FMN dan SOPINK Nyatakan Batal Gabung Aliansi UMY Bergerak

 




Nuansa Online - Massa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) gelar Teknis Lapangan (Teklap) jelang aksi tolak Omnibus Law pada Rabu (7/10). Teklap dihadiri oleh berbagai perwakilan pergerakan dan mahasiswa UMY untuk mempersiapkan aksi #JogjaMemanggil. Namun, secara aklamasi massa UMY yang turut menghadiri Teklap justru terbagi menjadi 3 aliansi yang berbeda.

Agenda Teklap yang diawali dengan pemaparan pandangan dari masing-masing individu maupun pergerakan ini merumuskan beberapa pernyataan. Pasalnya, hal tersebut bertujuan untuk menyatukan pandangan atas tuntuntan yang akan dibawa oleh Aliansi UMY Bergerak dalam aksi #JogjaMemanggil. Apakah UMY Bergerak akan tetap berpayung pada Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) selaku gerakan induk Aliansi UMY Bergerak, atau Front Perjuangan Rakyat (FPR) dan Majelis Pekerja Buruh Indonesia (MPBI) yang juga akan menggelar aksi di sepanjang jalan menuju gedung DPRD Yogyakarta pada Kamis (8/10).

Di tengah diskusi massa UMY yang tak kunjung berujung, voting lantas menjadi jalan akhir dalam penentuan arah tuntutan Aliansi UMY bergerak. Hasil voting menyatakan bahwa Aliansi UMY Bergerak nantinya akan tetap bergabung dengan Aliansi Rakyat Bergerak. Hal ini kemudian mengakibatkan beberapa massa UMY batal bergabung dengan Aliansi UMY Bergerak.

Muhammad Arif Bima Putra, selaku perwakilan dari gerakan Front Mahasiswa Nasional (FMN) dengan tegas menyatakan bahwa pihaknya memilih untuk mengikuti aliansi dari Front Pembela Rakyat. Hal ini berangkat dari perbedaan pandangan terhadap beberapa poin tuntutan yang diajukan oleh Aliansi Rakyat Bergerak berupa Turunkan Jokowi Ma'ruf dan Bangun Dewan Rakyat yang dirasa bukan menjadi solusi tepat dalam persoalan ini. Lain halnya Front Pembela Rakyat yang menawarkan tuntutan berupa reforma agraria sejati dan indutrialisasi nasional sebagai solusi yang lebih relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. 

“Mosi tidak percaya yang diusung ARB serta seruan untuk menurunkan rezim Jokowi dan membentuk Dewan Rakyat tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang ada di Indonesia. Jika dilihat mayoritas rakyat Indonesia adalah buruh dan tani, karenanya FPR melihat tema yang tepat adalah cabut Omnibus Law Cipta Kerja dan lawan rezim Jokowi dengan reforma agraria sejati dan industrialisasi nasional”, jelas Arif.

Sama halnya dengan FMN, Solidaritas untuk Orang Pinggiran dan Perjuangan Kampus (SOPINK) juga memilih untuk tidak bergabung dengan Aliansi UMY Bergerak pada aksi #JogjaMemanggil. Pihaknya, melalui forum menyatakan akan terlibat bersama Majelis Pekerja Buruh Indonesia karena dirasa memiliki kesesuaian pandangan atas tuntutan yang akan diusung dalam aksi.

Perpecahan aliansi pada massa UMY ini terjadi di luar dugaan. Kendati demikian, massa UMY masih dalam tujuan yang sama dengan lawan yang sama. Hal tersebut disampaikan oleh Arif di penghujung forum kepada seluruh massa yang hadir pada agenda Teklap.

“Perbedaan ini bukan berarti kita tidak mempunyai lawan yang sama. Ini adalah dialektika dan sudah semestinya Aliansi UMY Bergerak seperti ini, punya pemikiran sendiri bukan sekadar mengikuti tanpa ada dialektika didalamnya”, pungkas Arif.

Reporter : Naila Salma Nurkhalida & Ni Made Ray Rika


Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar