Titin Resiana, Relawan Kemanusiaan Garda Depan UMY

Sumber: Dokumen Pribadi

Nuansa Online – Penyebaran pandemic Covid-19 yang kian bertambah setiap harinya berdampak pada pemberlakuan Work From Home (WFH) di tiap instansi, salah satunya adalah instansi pendidikan. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pun turut serta memberlakukan sistem kuliah online sejak pertengahan Maret 2020. Meski demikian, proses pelayanan mahasiswa masih berjalan meski adanya pembatasan.

Demi pencegahan protokol keamanan dan kesehatan, UMY kemudian mengajak mahasiswa untuk menjadi relawan penanganan yang kemudian disebut sebagai Relawan Siaga Covid-19 UMY. Anggota relawan sendiri berasal dari perwakilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Lembaga Mahasiswa (LM). Dibagi dalam dua shift, anggota relawan ini bertugas untuk mengecek suhu tubuh setiap orang yang akan masuk ke dalam kampus UMY.

Salah satunya, Titin Resiana mahasiswa Program Studi Agribisnis UMY yang turut serta menjadi anggota Relawan Siaga Covid-19 UMY. Titin, begitu ia disapa merupakan mahasiswa asli Sumatera Selatan. Ia menjadi salah satu mahasiswa yang memutuskan untuk tetap tinggal di Yogyakarta meski penyebaran virus Covid-19 terus meningkat. Berbekal rasa ingin bermanfaat untuk sesama dan dukungan keluarga, Titin mengabdi untuk menjadi relawan skrining suhu tubuh orang lain di UMY.

“Saya emang sengaja nggak pulang, bahaya. Saya tidak mau menambah penyebaran Covid-19 sampai kampung. Lagian kita kan sebenarnya tidak diperbolehkan pulang kampung dulu sampai kondisi aman. Jadi saya memutuskan untuk ambil bagian di relawan ini. Malah kalau jadi relawan kita pakai APD (Alat Perlindungan Diri) jadi lebih aman,” ungkap Titin.

Meski demikian, ia tak sepenuhnya menyalahkan bagi beberapa mahasiswa yang memutuskan untuk pulang kampung di tengah pandemi ini. Baginya, keputusan itu tergantung pada masing-masing pribadi. Ia melihat, bahwa mahasiswa dalam posisi bingung karena rasa takut dan panik. Sehingga banyak yang memutuskan untuk pulang kampung, meningat Yogyakarta juga sebagai salah satu lokasi penyebaran Covid-19.

Menskrining setiap orang yang akan masuk ke dalam kampus UMY nyatanya menjadi sesuatu hal yang baru bagi seorang Titin. Ia mengaku banyak kejadian unik selama ia bertugas.

“Jadi kan tugasnya ngecek suhu tubuh yang mau masuk, kalau lebih dari 380C nanti di screening riwayat penyakit. Terus di cek ulang, kalau sudah turun boleh masuk, kalau belum diminta pulang. Nah, selama ini banyak juga yang ngeyel, alasannya sering keluar masuk kampus. Beberapa karyawan UMY juga lama lama sering iseng nebak suhu tubuhnya sebelum dicek. Udah sok tahu duluan gitu,” tutur Titin.

Tak hanya itu, ia kerap menemukan orang yang rela menunggu suhu tubuhnya turun dalam durasi lama di posko siaga. Bahkan, tak jarang orang tersebut memutuskan pulang. Titin sendiri mengaku tidak mengetahui sampai kapan ia akan menjadi anggota relawan ini. Namun yang jelas ia telah memperoleh banyak manfaat. Salah satunya bahwa UMY tetap memperhatikan dan memberikan fasilitas kesehatan bagi para relawan. Bahkan ia menuturkan selalu mendapat arahan dan bimbingan langsung dari tenaga kesehatan.

“Pesan saya tetap stay safe, jangan kemana mana dulu. Manfaatkan waktu dengan bijak, kalau dibilangin jangan ngeyel,” tutup Titin.  

Reporter: Sri Fatima
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar