Peran Universitas dalam Penanganan Kasus Pelecehan Seksual

Sumber: nasional.tempo.co

Nuansa Online - Kekerasan seksual terhadap perempuan di Indonesia masih menjadi hal yang dianggap remeh oleh masyarakat. Walaupun sekarang sudah banyak organisasi-organisasi yang menyuarakan suara perempuan mengenai kekerasan seksual namun masih banyak kasus yang tertutupi. Tak terkecuali di instansi pendidikan. 
Baru-baru ini terdapat berita seorang mahasiswa berprestasi yang melakukan pelecehan seksual terhadap kurang lebih 30 perempuan. Seorang alumnus UII dan juga penerima beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) berinisial IM. Ia berstatus sebagai mahasiswa magister di University of Melbourne. Dikenal sebagai pribadi yang baik dan agamis membuat banyak masyarakat yang tidak mempercayai bahwa ia merupakan pelaku kekerasan seksual. Bagaimana tidak, IM aktif di beberapa kegiatan keagamaan, diundang berceramah di masjid-masjid yang jamaahnya merupakan warga Indonesia di Australia, dan menjadi pembicara di beberapa seminar motivasi.
Kasus ini bermula saat terdapat dua orang  penyintas melaporkan IM ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jogja. Setelah itu kabar ini langsung tersebar melalui broadcast massage di Whatsapp Lembaga Dakwah Universitas Islam Indonesia. Setelah kabar ini tersebar banyak orang yang masih menganggap kasus ini tabu dan merupakan kasus yang biasa saja. Bahkan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) dari UII sendiri meminta untuk men-take down kasus IM ini. Kasus ini pun sebenarnya sudah ada sejak tahun 2018 tetapi baru ter-blow up akhir-akhir ini. Setelah adanya dua orang penyintas yang berani bicara muncul penyintas-penyintas lainnya yang berani untuk speak up melalui lembaga UII Bergerak. UII bergerak sendiri merupakan lembaga kampus yang ikut mengkampanyekan mengenai kekerasan seksual ini. 
Banyak penyintas yang lebih memilih melapor ke UII Bergerak daripada melapor ke kampus sendiri. Ini dikarenakan para penyintas tidak percaya dengan kampusnya sendiri. Kampus dinilai lamban dan belum serius menanggapi kasus ini. Di pembicaraan online bersama UII Bergerak dan Pers Mahasiswa pada Kamis (28/5), UII Bergerak mengungkapkan  bahwa sampai sekarang belum ada pembicaraan dari kampus dengan UII Bergerak padahal kampus telah merancang tim penyelidik untuk kasus ini. Selain itu UII bergerak juga mengungkap 53  hari setelah kasus ini tersebar, dari pihak kampus tidak ada kejelasan untuk menindak lanjuti kasus ini. 
Seharusnya ini menjadi koreksi bagi institusi pendidikan untuk cepat tanggap dalam menangani kasus kekerasan seksual ini. Lambannya kampus dalam menangani masalah kekerasan seksual ini tidak hanya sekali saja, mulai dari kasus Agni di Universitas Gajah Mada (UGM) yang membutuhkan waktu kurang lebih dua tahun dalam menangani masalah tersebut. Kampus harusnya menjadi garda terdepan dalam mengungkap masalah kekerasan seksual. Di UII sendiri setelah kasus IM ini terungkap banyak kasus kekerasan seksual lainnya yang masuk ke UII Bergerak dengan pelaku yang berbeda-beda. Belum lagi banyak kasus yang tidak terungkap. 
Banyak faktor yang mempengaruhi mengapa kasus-kasus kekerasan seksual banyak yang tidak ter-blow up, ada yang mengangap bahwa kasus pelecehan seksual ini adalah aib, kurangnya respect dari masyarakat dan juga lambannya penanganan dari kampus, selain itu belum ada juga regulasi yang mengatur mengenai kekerasan seksual ini. Regulasi keluar setelah adanya kasus itupun berjalan lamban pengurusanya. Selain itu kasus ini harus terus dipantau terus perkembangannya agar tidak menghilang begitu saja. Setiap kampus juga harusnya ada regulasi yang jelas agar para penyintas merasa terlindungi dan ada hukuman yang tegas bagi pelaku.

Sabila Sufi Maryam
Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2017 Universitas Muhammadiyah Yogykarta 
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar