Pengisian Kuisioner KRS, Masih Relevankah ?

Sumber: dragnsurvey.com

Nuansa Online
- Salah satu perbedaan yang menitik beratkan lembaga pendidikan negeri dengan swasta yaitu perhatian dalam hal jasa pelayanan di bidang apapun kepada stakeholder entah itu mahasiswa, pegawai, staff, maupun masyarakat sekitar. Begitu pula Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang terkenal sebagai salah satu universitas swasta bergengsi di Yogyakarta.  Dalam konteks ini mahasiswa yang menjadi pengguna langsung segala bentuk pelayanan yang disediakan kampus berupa kompetensi dosen, pelayanan biro-biro hingga karyawannya.


Demi terwujudnya perbaikan dan evaluasi segala aspek pelayanan yang disediakan kampus, maka Biro Akademik mengadakan penjajakan pendapat mahasiswa tentang tingkat kepuasan mahasiswa dalam merasakan pelayanan tersebut. Salah satunya dengan pengisian kuisioner yang dicantumkan setelah login KRS (Kartu Rencana  Studi) dan wajib diisi setiap mahasiswa pada awal memasuki semester baru. Meskipun sudah login, terkadang mahasiswa tidak dapat menuju lama selanjutnya sebelum semua kuisioner terisi. Harapannya dengan ini penilaian tentang kepuasan pelayanan di kampus terlaksana semua. 

Pengisian kuisioner sebagai pengganti kotak suara ditujukan sebagai penjajakan pendapat dan penilaian mahasiswa. Sejauh ini terpantau data kuisioner aman, data yang ditindaklanjuti ialah data ekstrim yang mayoritas kelas mengatakan tidak setuju. Sebenarnya, penggunaan kuisioner ini mempunyai beberapa kelebihan yaitu untuk mengikuti perkembangan zaman dengan menggunakan kecanggihan teknologi, paperless dan juga untuk mempermudah pembuatan grafik perhitungan tingkat kepuasan mahasiswa. Tetapi, kelemahannya kuisioner ini tidak bisa menjangkau semua mahasiswa secara menyeluruh. Beberapa mahasiswa berpendapat bahwa tidak ada perubahan yang signifikan setelah mengisi kuisioner tersebut, baik dari segi kompetensi dosen, fasilitas maupun pelayanan
“Pengisian kuisioner ini hanyalah untuk menilai kompetensi dosen dan perayaan tahunan untuk para dosen dengan pemberian penilaian. Sehingga yang terbaik akan mendapat reward, namun sampai saat ini pengaruh kuisioner belum secara signifikan dirasakan. Buktinya bagi dosen yang kurang kompeten tidak melakukan perbaikan sikap.” Ungkap Hizbah, salah satu mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam.

Failasuf, salah satu mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi menyampaikan kekecewaannya terhadap sistem pengisian kuisioner ini. Ia mengira bahwa setelah diisi kuisionernya akan ada ucapan terimakasih dari dosen atau karyawan kemudian ada perubahan. Namun kenyataannya tidak, bahkan hal ini tidak pernah disinggung oleh dosen sedikitpun.

“Pengisian kuisioner ini tidak efektif untuk mahasiswa yang malas membaca mereka cenderung mengisinya secara ngawur.” Ujar Rivaldi Darmawan, mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam.

Menurut pimpinan Biro Akademik, Heru Sukamto, tujuan dari pengisian kuisioner ini untuk mengevaluasi terkait tingkat kepuasan mahasiswa atas segala pelayanan kampus. Beliau selaku Kepala Biro Akademik menjawab keluh kesah mahasiswa atas pilihan tertutup pada kuisioner dan menjangkau kritis mahasiswa, pengaduan inspirasi dan aspirasi mahasiswa melalui “Public Hearing”. Dalam Public Hearing tersebut diadakan pertemuan dosen dengan mahasiswa beserta dekan untuk mendengar kritikan dari mahasiswa secara tatap muka. Selain itu, mahasiswa dapat melaporkan dosen yang bermasalah ke Kaprodi (Kepala Progam Studi) atau menyampaikan keluhan secara langsung ke dosen yang bersangkutan. Public Hearing ini ada ditingkat universitas, fakultas, dan juga beberapa prodi. Pada tingkat universitas acara ini dilaksanakan oleh DPMU, di tingkat fakultas oleh senat atau BEM, dan di tingkat prodi oleh HMJ.

Reporter: Rizky Febi & Anisah Wening
Editor: Sa'idatuz Zakiyah

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar