Mengapa Kita Lebih Senang Bicara daripada Mendengar?

 

Sumber: makassarbicara.com

Nuansa Online - Bayangkan suatu momen dimana kamu akan pergi ke sebuah kafe untuk bertemu dengan teman-teman tongkronganmu. Semua jadwal kegiatan lain sudah dengan sengaja dikosongkan demi bisa melepas rindu seraya menertawakan kebodohan salah satu temanmu yang terlambat bangun pagi sehingga tidak bisa mengikuti ujian di kampus. Dilanjut dengan ngobrol ngalor ngidul sehingga harus didatangi waitress kafe yang mengingatkan bahwa kafe akan segera tutup. Rencana yang bagus untuk menghabiskan malam minggu, pada awalnya.

Namun semua bayangan itu buyar ketika ternyata ada satu orang temanmu yang terlalu cerewet ketika berbicara. Temanmu ini seakan tidak bisa berhenti, selesai satu cerita lompat ke cerita yang lain. Sampai-sampai kamu dan teman-temanmu yang lain hanya bisa diam mendengarkan setiap celotehan yang keluar dari mulutnya. Tinggal masalah waktu sampai kamu merasa muak lalu memutuskan untuk pulang dan nonton Netflix saja di rumah. Dalam perjalanan pulang pun kamu tidak habis pikir, bisa-bisanya ada orang seperti itu.

Pada Dasarnya, Kita Memang Selalu Ingin Didengar

Seorang psikiater dan penulis buku, Mark Goulston, menyatakan dua alasan mengapa seseorang tidak bisa menahan untuk tidak terus berbicara. Dikutip dari Harvard Business Review, alasan pertama sangatlah sederhana, karena setiap manusia mempunyai hasrat untuk didengar. Maka, tidak perlu merasa aneh jika kamu memilki teman seperti yang digambarkan dalam anekdot sebelumnya. Bahkan kamu pun seperti itu, merasa senang ketika apa yang kamu bicarakan berhasil mendapatkan atensi orang lain. Ini berkaitan dengan alasan kedua dari Mark Goulston, dimana proses membicarakan diri sendiri dapat melepas dopamin, yaitu hormon kesenangan. Rasa senang tersebut bisa menyebabkan kecanduan dan menurut Mark, juga menjadi salah satu alasan mengapa seseorang bisa terus mengoceh.

Dapat Memicu Munculnya Narsistik

Walaupun cenderung wajar, namun jika seseorang terlalu mendominasi percakapan sampai ke taraf mengganggu lawan bicaranya, kemungkinan orang tersebut menderita gejala narsistik. Selain dianggap memiliki ego yang tinggi, berdasarkan hasil penelitian di Harvard University tahun 2012 oleh para ahli saraf menunjukkan bahwa jika terlalu sering membicarakan tentang diri sendiri ataupun hal-hal lain supaya mendapat perhatian orang merupakan salah satu tanda munculnya gejala narsistik. Seseorang yang mengidap narsistik cenderung merasa paling penting, selalu ingin menjadi pusat perhatian, dan merasa tidak pernah salah alias selalu benar. Kalau kamu sudah menonton film pendek Tilik yang sedang ramai diperbincangkan akhir-akhir ini, karakter Bu Tejo adalah salah satu contoh manifestasi sempurna dari sifat narsistik.

Imbangi dengan Memperbanyak Mendengarkan Orang Lain

Supaya tidak mengalami gejala narsistik akut, selain dengan mengurangi bicara yang berlebihan juga dengan meningkatkan intensitas sandingannya yaitu mendengar. Banyak orang yang lupa, atau mungkin memang tidak tahu, bahwa mendengarkan merupakan salah satu seni dalam berkomunikasi selain seni berbicara dan seni menulis. Anggapan bahwa mendengar merupakan suatu hal yang mudah untuk dilakukan membuat orang menyepelekan pentingnya menjadi pendengar yang baik. Betapa banyak orang yang lihai bersilat lidah namun ketika harus mendengarkan orang lain, dia menyingkirkan empatinya dan terus membualkan apa yang ingin dia bicarakan. Pendengar yang baik sesungguhnya tidak hanya mendengar, namun juga menyimak. Disinilah rasa empati kita sebagai pendengar dilibatkan. Pendengar yang baik akan mampu untuk memahami maksud dari lawan bicaranya dan berusaha untuk menempatkan diri pada posisi mereka. Komunikasi yang terjadi pun akan lebih efektif.

Pada hakikatnya, manusia memang makhluk sosial yang tidak bisa untuk tidak berinteraksi dengan manusia lainnya. Terlepas dari adanya sebagian orang yang cenderung untuk menutup dirinya, bukan berarti mereka bisa hidup tanpa berhubungan dengan orang lain. Berinteraksi memang sudah menjadi kodrat hidup kita. Benang merah yang bisa kita tarik dari pembahasan kali ini adalah, pentingnya kecerdasan emosional dalam kehidupan sehari-hari, terkhusus ketika kita sedang mengobrol dengan orang lain. Jangan terlalu mengedepankan ego dan mendominasi pembicaraan. Gunakan juga sensitivitas dan rasa empati saat mendengarkan lawan bicaramu. Like the old man said, pembicara yang baik adalah sekaligus pendengar yang baik.

Reporter: Ihsan

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar