Apa Kita Sudah Siap dengan Pemberlakuan "New Normal"?

Sumber: Grid.id

Nuansa Online - Adanya wacana diberlakukanya “New Normal” atau dapat disebut dengan kelaziman baru menimbulkan banyak pro dan kontra dikalangan masyarakat. Munculnya kata “berdamai” dengan Virus Covid-19 sangat tidak tepat untuk keadaan yang sedang terjadi sekarang. Kata berdamai ini bermakna kita sebagai manusia mau tidak mau hidup berdampingan dengan virus ini ntah sampai kapan. Nyatanya, kata berdamai sebenarnya bermakna berhenti untuk saling bermusuhan dan berunding untuk menyelesaikan masalah. Yang mana dalam konteks Covid-19, hal ini tidak dapat direalisasikan. Bagaimana caranya kita dapat berkomunikasi dengan virus yang sangat teramat kecil fisiknya? Intinya, kata berdamai sangat tidak tepat penggunaannya untuk menanggapi pandemi ini. 
Di lain sisi, terjadi kontroversi terhadap pernyataan dari Menkopolhukam yaitu Mahfud MD yang mana menjadi sorotan oleh pemberitaan internasional. Terkait pernyataannya yang berbicara tentang  Covid-19 seperti istri yang awalnya dikontrol, namun lama-lama tidak dapat dikontrol dan kamu harus hidup dengannya. Sontak pernyataan kontroversial ini mengundang banyak perhatian dari berbagai kalangan. Seperti dari Komunitas Solidaritas Perempuan, menilai pernyataan Mahfud sangat mencerminkan sikap misoginis dan tak relevan dengan situasi pandemi Covid-19 yang dijadikan pembanding. 
Balik lagi dengan wacana new normal yang sedang digadang-gadang menjadi jalan akhir dari penanganan pandemi Covid-19. Berbagai macam kebiasaan yang harus mulai sekarang diterapkan seperti social distancing, melakukan kegiatan mencuci tangan dengan repetisi yang sering serta tidak lupa menggunakan masker baik untuk orang yang sakit, maupun yang sehat. Hal yang terkesan sulit ini sebenarnya adalah hal yang mudah untuk dilakukan oleh kita semua. 
Skenario new normal dalam pencanangannya masih banyak terjadi kebingungan dalam beberapa ketentuannya. Banyak terjadi kesalahpahaman dalam menyampaikan informasi terkait ketentuan bakal kebijakan yang akan segera dilaksanakan ini. Dari masyarakat sendiri, banyak yang tidak mengindahkan kebiasaan new normal ini. Padahal, keberhasilan new normal dapat dilihat dari seberapa taatnya masyarakat dalam menjalani kebiasaan-kebiasaan tersebut, yang tentunya akan kita laksanakan dalam kurun waktu yang dekat. 
Jika dilihat dari tingkat keberhasilan suatu peraturan yang ditetapkan, suatu peraturan lebih mudah ditaati jika ada punishment tertentu jika melanggar peraturan tersebut. Sama halnya dengan penetapan new normal yang akan kita lakukan, akan lebih baik jika ada punishment tertentu yang tentunya tidak lemah. Hal tersebut dirasa tepat untuk diterapkan, mengingat masyarakat Indonesia lebih menaati sebuah peraturan jika ada hukuman apabila melanggar sebuah peraturan. Adanya efek jera dalam menerapkan sebuah punishment dalam peraturan menambah nilai keberhasilan dalam sebuah perencanaan peraturan. 
Jika diterapkannya rencana pemberian punishment ini, diharapkan kurva penyebaran Covid-19 perlahan mulai menurun dan tentunya menekan angka kematian akibat pandemi Covid-19. Tentunya, jika kita sama-sama sadar akan pentingnya menerapkan segala hal yang berkaitan dengan ketetapan new normal, maka akan mempercepat menurunnya kurva penyebaran Covid-19. Serta perlu ditekankan lagi, sampai kapan kita akan egois demi kepentingan sendiri? Apa menunggu diri kita sendiri yang terinfeksi virus Covid-19?

Reporter: Annisa Zahra
Editor: Sa'idatuz Zakiyah

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar