Bumi Sudah Tua, Manusia Semakin Acuh

Sumber: hipwee.com



Nuansa Online - Lebih buruk, jauh lebih buruk, daripada yang anda pikirkan. Perubahan iklim yang lambat itu cuma dongeng, barangkali sama melenakannya dengan dongeng yang menyatakan perubahan iklim tak terjadi sama sekali, dan terikat dengan beberapa dongeng lain dalam bunga rampai delusi yang membius: bahwa pemanasan global adalah masalah di Artika, terjadi di tempat yang jauh; bahwa pemanasan global hanya masalah tinggi permukaan laut, bukan krisis yang melingkupi semua tempat tanpa terkecuali dan memengaruhi semua bentuk kehidupan; bahwa pertumbuhan dan teknologi yang diproduksi akan memperkenankan kita merekayasa jalan keluar dari bencana lingkungan; bahwa pernah ada ancaman yang sebesar atau seluas ini dalam rentang sejarah manusia sehingga kita berpengalaman menghadapinya.

Semua itu tidak benar. Kita sekarang menambah karbon ke atmosfer seratus kali lebih cepat daripada kapanpun dalam sejarah manusia sebelum awal industrialisasi. Dan kini sudah ada sepertiga lebih banyak di banding kapan pun dalam 800.000 tahun terakhir—barangkali 15 juta tahun terakhir.Ketika itu belum ada manusia, dan permukaan laut lebih tinggi tiga puluh meter. Maka dari itu, manusia tidak akan sanggup menghadapi beban moralnya—perubahan iklim akibat industrialisasi yang dimulai di Inggris pada abad ke-18.

Sebenarnya mengetahui akhir dunia dengan tepat itu bukanlah sebuah hiburan. Namun manusia sudah sering bercerita mengenai akhir dunia, selama ribuan tahun, dan dengan hikmah dari berbagai cerita kiamat yang terus berubah. Namun kini kita malah menanggapi para ilmuwan yang menyampaikan seruan kekhawatiran atas planet ini seolah-olah mereka menakut-nakuti tanpa dasar. Hari ini, film-film mungkin memberi gambarannya, tapi dalam hal memikirkan bahaya pemanasan global di dunia nyata, kita mengalami kegagalan imajinasi yang luar biasa—barangkali karena berharap hari-hari akhir menjadi “fantasi” saja. Game of Thrones jelas-jelas dibuka dengan ramalan iklim, memperingatkan “musim dingin akan datang”; premis Interstellar adalah bencana iklim, tapi ternyata berupa penyakit tanaman; Mad Max: Fury Road berlatar panorama pemanasan global, kisah dunia yang menjadi gurun; tokoh utama The Last Man on Earth dijadikan orang terakhir di Bumi karena virus. Di banyak film zombie pada era keresahan ekologi ini, para zombie selalu digambarkan sebagai kekuatan asing, bukan endemik. Bukan sebagai kita sendiri.

Dalam esai sepanjang buku The Great Derangement, novelis India Amitav Ghosh bertanya-tanya mengapa pemanasan global dan bencana alam belum menjadi subjek utama fiksi kontemporer, mengapa kita tampak belum memadai dalam membayangkan bencana iklim di dunia nyata, mengapa fiksi belum membuat bahaya pemanasan cukup “nyata” bagi kita, dan mengapa kita belum punya serangkaian novel dalam genre yang dia bayangkan keberadaannya dengan nama “keanehan lingkungan”.

Semua itu karena manusia makin acuh pada bumi—inangnya, manusia seakan-akan lupa diri, manusia mengganti kodratnya dari pemimpin di muka bumi menjadi benalu bumi, manusia mengabaikan nilai-nilai luhur pro-bumi seperti yang terdokumentasikan dalam film Semesta dan karya-karya dokumenter National Geographic. Sudah sepatutnya kita menjadi khalifah di muka bumi seperti yang tersurat dalam Al-Qur’an, kitab suci umat Islam. Bukan bermaksud untuk mensinkretisasi khalayak dengan ajaran Islam—untuk yang lebih moderat, taruhlah kepercayaan pada ilmuwan-ilmuwan, mulailah hidup ramah lingkungan, kita bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup generasi berikutnya. Hidup Bumi!



Sumber Artikel:
-Jessica Blunden, Derek S. Arndt, & Gail Hartfield, ed., “State of the Climate in 2017,” Bulletin of American Meteorological Society 99, no. 8 (Agustus 2018)
- Rob Moore, “Carbon Dioxide in the Atmosphere Hits Record High Monthly Average,” Scrrips Institution of Oceanography (Mei 2018)
- E. Ann Kaplan, Climate Trauma: Foreseeing the Future in Dystopian Film and Fiction (Rutgers University press, 2015)
- Amitav Ghosh, Climate Change and the Unthinkable (University of Chicago Press, 2016)


ReporterLautan Hesychia Hayes Usha

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar