Menakar Efektivitas Pusat Layanan Kesehatan Mental di UMY


Sumber: Instagram @lpka_umy
“Udah daftar tapi belum ada panggilan sampai sekarang sudah lulus. Padahal lagi butuh. Untung aku nggak bunuh diri,” ucap Dina (bukan nama sebenarnya) seorang mahasiswa UMY.
Nuansa Online- Kali pertama Dina mengalami keresahan sehingga ia memutuskan untuk mengunjungi pusat layanan kesehatan mental yang difasilitasi oleh UMY. Sesuai dengan prosedur administrasi, Dina memulai dengan mengisi formulir yang disediakan.
Pada prosedur yang termaktub dalam rancangan kerja divisi konseling dan kesejahteraan mahasiswa Lembaga Pengembangan Kemahasiswaan & Alumni (LPKA) menjelaskan bahwa pihak administrasi akan membuatkan jadwal antara mahasiswa dengan konselor untuk melakukan konseling setelah rampung mengisi formulir. Akan tetapi Dina tak kunjung mendapatkan konfirmasi dari pihak administrasi. Pengalaman Dina merupakan satu dari beberapa mahasiswa yang mengalami gangguan kesehatan mental. 

Kesehatan Mental

Kesehatan mental menjadi hal yang juga perlu diberi perhatian. Isu kesehatan mental memang tak mengenal usia dan gender. Siapapun dapat terserang kesehatan mentalnya. Terutama pada remaja di usia produktif belakangan ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental bukan hal yang bisa diremehkan.
Dilansir dari data Riskesdas tahun 2018, prevalensi gangguan mental emosional pada remaja diatas umur 15 tahun mencapai  9,8 % yang mana mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan data 5 tahun sebelumnya yang hanya mencapai 5,3%. Pun berdasarkan laporan Student Minds berjudul Grand Challenges in Student Mental Health (2014), mahasiswa rentan mengalami gangguan kesehatan mental.
Dalam upaya mengatasi kerentanan kesehatan mental di kalangan mahasiswa, beberapa universitas di Indonesia tengah menyediakan fasilitas kesehatan mental seperti halnya di UMY.
Setelah dikonfirmasi melalui via WhatsApp, Triyana, kepala pusat konseling dan kesejahteraan mahasiswa memaparkan bahwa pusat pelayanan kesehatan mental UMY tengah diberlakukan sejak tahun 2017 yang meliputi segala aspek permasalahan mahasiswa. Baik secara akademik, pribadi, keluarga, asusila, pelanggaran hukum dan lain sebagainya.
Triyana menambahkan, sejauh ini mahasiswa yang mendatangi layanan tersebut terbilang tinggi. Tingginya angka kunjungan dibuktikan dari data demografi pusat layanan konseling UMY yang menunjukkan hasil rekapan pertahun mencapai 900-1000 mahasiswa dengan mayoritas berkonsultasi mengenai permasalahan pribadinya.
“Jumlah mahasiswa yang mengikuti konseling pertahun 900-1.000. Masalah pribadi, mental kejiwaan lumayan tinggi. Seperti nggak PD, percintaan, susah tidur, dll.” Ucap pak Triyono ketika dihubungi melalui pesan WhatsApp.
Merujuk pada tingginya angka kunjungan layanan kesehatan mental dari tahun ke tahun, tentu menjadi salah satu alasan pentingnya layanan kesehatan mental bagi mahasiswa. Meski demikian, eksistensi layanan kesehatan mental pun tak lepas dari sebuah pertanyaan mengenai sejauh mana efektivitas layanan konseling.

Sudahkah Efektif?

Dalam pelaksanaannya, layanan kesehatan mental pada tingkatan universitas dimotori dengan kegiatan bimbingan dan konseling dari Tim Psikolog divisi konseling dan kesejahteraan mahasiswa LPKA UMY sesuai pada bidangnya masing-masing.
Setidaknya layanan konseling mengalami perkembangan pada peningkatan jumlah konselor. Sebagaimana informasi layanan kesehatan mental yang telah di posting dalam akun instagram LPKA, terdapat 5 konselor meliputi psikologi bidang pendidikan, keluarga dan komunitas, serta psikologi islam.
“Sebelum tahun 2019 hanya punya 1 orang konselor, dan mulai tahun 2019 sampai dengan sekarang ada 5 konselor” ungkap Triyana.
Di sisi lain, layanan kesehatan di UMY juga diperkuat dengan adanya ruang konsultasi kesehatan mental di tiap prodi atau fakultas. Sebagai narahubung yang akan bertanggung jawab pada penanganan pertama.
“Langkah pertama melalui fakultas, jika perlu penanganan khusus maka akan diserahkan ke universitas. Pun sebaliknya, informasi ini kita sampaikan ke prodi dan fakultas, agar mereka membuat program kegiatan untuk menambah percaya diri mahasiswa,” jelas Triyana
Layanan kesehatan mental baik di tingkat pusat maupun fakultas ini saling berkoordinasi. Tidak jarang kedua pihak membahasnya pada rapat koordinasi bidang kemahasiswaan bersama Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan.
“Biasanya persoalan mahasiswa akan di bahas dalam rapat koordinasi bidang kemahasiswaan.” Tambahnya.
Meskipun layanan kesehatan mental tengah berjalan sekurangnya tiga tahun, beberapa mahasiswa yang kami wawancarai mengatakan bahwa tidak banyak yang mengetahui layanan konseling tersebut.
Triyana pun mengakui bahwa publikasi layanan ini memang belum berjalan optimal. Hal itu dikarenakan adanya kendala pada minimnya jumlah staf yang tidak hanya mengelola konseling saja dan berakibat pada kurangnya publikasi secara menyeluruh.
“Publikasi kami ya memang belum maksimal, insya Allah ke depan akan kami maksimalkan dengan menambah staf baik temporary maupun magang.” Tutur Triyana
Minimnya jumlah staf tersebut sekaligus menjadi tanggapan atas pengalaman Dina. Triyana menjelaskan bahwa ada beberapa kemungkinan hal tersebut dapat terjadi baik dari pihak mahasiswa ataupun konselor.
“Jika terjadi mahasiswa merasa belum dihubungi ada beberapa kemungkinan; konselornya merasa sudah menghubungi, namun tidak ada respon dari mahasiswa, kemungkinan lain, karena kesibukan konselor pada saat itu (Dosen UMY) dan tidak ada kecocokan waktu. Kedepan insya Allah hal-hal semacam ini akan kami minimalisir dengan adanya staf khusus untuk membantu proses konseling berjalan dengan baik,”
Dalam akhir percakapan, Triyana juga menegaskan kepada mahasiswa untuk dapat memanfaatkan fasilitas berupa layanan kesehatan mental yang ada di kampus.
“Kami siap mendampingi untuk membantu pengembangan diri mahasiswa tuk mencapai yang diinginkan, tolong manfaatkan fasilitas yang kami miliki” Ungkap Triyana
Triyana juga menambahkan, bahwa pada saat pendemi COVID-19 mahasiswa tidak perlu khawatir karena tetap dapat melakukan konseling secara online.
“Pada saat COVID-19 ini layanan konseling langsung melalui WA langsung dengan konselor. Tinggal memilih sesuai permasalahan yang dihadapi, apakah pribadi, keluarga, atau masalah Pendidikan dll. Jadi mahasiswa bisa langsung komunikasi langsung dengan psikolog,” Terangnya.
Reporter: Nays & Srai

 


Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar