Nilai-Nilai Pancasila: Tetap Absah atau Tinggal Sejarah?


Sumber: cdn-radar.jawapos.com
Nuansa Online – Pada 75 tahun silam, tepat tanggal 1 Juni, Soekarno menyampaikan pidatonya terkait rumusan dasar negara pada sidang BPUPKI. Kemudian tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari lahir Pancasila, dasar negara Indonesia. Sejak Indonesia merdeka, Soekarno berupaya agar Pancasila dapat diketahui oleh masyarakat luas. Dengan terus membicarakan Pancasila, Soekarno ingin agar falsafah negara ini dapat hidup di hati setiap individu. Pada saat peringatan hari lahir Pancasila tahun 1964, yang juga merupakan tahun pertama hari lahir Pancasila diperingati, Soekarno membuat slogan “Pancasila Sepanjang Masa”. Ini mengindikasikan harapan Soekarno agar Pancasila tetap menjadi dasar negara Indonesia dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat terus diamalkan oleh masyarakat. Namun, melihat kondisi dan perilaku masyarakat Indonesia di masa sekarang, apakah nilai-nilai Pancasila masih terjaga keabsahannya?

Sesuai dengan namanya, Pancasila mempunyai lima prinsip atau sila, dan dalam setiap sila terkandung nilai-nilai yang diharapkan dapat menjadi pedoman rakyat Indonesia. Pada saat perumusan Pancasila, tiga tokoh nasional yaitu Mohammad Yamin, Soepomo, dan Soekarno telah menyampaikan gagasan mereka terkait lima sila yang nantinya akan digunakan sebagai dasar negara. Dari setiap gagasan mereka, terdapat satu butir sila yang secara garis besar mempunyai karakteristik yang sama. Sila itu adalah sila persatuan atau integrasi bangsa. Ini menunjukkan isyarat dari para founding fathers yang menginginkan masyarakat bisa bersatu padu walaupun terdiri dari ribuan suku yang ada di Indonesia.

Namun, dalam perjalanan bangsa Indonesia yang sudah berada di tahun ke-75, seringkali terjadi insiden yang mencederai integrasi bangsa kita. Jika sudah berbicara mengenai kemanusiaan dan integrasi bangsa, isu yang tidak pernah basi untuk dibahas tidak akan jauh-jauh dari rasisme dan diskriminasi, seperti insiden yang terjadi baru-baru ini. Masyarakat dunia dibuat heboh karena tindakan rasis yang berujung kematian salah seorang warga di salah satu negara bagian di Amerika Serikat. Parahnya lagi, pelakunya merupakan seorang aparat yang secara fungsional bertugas untuk melindungi warga. Insiden ini pun sontak membuat geram seluruh masyarakat dunia, termasuk masyarakat Indonesia. Namun sepertinya, kehebohan ini tidak akan bertahan terlalu lama. Masyarakat cenderung cepat marah namun juga cepat melupakan. Tidak heran jika kasus yang sama dapat terjadi secara repetitif, karena tidak adanya solusi yang benar-benar konkret sehingga permasalahan tidak benar-benar terselesaikan. Tidak usah jauh-jauh ke Amerika, di Indonesia sendiri jika mau dirunutkan sudah sering terjadi tindakan rasis dan diskriminatif. Seperti kasus paling anyar yang terjadi tahun lalu saat mahasiswa Papua harus pasrah ketika tempat tinggal mereka dikepung dan mereka diteriaki sebagai hewan primata oleh sekelompok masyarakat di Jawa Timur.

Peristiwa tersebut sangat mencoreng nama baik hak asasi manusia dan juga bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, terutama pada sila kedua dan ketiga. Bukan hanya masyarakat Papua yang menjadi subjek dalam perlakuan rasis di Indonesia. Masyarakat adat secara umum seperti di Sulawesi dan Sumatera pun kerap mengalami perlakuan diskriminatif. Bahkan pemerintah secara tidak langsung ikut membentuk sikap diskriminatif ini dengan menyematkan embel-embel seperti masyarakat terpencil atau wilayah tertinggal. Pada akhirnya, ini mempengaruhi sikap masyarakat umum dalam menerima masyarakat adat. Padahal, jika merujuk pada sila kedua dari Pancasila, terdapat nilai-nilai luhur yang mengajarkan untuk mengakui persamaan derajat tanpa membeda-bedakan suku, agama, maupun warna kulit. Juga seperti yang terkandung dalam sila ketiga agar senantiasa menempatkan persatuan bangsa sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Masih banyak yang perlu dibenahi terkait dengan bagaimana masyarakat Indonesia semestinya bersikap jika menyesuaikan dengan nilai-nilai Pancasila. Belum selesai isu rasisme dan diskriminasi, isu seperti intoleransi pun kerap terjadi. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia secara umum belum mengamalkan nilai-nilai Pancasila seutuhnya. Pemerintah sendiri sudah membentuk Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang salah satu tugasnya adalah menjadi garda terdepan untuk membumikan Pancasila di tengah-tengah masyarakat, seperti yang disampaikan oleh Presiden. Namun hingga saat ini, kinerja BPIP seakan belum terasa signifikansinya di kehidupan masyarakat. Sebaliknya, BPIP sering mengeluarkan pernyataan yang kontroversial dan malah semakin memecah-belah kerukunan. Karena itulah, diperlukan kerjasama dari seluruh lapisan masyarakat agar Pancasila bisa tetap “hidup”, dan tidak menjadi sebatas fatamorgana yang semu.


Reporter: Ihsan Darmawan
Editor: Sa'idatuz Zakiyah
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar