Ibnu Khaldun: Kontribusi terhadap Peradaban Melalui Jalur Intelektual

Sumber: Kompasiana.com



Nuansa Online - Sejarah adalah pertanggungjawaban masa lalu kita. Kita sebagai manusia lah yang menorehkan kisah apa yang akan kita suguhkan pada masa depan. Kita bisa memulai mengisinya dengan pemikiran dan menorehkan dengan tindakan. Pada abad ke-14, sejarah peradaban bangsa-bangsa sedang mengalami keadaan jatuh-bangun, terkhusus dunia Islam. Sosok besar bernama Ibnu Khaldun tampil sebagai politikus, sejarawan dan sosiolog. Di samping pelaku sejarah ia juga sejarahwan yang memaknai peristiwa dengan tulisan-tulisannya. 

Pemikiran-pemikiranya tentang kemasyarakatan masih sangat relevan pada kehidupan kita saat ini. Tidak heran, pemikirannya menjadi diskursus tidak hanya di dunia Islam tetapi dunia barat, termasuk Andalusia (Spanyol) tempat ia aktif dikancah perpolitikan. Ibnu Khaldun menampakkan wajah asli intelektualnya melalui Muqaddimah dan kitabnya al-‘ibar. Bahkan, setelah dunia mengkaji karya-karyanya justru pemikiran Ibnu Khaldun menjadi cikal bakal filsafat sejarah dan ilmu sejarah. Selain itu di bidang sosiologi para pelajar pindah haluan dari yang sebelumnya menganggap Auguste Comte sebagai “Bapak Sosiologi” kemudian beranggapan yang pantas disebut “Bapak Sosiologi” itu Ibnu Khaldun. Melalui Muqaddimah Ibnu Khaldun memberi janin pada sosiologi yang sebenarnya dilahirkan sebelum Auguste Comte melalui positivism-nya.


Biografi dan Setting Pemikiran Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun berama lengkap adalah Waliyuddîn Abu Zaid Abdurrahmân bin Muhammad Ibnu Khaldun al-Hadrami al-Ishbili. Beliau dilahirkan di Tunisia, Afrika Utara pada awal Ramadlan 732 H / tanggal 27 Mei 1322. Ia wafat di Kairo pada tanggal 17 Maret 1406. Keluarganya bernasab al-Hadrami karena asal dari Hadramaut yang kemudian berimigrasi ke Seville (Spanyol) pada abad ke-8 setelah semenanjung itu dikuasai Arab Muslim. Ibnu Khaldun hidup saat keadaan berbagai bangsa sedang gonjang-ganjing, di mana zaman Ibnu Khaldun ini mengalami deklinasi (pada runtuh) Andalusia runtuh, Abasyiah jatuh, Qatar dan Timur Lenk mulai menginvansi, Mongol mulai datang dan mulai meruntuhkan negaranya.

Ibnu Khaldun lahir dari keluarga terdidik. Sejak kecil Ibnu Khaldun terlibat dalam kegiatan intelektual di kota kelahirannya, dia mengamati dari dekat kehidupan politik. Kakeknya pernah menjabat menteri keuangan di Tunisia, sementara ayahnya sendiri adalah seorang administrator dan perwira militer. Ibnu Khaldun di masa kecilnya ternyata sangat tertarik pada dunia ilmu pengetahuan. Di usianya yang relatif muda, ia telah menguasai ilmu sejarah, sosiologi dan beberapa ilmu klasik, termasuk ulum aqliyah (ilmu filsafat, tasawuf dan metafisika). 

Setelah menginjak dewasa, Ibnu Khaldun mulai aktif dalam kegiatan politik yang mengantarkannya untuk menduduki posisi strategis sampai akhirnya bosan dipolitisasi dan memilih mundur dari dunia politik, konsentrasi untuk keilmuan. Ibnu Khaldun mulai menyendiri dan kembali ke Mesir sampai ia menutup usia di sana. Ia ingin meluangkan waktunya berkontribusi untuk peradaban melalui jalur intelektual. Ia mulai menulis berbagai tulisan yang ia dapat dari berbagai pengalamannya di dalam bidang politik. Ibnu Khaldun tercatat sebagai ilmuwan Muslim pertama yang serius menggunakan pendekatan historis (sejarah) dalam wacana keilmuan Islam. 

Perintisan Ibnu Khaldun terhadap metode Historis yang murni ilmiah, awalnya tidak pernah ditanggapi dengan serius dan bahkan terlupakan. Namun ia tidak putus asa, hingga ditampilkan kembali karyanya dalam al-Muqaddimah pada abad ke-19. Ini yang membuatnya dikenal sebagai ilmuwan pionir yang memperlakukan sejarah sebagai ilmu serta memberikan alasan-alasan untuk mendukung fakta-fakta yang terjadi. Ibnu Khaldun menganalisis apa yang disebut dengan gejala sosial dengan metode-metodenya masuk akal. Orang-orang dapat melihat bahwa ia menguasai akan gejala-gejala sosial tersebut. Ibnu Khaldun berusaha memegang teguh pendapatnya, Muqaddimah merupakan hasil dari pengalaman empiris selama yang ia rasakan. Ia cenderung melakukan pengamatan terlebih dahulu sebelum membuat metodologi. 

Ibnu Khaldun mengajarkan pada kita bahwa sebelum memperoleh ilmu pengetahuan kita harus punya basic yang kuat yaitu keagamaan yang matang. Bagaimanapun juga percuma jika kita memiliki segudang ilmu pengetahuan tapi kita tidak mengaplikasikannya. Mungkin lebih parah lagi, jika kita malah menggunakan ilmu pengetuahan yang kita miliki untuk menghasut dan membodohi orang lain. 

Mahasiswa yang nantinya sebagai calon intelektual cobalah kita mulai mencintai ilmu dan bijak mengamalkannya sedikit demi sedikit. Agar ilmu yang kita miliki tidak berhenti pada diri kita saja. Jadikan ilmu yang kita dapatkan menjadi penolong sekaligus pemecah masalah atas problem yang digeluti bangsa kita saat ini. Semoga kita menjadi mahasiswa yang sebenar-benarnya mahasiswa melakukan semua lillah demi Allah SWT, termasuk menuntut ilmu ini. Sehingga berkahlah ilmu yang kita dapatkan dan berguna bagi khalayak banyak.


Rizky Febi W.

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar