Kembali ke Fitri di Tengah Pandemi

Sumber: Kumparan.com

Nuansa Online - Bulan suci Ramadhan tahun ini kiranya sangatlah berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya, yang mana akses ibadah kita kali ini terbatas karena pandemi yang tak kunjung sirna. Mulai dari himbauan ibadah sholat tarawih di rumah, tidak melakukan i’tikaf di masjid, dan lainnya. Begitu pula dengan Hari Raya Idul Fitri kali ini, banyak tradisi-tradisi tahunan yang tak lagi diadakan melihat kondisi yang belum stabil. Mudik, takbiran keliling dan silaturahmi dari rumah ke rumah, merupakan contoh beberapa tradisi yang dilarang. Hal ini dimaksudkan guna mencegah penyebaran virus Covid-19.

Pandemi ini ialah ciptaan Allah juga, ia ada atas kehendak-Nya dan ditakdirkan untuk membersamai kita melalui bulan Ramadhan dan bulan Syawal ini. Terasa betul keimanan kita diuji selama pandemi, dari bagaimana manut tidaknya kita pada para ulama dan pemerintah juga bagaimana kita lebih mendekatkan diri kepada-Nya di tengah pandemi ini. Bagi diri yang selama Ramadhan lebih santai dari ramadhan tahun lalu itu artinya kita hanya menganggap Ramadhan karena euforianya.

Kita hanya merindukan kemeriahan selama di bulan itu dari mulai sahur yang diiringi suara sahut-sahutan seakan berlomba membangunkan kita, sholat tarawih berjamaah di masjid lebih banyak dari sholat lima waktu di bulan lain, buka puasa di setiap masjid selalu ramai tidak pernah absen jamaahnya, hingga segala macam takjil yang menarik perhatian kita untuk dibeli. Ternyata hanya itu yang dirindukan dari diri yang santai dan tidak semangat meraih pahala yang berlipat-lipat di bulan suci lalu. Tidak masalah sebenarnya dengan euforia yang ada di bulan Ramadhan karena itu juga termasuk keistimewaan dari bulan ini. Namun alangkah lebih baiknya kita juga paham esensi dari setiap perintah yang Allah beri kepada hamba-Nya.

Gema takbir berkumandang menandakan kita segera berpisah dengan bulan Ramadhan. Nampak sorot kekecewaan yang diri ini rasakan tentang betapa lalainya selama sebulan ini. Yang awalnya punya segala macam rencana untuk beribadah lebih banyak, nyatanya lemah sekali hanya karena pandemi. Al-Qur’an jauh dari target yang dikhatamkan, sholat tarawih di rumah bolong-bolong, sholat rawatib pun masih kober eling kalaupun sempat dan ingat.

Begitu pula pada 1 Syawal kemarin, hari Raya umat Islam sedunia. Hari dimana kita semua  bersuka cita merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Kita saling bermaaf-maafan kepada sesama sebagai ajang untuk saling silaturrahmi (menyambung rahim) kepada kerabat. Namun sayang, lebaran kali ini sama seperti hari-hari biasanya, sepi. Lagi-lagi karena pandemi Covid-19 ini yang mengharuskan kita tetap menjaga dengan memberi jarak untuk saling menyayangi. Meskipun daripada itu, perihal silaturrahmi dengan kerabat bisa dilakukan dengan kemudahan yang teknologi suguhkan.

Kita paham pasti orang tua rindu dengan anak-anaknya, nenek-kakek sepuh rindu dengan para cucu-cucunya yang tidak bisa mudik, silaturahmi kepada sanak saudara pun tidak bisa secara langsung bebas saat ini. Namun, kembali lagi pada esensi lebaran yang identik dengan bermaaf-maafan dan menyambung silaturahmi bisa dilakukan dengan media sosial yang disediakan untuk memudahkan kita. Mari kita bijak dalam menjalani apapun skenario yang Allah SWT beri pada kita dengan mencari esensi yang tersirat di dalamnya sehingga kita tidak salah kaprah dalam menjalani hidup di masa yang saat ini sedang rawan-rawannya. Tetap jaga kesehatan dan taati segala peraturan yang pemerintah dan ulama anjurkan.

Reporter: Rizky Febi W.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments:

  1. Walaupun pandemi namun semangat Ibadah tdk blh surut tentunya, justru kebalikanny, kita harus senantiasa meningkatkan Ibadah kita,karna pandemi ini harusnya benar2 dijadikan sebagai pelajaran yg sangat2 berharga.Mksh mb.Wul teruslah berkarya✊

    BalasHapus