Darurat Omnibus Law, Gejayan Memanggil Lagi

Sumber: Dokumen Nuansa
Nuansa Online- Tiga kali melakukan aksi #GejayanMemanggil, Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) kembali ajak masyarakat Yogyakarta turun ke Jalan Gejayan pada Kamis (16/7). Aksi ke empat kalinya ini dilakukan sebagai salah satu bentuk upaya perlawanan atas disahkannya RUU Omnibus Law. 
Massa aksi melakukan long mars dari Bunderan UGM sejak pukul 13.30 WIB menuju pertigaan Colombo, Gejayan, Yogyakarta. Tak hanya menyuarakan yel-yel “Reformasi”, “Gagalkan Omnibus Law Sekarang” dan “Gagalkan Omnibusuk”, beberapa kali perwakilan massa aksi juga memberikan orasinya. 
Dilakukan di tengah pandemi COVID-19, aksi kali ini diwarnai dengan kepatuhan massa aksi terhadap peraturan pyshical distancing.  Mulai dari menggunakan masker hingga menjaga jarak antar peserta aksi. Bahkan hal ini terlihat ketika massa aksi duduk di pertigaan Colombo. Dengan membuat lingkaran masing-masing, jarak antar peserta aksi berkisar antara 1 hingga 2 meter. 
Setelah menyuarakan aspirasinya di Pertigaan Colombo, massa aksi kemudian bergerak menuju pertigaan Jalan Laksda Adisucipto pada pukul 16.10 WIB dan tiba pada 30 menit setelahnya. Perpindahan lokasi ini dilakukan karena perlunya penambahan kekuatan tekanan politik. Sehingga diarahkan ke titik-titik yang menjadi salah satu pusat lalu lintas. 
Masita, salah satu peserta aksi menyampaikan dirinya sebenarnya juga diliputi rasa takut akan penyebaran COVID-19. Namun di sisi lain, dia merasa perlu untuk turut serta menjadi bagian yang mengagalkan Omnibus Law. 
“Ya takut nggak takut sih. Dalam artian sebenernya di satu sisi ada rasa takut. Tapi di sisi lain kalau dibiarkan Omnibus Law juga memberikan kesengsaraan yang berkepanjangan, bahkan lebih berbahaya daripada COVID-19. Cuma aku yakin turun karena mengikuti protokol kesehatan seperti masker, jaga jarak, dan tidak menyentuh massa aksi,” ujar Masita.
Tak hanya dilakukan secara offline, aksi kali ini juga dilakukan secara online. Ini terlihat dari #gagalkanomnibuslaw yang mencapai trending topic pertama di Twitter pada hari ini (16/7). 
Sekitar 100 massa aksi yang terdiri dari mahasiswa, buruh, dan para pekerja di Yogyakarta menyampaikan tuntutan atas adanya wacana pengesahan Omnibus Law oleh pemerintah pada 16 Juli 2020. Secara rinci, tuntutan yang dibawa adalah sebagai berikut:
1. Gagalkan Omnibus Law RUU Cipta Kerja.
2. Berikan jaminan kesehatan, ketersediaan pangan, pekerjaan, dan upah layak untuk rakyat terutama saat pandemik.
3. Gratiskan UKT/SPP dua semester selama pandemik.
4. Cabut UU Minerba, batalkan RUU Pertanahan, dan tinjau ulang RUU KUHP.
5. Segera sahkan RUU PKS.
6. Hentikan Dwi Fungsi Polri yang saat ini banyak menempati jabatan publik dan akan dilegalkan dalam Omnibus Law RUU Cipta Kerja.
7. Menolak Otonomi Khusus Papua dan berikan hak penentuan nasib sendiri dengan menarik seluruh komponen militer, mengusut tuntas pelanggaran HAM, dan buka ruang demokrasi seluas-luasnya. 

Reporter: Sri Fatima
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar