Sambutan Rektor : Indonesia Ditakuti Karena COVID-19, UMY Tetap Beranikan Wisuda Offline

 

Sumber: Umyogya

Nuansa Online - Kasus positif corona di Indonesia sudah bermula sejak beberapa bulan lalu, tepatnya pada Senin (2/3) yang diumumkan secara resmi oleh presiden Republik Indonesia. Terhitung sejak hari itu, kasus semakin bertambah dari hari ke hari. Tidak jarang pasien yang gugur, banyak juga yang dinyatakan negatif, dan beberapa diantara sembuh dari COVID-19.

Dilansir dari merdeka.com, jumlah kasus pada hari Selasa (8/9) secara keseluruhan mencapai 200.035 kasus. Dengan rincian pasien sembuh tercatat sebanyak 2.306 jiwa pada hari itu dan dengan kasus meninggal bertambah 100  pasien sehingga total mencapai 8.230 jiwa. 

Majalah Tempo juga baru-baru ini melakukan penelusuran, sebanyak 59 negara di dunia menutup akses bagi warga negara Indonesia (WNI) yang akan bersinggah di negaranya. Hal ini dikarenakan jumlah kasus corona di Indonesia yang terbilang semakin tinggi, bahkan belum juga menunjukkan kurva turun.

Meski demikian, tidak jarang kegiatan-kegiatan secara offline atau tatap muka tetap berlangsung dengan imbauan tetap memperhatikan protokol kesehatan, salah satunya pada sektor pendidikan. Tepatnya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang baru saja menggelar acara wisuda berbasis online dan offline periode IV dini hari (9/9).

Dalam sambutannya di hadapan peserta wisuda, Ir. Gunawan Budiyanto, selaku rektor UMY membenarkan bahwa Indonesia sekarang menjadi negara yang ditakuti oleh 59 negara. Namun hal ini bukan karena Indonesia menjadi negara yang disegani melainkan dijauhi negara lain karena keteledorannya. Disiplinnya yang rendah dalam menghadapi COVID-19 ini membuat pasien yang positif COVID-19 terus bertambah. 

“Program penuntasan COVID-19 di Indonesia ini paling tidak jelas. Sehingga semua WNI di luar negeri dicurigai. Dan memang bangsa ini tidak ada yang bisa dijadikan contoh yang baik. Lihat menteri-menteri foto di Bali kemarin, apakah memakai masker?”, ungkap Gunawan menanggapi kutipan sambutannya pagi tadi.

Pernyataan rektor UMY ini justru tidak membuatnya mengambil keputusan berupa pelaksanaan wisuda secara online 100% dan mengiyakan diadakannya wisuda offline.

Setelah ditemui oleh tim reporter LPPM Nuansa, Gunawan, rektor UMY memberi tanggapan mengenai pelaksanaan wisuda tatap muka di tengah pandemi dengan beberapa pertimbangan kuat.

“Satu, karena kita mendengar permintaan mahasiswa. Sekitar 80% mahasiswa menginginkan wisuda secara offline. Kedua, kita punya ilmu. Tadi saya katakan tidak akan membuka wisuda offline kalau tidak menggunakan faceshield. Karena tidak disiplin. Penyakit itu itu mudah. Selesai langsung disemprot. Kita punya ilmu, dipakai dong” ujar Gunawan.

Gunawan juga menekankan tanggapannya bahwa adanya wisuda offline maupun online memang tidak ada yang bisa menjamin, begitupun pemerintah dengan program penangan COVID-19 di Indonesia.

“Kalau di luar mereka kok pesta ya harusnya tau karena sarjana, sudah dewasa. Mahasiswa daring yang jamin juga siapa? Lagi-lagi kembali berkaca karena di Indonesia tidak ada contoh yang baik. Pakai masker pun dempet-dempetan. Kita dipermalukan dengan program penanganan COVID-19 yang tidak jelas”, Ungkap Gunawan.

Tidak sebatas pada persetujuan atas permintaan mahasiswa yang mayoritas memilih untuk melaksanakan wisuda offline. Gunawan selaku rektor UMY menambahkan bahwa UMY juga mengambil langkah lebih spesifik dalam penyelenggaraan wisuda offline sesuai standar protokol kesehatan COVID-19. Hal itu dibuktikan salah satunya dalam kesiapan tim relawan kesehatan UMY dalam mempersiapkan pelaksanaan wisuda offline sejak jauh hari.

“Lihat anak-anak itu (timkes), 80 anak itu sudah kami terjunkan jauh-jauh hari untuk mempersiapkan wisuda offline”, jawab Gunawan sembari menunjuk ke arah pasukan tim kesehatan UMY.

Rozikan, selaku koordinator Relawan COVID-19 UMY juga menegaskan mengapa UMY berani menyelenggarakan wisuda offline tidak lain karena adanya proses persiapan yang cukup panjang dan melelahkan, baik dari tim relawan maupun tim kesehatan.

“Semuanya kita siap. Persiapan wisuda offline selama 3 minggu itu teknisnya, kalau memutuskan berani atau tidaknya beserta kajian yang dianalisa sudah beberapa bulan yang lalu. Intinya bukan karena gaya-gayaan offline, tapi lihat dari proses persiapan yang sudah dilakukan UMY”, ujar Rozikan.

Reporter: Naila Salma Nurkhalida

Editor : Sa'idatuz Zakiyah



   

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar