Dosen UMY Adakan Penyuluhan untuk Tingkatkan Kompetensi Nadzir Wakaf

Sumber: Dokumen Nuansa

Nuansa Online - Dua dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Nasrullah, S.H., S.Ag., MCL. dan Dr. M. Khaeruddin Hamsin dibantu dengan Waridatun Nida, telah menyelenggarakan pengabdian masyarakat berupa penyuluhan bagi para nadzir wakaf di Kecamatan Kasihan, Bantul pada Minggu (26/07). Dengan diikuti oleh 17 orang perwakilan nadzir dari 4 desa di Kecamatan Kasihan, baik nadzir perseorangan maupun nadzir organisasi atau badan hukum, penyuluhan tersebut diselenggarakan di Ruang Sidang Fakultas Hukum UMY dengan tetap menerapkan protokol pencegahan COVID-19, menggunakan masker dan penataan tempat duduk berjarak.

Penyuluhan ini mengangkat tema “Optimalisasi Peranan Nadzir dalam Meningkatkan Fungsi Wakaf di Kecamatan Kasihan”. Menurut Nasrullah, kegiatan yang bermitra dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kasihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan nadzir akan tugas dan fungsinya dalam mengelola amanah aset wakaf dari wakif sesuai dengan ketentuan fikih maupun peraturan perundang-undangan wakaf. 

Ada 3 orang pemateri dihadirkan dalam penyuluhan ini. Pertama, Dr. M. Khaeruddin Hamsin selaku anggota Komisi Fatwa MUI DIY dan Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dalam paparannya menyampaikan bahwa dalam perspektif fikih, pengelolaan wakaf berorientasi pada kemanfaatan harta benda wakaf, sehingga bila suatu aset sudah tidak produktif atau terlantar dapat ditukar atau dipindahkan ke tempat lain yang lebih produktif dengan tetap mengikuti prosedur Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 tentang Perwakafan. 

Adapun prosedur perwakafan, optimalisasi harta benda wakaf serta optimalisasi tugas dan fungsi nadzir dijelaskan secara detail oleh Ketua BWI Bantul, Rohwan S.Ag., MSI yang juga menjabat sebagai Kepala KUA/PPAIW Kecamatan Kasihan sebagai pembicara kedua. 

Sedangkan pembicara ketiga, Ustadz Muhammad Jazir ASP berbagi pengalaman dengan peserta tentang kiat sukses mengelola Masjid Jogokaryan dari awal hingga menjadi model pengelolaan aset wakaf yang tidak hanya produktif tapi juga progresif. Menurut Ustadz Jazir, Masjid Jogokaryan mengalami 3 fase pengembangan, bermula dari jamaah bersubsidi dikembangkan menjadi jamaah mandiri, dan saat ini telah berubah menjadi masjid mandiri dengan berbagai unit usaha yang tidak hanya mampu mencukupi biaya operasional masjid tetapi juga mampu mensejahterakan jamaahnya. 

Hasil dari penyuluhan ini menunjukkan adanya peningkatan wawasan peserta yang sangat signifikan dari semula hanya mencapai tingkat akurasi jawaban 35% dalam pre-test  menjadi 77% dalam post-test. Dalam penyuluhan ini, selain dilakukan pre-test dan post-test, juga dilakukan inventarisasi masalah yang dihadapi nadzir dalam mengelola aset wakaf di Kecamatan Kasihan serta dilakukan diskusi tentang rencana tindak lanjut pasca penyuluhan. Sebagian besar masalah yang dihadapi nadzir adalah terkait legalitas (sertifikat wakaf), pendanaan, kurangnya pengetahuan nadzir, serta menejemen pengelolaan yang masih manual. 

Sebagai rencana tindak lanjut, para nadzir mengharapkan adanya peranan UMY dalam mendampingi nadzir dalam pengelolaan aset wakaf agar lebih produktif serta memberikan advokasi kepada nadzir terkait masalah pengurusan dan penyelesaian legalitas aset wakaf yang diakui Rohwan masih banyak terjadi di Kasihan. Beberapa peserta juga mengharapkan kedepan pengabdian lanjutan dapat menghadirkan Pihak Badan Pertanahan, sehingga para nadzir dapat mengetahui secara komprehensif tentang solusi dari kendala pengurusan sertifikasi tanah wakaf yang kerap mereka hadapi. (WRDN/AFM)

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar