Stigma Aksi Pelajar Ikut-Ikutan: "Jika Kami Kurang Pengetahuan, Salah Siapa Tidak Mencerdaskan?”

 

Selasa (20/10), salah satu perwakilan massa aksi dari kalangan pelajar sedang menyampaikan aspirasinya di Ruang Rakyat (Sumber dokumen/Nuansa)


Nuansa Online - Pelajar Jogja ikut meramaikan aksi lanjutan penolakan Omnibus Law UU Cipta Kerja pada Selasa (20/10). Massa aksi pelajar tergabung dalam barisan parade Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) dari berbagai titik. Sebagian dari titik UNY, dan sebagian lainnya dari titik UTY. Dalam aksi-aksi pada umumnya, kehadiran pelajar seringkali dirasa janggal dan menimbulkan stigma negatif dari berbagai kalangan. Namun pada aksi kali ini, pelajar diberikan ruang untuk bersuara.

Aksi lanjutan #JogjaMemanggil ini diisi dengan berbagai rentetan acara. Salah satunya orasi dari berbagai gerakan rakyat, tidak terkecuali pelajar. Barisan pelajar digiring untuk memenuhi barisan terdepan sembari mempersembahkan orasi oleh perwakilan pelajar melalui panggung yang disediakan oleh ARB. 

Di awal orasi, perwakilan pelajar menyampaikan ungkapan terima kasih karena telah disambut dan diikutsertakan dalam aksi dengan harapan dapat mematahkan stigma negatif yang telah lama terbangun yaitu narasi pelajar hanyalah anak-anak yang buta akan politik, tidak tahu-menahu, dan hanya ikut-ikutan saja. Pelajar kemudian ingin menunjukkan kepada pemerintah bahwa penilaiannya terhadap pelajar tidak sepenuhnya benar.

Mister M, salah seorang orator dari pelajar yang enggan disebut identitas lengkapnya, menunjukkan sikap kekecewaannya terhadap pemerintah yang telah mengesahkan Omnibus Law UU Cipta Kerja dalam mimbar aksi. Hal ini dikarenakan UU tersebut dianggap sangat berpengaruh bagi kehidupannya, khususnya lulusan  STM.  Karena akan merasakan dampaknya secara langsung dari kebijakan yang eksploitatif terhadap buruh.

“STM ikut demo bukan untuk tawuran dan bukan biang tawuran. Masa depan Indonesia di tangan kami. Jika kami dianggap kurang pengetahuan, salah siapa tidak mencerdaskan?,” paparnya di depan massa aksi.

Tidak hanya itu, ia juga mengakui bahwa adanya UU ini tidak hanya berimbas pada mereka. Akan tetapi juga akan menyengsarakan rakyat kecil terutama klaster menengah kebawah yang memiliki notabene buruh dan bukan dari golongan pengusaha apalagi penguasa.

Berangkat dari aksi pada 8 Oktober lalu, dimana pelajar diisukan menjadi biang kerusuhan, tengah mematahkan stigma yang ada. Aksi lanjutan yang juga diramaikan oleh barisan pelajar berjalan dengan tertib dan vokal. Pun dalam menyuarakan aspirasi serta keluh kesah mereka sebagai pelajar.

Kendati demikian, kemerdekaan belum sepenuhnya terbayarkan di kalangan pelajar. Beberapa pelajar lainnya ketika diwawancarai oleh tim Nuansa justru masih menyimpan rasa takut. Hal tersebut terlihat saat mereka enggan memberitahu identitas dan asal sekolah. Kejadian serupa juga terjadi kepada perwakilan pelajar yang menyuarakan aspirasinya di atas mimbar aksi. Tentu hal ini sangat disayangkan dan dipertanyakan.

Reporter: Faisal Ahmad 

Editor : Naila

 

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar