang tukang parkir. Kebutuhan sehari-hari beliau memang tercukupi, namun sisi lain dari dirinya merasa ingin bermain musik lagi. Beliau menuturkan bahwa dirinya sangat menyukai musik, sehingga ia lebih memilih menjalani pekerjaan sesuai dengan apa yang ia sukai. Beliau memutuskan untuk menjadi musisi jalanan dengan selalu membawa angklungnya kemana-mana dan memprioritaskan hobinya menjadi sesuatu yang bisa menghasilkan uang.

Berkat kerja keras beliau hingga saat ini, anaknya sudah sukses menempuh karirnya hingga merantau ke Jakarta. Beliau juga menuturkan kabar bahagia bahwasannya sebentar lagi anak beliau akan segera menikah. Hal ini tentunya menjadi momen bahagia yang diimpikan oleh setiap orang tua. Sayangnya istri beliau tidak sempat untuk menyaksikan momen kebahagiaan ini dikarenakan telah dipanggil oleh Sang Maha Kuasa terlebih dahulu tepatnya 14 tahun yang lalu. Walaupun kepergian istrinya meninggalkan luka yang dalam, tetapi hal ini tidak mengurangi rasa bahagia beliau akan pernikahan anaknya yang tinggal menghitung hari. Pak Udi memiliki pendirian dalam hidupnya bahwa selama ia masih kuat untuk bekerja, beliau akan terus bekerja karena prinsipnya

“Yang penting kita usaha, masalah rejeki Tuhan sudah mengatur.” ujar Pak Udi.

Sebagai seseorang yang menginsipirasi dan berpegang kekeh dengan prinsip hidupnya tersebut, beliau memberikan pesan kepada kita sebagai anak muda penerus bangsa. Bahwa kita tidak sepatutnya mengambil yang bukan hak kita, serta keselamatan adalah hak paling di utamakan dalam menjalani kehidupan sebagai seorang manusia. Dari cerita kehidupan beliau ini, banyak hal yang dapat kita ambil hikmahnya dan dapat diimplementasikan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Selain itu dari beliau juga, kita dapat belajar minat seseorang jika diusahakan dengan sebaik mungkin dapat membuahkan keuntungan bagi diri kita sendiri.

Reporter: Yunita Awat, Annisa Zahra
Editor: Sa’idatuz Zakiyah

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar