Kuliah Luring, Siapkah UMY?

 

Sumber: pikiran-rakyat.com

Nuansa Online - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) umumkan akan diadakannya perkuliahan tatap muka pada semester gasal 2020/2021. Sesuai dengan kebijakan Wakil Rektor Bidang Akademik, perkuliahan daring akan dimulai pada 14 September 2020, sedangkan untuk luring mulai 5 Oktober 2020. Adanya kebijakan ini menuai banyak pendapat dari mahasiswa baik dari pro dan kontra.

Kuliah tatap muka  ini merupakan fasilitas yang diberikan oleh kampus untuk mahasiswa yang banyak mengeluhkan sulitnya kuliah daring, mulai dari jaringan internet yang kurang mendukung di daerah asal, kurang efektifnya pembelajaran secara daring, dan sebagainya. Oleh karena itu kuliah tatap muka tidak bersifat wajib bagi mahasiswa. Mahasiswa yang akan mengikuti kuliah tatap muka pun harus sudah mendapatkan pesetujuan dari orang tua atau wali. 

Kebijakan ini mendapatkan respon positif dan juga negatif dari mahasiswa. Meskipun sudah menggunakan prtokol kesehatan, mahasiswa masih mengkhawatir penyebaran covid-19 dikarenakan mereka akan berkumpul dan berinteraksi di satu ruangan yang sama. Mengingat kebanyakan mahasiswa berasal dari berbagai daerah yang berbeda, bahkan ada yang dari daerah zona merah dan zona hitam. 

“Banyak mahasiswa yang mengeluh karena kuliah online tidak efektif. Apalagi untuk beberapa mata kuliah yang ga semestinya bisa dilakukan via online.  Terus ditambah lagi mahasiswa yang berada di daerah terpencil yang susah akan sinyal. Saya sendiri pun mengalaminnya. Kadang harus ke kota dulu untuk bisa mengakses materi perkuliahan,” Ujar Amir Hamzah salah satu mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam semester 5.

Dengan adanya kebijakan ini, tentunya pihak kampus sudah mempersiapkan aturan protokol kesehatan dengan sangat matang, seperti disediakannya hand sanitizer didekat pintu masuk tiap ruang kelas, portable cuci tangan disetiap gedung, diberlakukannya pengukuran suhu tubuh sebelum memasuki gerbang dan gedung ruang kuliah, serta wajib menggunakan masker untuk semua orang yang berada di lingkungan kampus. Aturan yang ketat ini harus dipatuhi oleh setiap orang yang berada di lingkungan kampus demi mencegah tersebarnya covid-19 di area kampus UMY. Pihak kampus pun memberlakukan sanksi berupa denda bagi setiap orang yang melanggar aturan tersebut, tidak hanya untuk mahasiswa dan dosen tetapi pejabat structural juga akan diberlakukan denda untuk setiap pelanggaran.

Aliza Mufida salah satu mahasiswa Hukum semester 7 mengemukakan pendapatnya terkait perkuliahan ofline dan online secara bergantian ini. Apakah kampus bisa mengarahkan mahasiswa yang berada di pulau jawa yang mampu untuk melakukan perjalanan pulang dan pergi ke daerahnya masing-masing? Karena ketika diberlakukan 1 bulan kuliah offline dan 1 bulan kuliah online, akan banyak mahasiswa yang hilir-mudik antara Yogyakarta dan daerahnya. Yang ditakutkan dari hal ini adalah, mereka bisa saja menjadi carier, dan meningkatkan resiko persebaran covid-19.

“kalau untuk aku sendiri si sebenarnya tidak terlalu bermasalah untuk sistem kuliah online offline ini, karena di semester 8 ini kebanyakan hanya berkutat dengan skripsi, tidak banyak praktik ataupun pertemuan,” Jelas Aliza.

Menurut Kepala Program Studi Kounikasi Penyiaran Islam, Twediana Budi Hapsari, kampus sudah mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, bahkan berbagai skenariopun sudah disiapkan.

Reporter: Nurma Kartika

Editor: Zakiya

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar