Marak Kasus Pelecehan Seksual, Sudahkah UMY Sadar?


Sumber: Kompas.com

Nuansa Online- Dewasa ini ramai kasus pelecehan seksual yang terangkat di media massa. Dilansir dari seri laporan mendalam #NamaBaikKampus dari tirto.id, setidaknya sampai April tahun lalu ada 174 penyitas dari 79 kampus di 29 kota di Indonesia.
Dari 29 kota tersebut, Yogyakarta sebagai kota pelajar pun ikut serta dalam jajaran kota rawan kekerasan seksual. Mulai dari kasus Agni di UGM, Ibrahim Malik di UII, hingga RIA aktivis relawan COVID-19. Mungkin ini hanya tiga kecil dari banyak kasus serupa yang terjadi.
Sejak LPM Balaiurung UGM menyuarakan tentang Agni, memang diakui perlahan korban mulai angkat bicara. Entah itu kepada pihak lembaga hukum, lembaga pendampingan, ataupun ke instansi tempat ia dilecehkan. Meski demikian tak banyak yang berakhir dengan adil di kedua belah pihak. Kebanyakan kasus yang terungkap hanya diselesaikan lewat jalur “damai” tanpa adanya sanksi yang konkret.

Pelecehan Seksual di UMY?

Sabtu (27/6), reporter LPPM Nuansa UMY berkesempatan mewawancarai Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ir. Gunawan. Dari hasil wawancara tersebut, UMY tidak membantah adanya kasus pelecehan di instansinya. Mulai dari ucapan hingga perbuatan.
“Yang namanya pelecehan itu juga termasuk ajakan, celaan, senggol-senggolan, menggoda, hingga sampai pada perbuatan. Di UMY sendiri sempat terjadi beberapa kasus seperti itu. Kami juga tahu, tapi memang langsung ditindak. Jadi ya sedikit yang diketahui publik,” ungkap Rektor UMY.
Berdasarkan penelusuran tim reporter, di UMY sendiri sempat terjadi beberapa kasus pelecehan. Baik lokasi kejadian di UMY, ataupun korban atau pelaku merupakan civitas akademika UMY. Berikut kami rangkum:

Pamer Alat Vital di Area Kampus

2018 silam, salah seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial-Ilmu Politik UMY melaporkan adanya tindakan tak menyenangkan ketika ia berada di Perpustakaan Pusat UMY. Sebut saja Dina. Peristiwa terjadi ketika ada seorang laki-laki yang diduga salah satu mahasiswa UMY tengah memamerkan alat vitalnya ketika Dina tengah mencari buku di antara rak. Rasa kaget bercampur ketakutan membuatnya langsung berlari untuk menemui petugas. Naasnya, ketika ia kembali bersama petugas perpusakaan ke TKP, pelaku sudah tidak berada di tempat.
Salah seorang anggota LPPM Nuansa sempat ikut serta dalam penelusuran pelaku. Namun hal ini terkendala oleh sistem keamanan yang belum lengkap (baca: CCTV belum menjangkau). Hingga akhirnya korban memilih untuk menenangkan diri kembali ke kampung halamannya.
Kejadian ini ternyata tak hanya sekali itu saja. Berdasarkan penuturan Rektor UMY, sepanjang tahun 2018, setidaknya ada 3 laporan masuk yang mana pelaku adalah orang yang sama.
“Iya, kalau yang itu memang ada. Waktu itu sempat dia (pelaku) hampir digebukin massa di Lapangan Basket. Waktu itu malah yang diliatin sesama laki-laki. Untung ditolong sama satpam,” ungkap Gunawan saat diwawancarai.
Tak hanya di Lapangan Basket, pelaku juga sempat memamerkan alat vitalnya ke mahasiswa baru yang sedang mengerjakan tugas di Taman Batu pada 2018 silam. Juga dilaporkan ia melakukan tindakan yang sama di Lapangan Bintang UMY.

Mahasiswa UMY dilecehkan di Sekaten

Kasus ini mungkin tak banyak diketahui publik. Berdasarkan penuturan Rektor UMY, tahun lalu, ada tiga mahasiswa yang mengaku dilecehkan oleh salah seorang abdi dalem ketika tengah perayaan Sekaten.
Gunawan Budianto tak menuturkan lebih lengkap bagaimana kronologinya. Namun beliau menyampaikan bahwa kasus ini justru sampai masuk ke jalur hukum.
“Yang di Sekaten, mahasiswa Fisipol, Agribisnis, sama mana satunya. Itu sempat masuk ke jalur hukum. Atau bahkan sampai sekarang belum selesai kasusnya. Karena pelaku minta untuk damai, namun salah satu keluarga korban tidak mau,” tuturnya.

RIA (Relawan COVID-19)

Kasus ini mungkin memang tak terjadi di lingkungan kampus UMY. Namun RIA, yang diduga menjadi pelaku masih tercatat sebagai mahasiswa aktif Fakultas Hukum UMY.
Seperti yang telah di beritakan BBC Indonesia, bahwa RIA diduga melakukan pelecehan seksual kepada teman perempuannya pada April lalu. Ada beberapa kronologi menyebutkan dari berbagai sisi. Tim reporter LPPM Nuansa UMY telah melakukan pengecekan kepada beberapa pihak yang dalam kesimpulannya, RIA memang menjadi tersangka pelaku tindakan tersebut.
Dalam kronologi yang diyakini sesuai dengan kejadian (hasil penelusuran), disampaikan bahwa RIA melakukan aksinya di sebuah hotel di Yogyakarta. Setelah sebelumnya pelaku sempat meminta korban untuk memijatnya di kost. Dalam kronologi kasus tersebut juga disebutkan bahwa RIA memeluk, mencium leher, meraba dari ketiak ke samping payudara, dan berusaha memalingkan wajah penyintas dengan maksud menciumnya. Namun penyitas menolaknya. Dan berakhir penyintas bersikeras untuk pulang.
Dalam perkembangannya, sampai berita ini ditulis, kasus ini memang sudah diselesaikan oleh kedua belah pihak. Namun, UMY sebagai instansi tempat RIA menuntut ilmu belum menyatakan ini selesai.
“Ya, kalau urusan dengan organisasinya sudah selesai. Tapi antara RIA dengan UMY belum. Malah belum dimulai, soalnya dia lagi pulang kampung. Jadi belum sempat ketemu,” ungkap Rektor UMY.

Bagaimana UMY Menyikapi Kasus?

Tiga contoh kasus di atas mungkin hanya sebagian kecil dari beberapa kasus yang sempat ada. Tak banyak penyintas yang mau menceritakan ini kepada lembaga terkait. Entah alasan malas berurusan dengan hukum, atau adanya relasi kuasa. Meski demikian, UMY sendiri nyatanya tak menutup mata.
Meski tak ada peraturan khusus yang membahas mengenai pelecehan seksual, namun sejauh ini UMY menggunakan peraturan tindak asusila sebagai patokan dalam memberikan sanksi dan perlindungan kepada penyintas. UMY juga memberikan ruang bagi penyintas. Baik itu ruang mengadu, perlindungan hukum, hingga psikis. Terbukti, dari ketiga kasus yang ditemukan oleh tim Nuansa, ketiga-tiganya turut didampingi oleh pihak UMY. Seperti pada kasus 01 di atas. Pada akhirnya pelaku dikembalikan kepada pihak keluarganya. Juga kasus 02 UMY ikut turut serta dalam pemrosesan hukum pelaku. Kasus terakhir pun sama. Nantinya pihak UMY akan tetap menindak lanjuti RIA.
“UMY memang belum ada peraturan tersendiri terkait tindakan pelecehan seksual. Tapi kita mempunyai peraturan tindakan asusila. Kita juga menyediakan layanan konseling di LPKA. Meski belum ada lembaga khusus, namun ketika ada mahasiswa ataupun civitas akademika yang melapor, maka akan kami tindak lanjuti,” ungkap Rektor UMY.
Seperti yang disampaikan, dalam “Peraturan Disiplin Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta” yang diterbitkan pada Oktober 2010 pasal 17 ayat (1) sampai (5) tentang Tindakan Asusila dan Perzinaan. Disebutkan bahwa UMY akan melakukan penghentian segala bentuk kegiatan akademik paling lama 2 semeter atau kerja sosial paruh waktu di lingkungan UMY jika ada seorang mahasiswa mengucapkan kata-kata tidak senonoh atau berbuat cabul di dalam atau di luar kampus UMY. Terlibat langsung maupun tidak perbuatan zina juga akan diberikan sanksi serupa hingga diberhentikan dengan tidak hormat sebagai mahasiswa UMY.
Dengan demikian tak dapat dipungkiri bahwa UMY sudah selangkah lebih baik dalam urusan kasus pelecehan seksual. 
“Kita terbuka, jika memang ada yang merasa telah dilecehkan. Baik ucapan ataupun perbuatan. Ucapan tidak harus yang berbau seksual, namun ketika ada umpatan binatang ataupun yang tidak pantas, silahkan lapor ke LPKA. Pasti akan kami tindak lanjuti. Pokoknya ketika Anda mendengar ungkapan yang membuat sakit hati, segera lapor,” - tutup Gunawan Budianto di akhir wawancara.

Reporter: Srai

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar