Aksi Anarkis #JogjaMemanggil, Siapa yang Dirugikan?

 

Sumber: Dokumen Nuansa

Nuansa Online - Aksi massa penolakan Omnibus Law Cipta Kerja di Yogyakarta pada Kamis (8/10) yang berujung anarkis menimbulkan sejumlah narasi negatif. Tidak hanya merusak fasilitas umum, aksi #JogjaMemanggil dinilai mengganggu mobilitas warga dan berimbas pada berbagai elemen pekerja seperti pedagang kaki lima (PKL), jasa moda becak, serta pusat perbelanjaan di sepanjang jalan Malioboro.

Pasca aksi, ditemukan beberapa vandalisme di pusat perbelanjaan, jalanan, dan fasilitas umum. Selain itu juga terlihat beberapa toko yang mengalami kerusakan parah. Di sepanjang pedestrian juga tidak ditemukan warung yang beroperasi. Karena mereka kehilangan properti yang dijadikan sebagai media aksi lempar demonstran. Sementara keterangan yang disampaikan pihak paguyuban PKL, tercatat sebanyak 15 pedagang mengalami kerusakan cukup parah. 

Ami (44), salah satu PKL yang berada di depan gedung DPRD menyampaikan keresahannya atas kejadian yang menimpa pihak-pihak yang tidak bersalah. Pasalnya, aksi yang berlangsung kemarin diluar dugaan mereka. Karena aksi anarkis belum pernah terjadi di Yogyakarta sebelumnya. Hal tersebut yang kemudian membuatnya dan para pedagang kaki lima lainnya naik pitam atas aksi anarkis yang dianggapnya tidak bermoral.

Saya ini sudah 24 tahun jualan tapi baru sekarang ada demo seperti ini. Baru ini merusak. Kami sangat dirugikan. Harusnya yang disasar pemerintah kenapa kita juga kena. Kan harusnya bermoral karena kita juga rakyat kecil. Saya juga mendukung, kita juga marah sama pemerintah cuma caranya itu yang gak bener.”

Ia juga menambahkan  bahwa massa dengan lantang merusak tenda-tenda yang masih terpasang. “Tenda itu dibongkar semua, dilepasin besinya sama massa. Buat alat dilempar ke DPRD,” tambah Ami.

Pedagang kaki lima berkumpul untuk menyuarakan pendapatnya pasca kerusakan yang disebabkan Aksi Tolak Omnibus Law

Di tempat yang sama, pedagang kaki lima lainnya yang sedang berkumpul saat ditemui tim reporter juga ikut menyuarakan kemarahannya atas aksi yang merugikan pihaknya. Seperti halnya Sujiyanto (31) yang merasa dirugikan karena kehilangan barang-barang dagangan seperti meja, kursi, mangkok, gelas, besi, juga kerusakan tenda akibat tembakan gas air mata.

Yanto (40) yang juga pedagang di kawasan tersebut menyampaikan harapannya supaya Pemerintah memberikan kompensasi untuk kerugian yang ia dan PKL lainnya alami.

Tak hanya pedagang PKL, hal yang sama dirasa oleh pekerja jasa moda di sepanjang pedestrian Malioboro. Karjono (54), pengayuh moda transportasi becak sejak tahun 1996 merasa kaget dan dirugikan dengan aksi kemarin. Hal ini dikarenakan dirinya harus berhenti bekerja pada hari itu karena keadaan yang sangat tidak memungkinkan untuk melanjutkan aktifitasnya.

“Saya mendukung perubahan tapi kericuhan sangat merugikan. Saya terpaksa harus pulang kemarin karena disini kondisinya parah tidak memungkin untuk mencari uang,” ungkapnya.

Warga Yogyakarta pun merasa prihatin dengan aksi anarkisme dalam penyampaian aksi tolak Omnibus Law. Warga merasa hal tersebut cukup mengganggu kondusifitas di kawasan Malioboro yang lekat dengan kenyamanan dan citra Yogyakarta. 

Atas dasar kekhawatiran tersebut, warga Yogyakarta dalam aksinya di depan Gedung DPRD DIY pada Jum’at (9/10) dengan mengklaim bahwa warga Yogyakarta menolak berbagai aksi di kawasan Malioboro karena hanya akan merugikan dan mengganggu aktivitas masyarakat. 

Terkait kerugian bagi pihak yang terdampak, sampai saat ini belum ada pembicaraan lebih lanjut antara pihak yang dirugikan dengan pemerintah. Sejauh ini, mereka diminta untuk melakukan pendataan terkait kerusakan dan kehilangan yang dialami. Data tersebut nantinya akan diberikan kepada DPRD DIY, Polsek Danurejan, dan Poltabes untuk ditindaklanjuti.

Salah satu kedai yang hangus terbakar.

Kerusakan yang mengancam seluruh elemen warga dan pekerja khususnya di kawasan Malioboro ini menjadi coretan hitam dalam aksi massa ini. Malioboro yang menjadi sumber penghidupan masyarakat dengan lantang dihancurkan massa.

Reporter: Ni Made Ray Rika & Naila Salma Nurkhalida

Editor : Sa'idatuz Zakiyah

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar