DPR Harap Minggir, Dewan Rakyat Sedang Sidang

 

Aksi teatrikal simulasi sidang Dewan Rakyat yang sedang diperankan oleh perwakilan dari berbagai pergerakan rakyat (Sumber dokumen/Nuansa)


Nuansa Online - Aksi lanjutan penolakan Undang-Undang Cipta Kerja kembali digelar pada Selasa (20/10) pukul 12.45 WIB yang diikuti oleh massa dari Aliansi Rakyat Bergerak serta perwakilan dari beberapa gerakan rakyat. Berbeda dari aksi sebelumnya yang bertempat di Kantor DPRD DIY, kali ini aksi massa berpusat di Bundaran UGM. Tak hanya itu, konsep yang diusung pun juga berbeda dari sebelumnya.

Digelarnya aksi kali ini tidak hanya sebagai lanjutan penolakan Omnibus Law UU Cipta Kerja, akan tetapi juga untuk mengkritisi masih tidak adanya sikap atau upaya nyata dari pemerintah terkait penyelesaian beberapa isu seperti penguasaan lahan, tak adanya inisiatif dan kompetensi pemerintah dalam menangani pandemi COVID-19, menurunnya pertumbuhan ekonomi nasional, PHK massal,  ketertinggalan SDM (dalam bidang pendidikan), kekerasan seksual pada perempuan, krisis pangan, dan ketimpangan sosial.

Massa aksi mulai berdatangan dengan ditandai penutupan sejumlah ruas jalan seperti Jalan Affandi, Mirota, Bundaran UGM hingga Panti Rapih. Aksi dimulai dengan parade pukul 12.45 WIB dari empat titik kumpul, seperti UNY, UIN, UTY, dan UMY menuju ke Bundaran UGM yang menjadi lokasi mimbar dewan rakyat. Tuntutan yang disuarakan oleh massa kali ini berupa mosi tidak percaya, turunkan rezim Jokowi-Ma'ruf Amin, cabut Omnibus Law UU Cipta Kerja, bubarkan DPR, dan bangun Dewan Rakyat.

Sekitar pukul 13.30 WIB, satu persatu dari perwakilan beberapa gerakan rakyat mulai berorasi dan diselingi pentas musik. Ada pun perwakilan tersebut berasal dari petani, warga kampung kota, buruh perempuan/Pekerja Rumah Tangga (PRT), advokasi LGBTQ, kawan Papua, dan pelajar Yogyakarta (SMA, SMK, dan STM). 

Tak hanya diisi oleh orasi dan pentas musik, aksi kali ini juga menampilkan teatrikal simulasi rapat Dewan Rakyat yang ditampilkan oleh aktor dari masing-masing perwakilan gerakan rakyat. Diawali dengan 4 aktor yang berperan sebagai anggota DPR yang ingin meyakinkan bahwa UU Cipta Kerja harus diterima dan kemudian massa aksi berteriak “Bubarkan DPR, ganti Dewan Rakyat!”. Teatrikal dengan tagline ”DPR Harap Minggir, Dewan Rakyat Sedang Sidang” ini ditujukan sebagai sindiran kepada DPR yang tidak mengindahkan tugasnya sebagai wakil rakyat, sehingga rakyat sendiri merasa perlu adanya Dewan Rakyat. 

Sedangkan di waktu yang bersamaan tepatnya di samping Mirota, terdapat aksi lainnya yang diinisiasi oleh Front Perjuangan Rakyat (FPR). Tidak jauh berbeda dengan ARB, konsep yang dibawakan oleh FPR juga diisi dengan orasi dan berbagai karya seni seperti tari daerah dan puisi. Berakhir sekitar pukul 17.10 WIB, aksi lanjutan #JogjaMemanggil Cabut Omnibus Law UU Cipta Kerja ditutup dengan nyanyian lagu “Darah Juang” oleh massa dan dilanjutkan dengan pembubaran secara kondusif.

Reporter: M. Aqsha Faja,R Adi, Zakiyah

Editor : Naila

 

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar