Surat Terbuka untuk Mahasiswa Baru


Sumber: suara.com

Kepada Tuan dan Puan mahasiswa baru yang terhormat

Sebelum memulai surat ini nampaknya saya perlu memberikan salam hangat sebagai penyambutan tanpa diskriminasi ala-ala senioritas pada Tuan dan Puan Mahasiswa Baru sekalian di dunia kampus.

Selamat datang dan selamat berjuang, semoga tuan dan puan sekalian selalu dalam lindungan serta keberkahan Tuhan yang Maha Esa. Tak lupa rasa terimakasih saya haturkan karena telah berkenan untuk membuka dan membaca surat yang ditujukan pada Anda sekalian.

Beberapa hari lalu telah kita lewati Bersama serangkaian agenda perkenalan dunia kampus atau bias akita sebut sebagai Orientasi Studi Perkenalan Kampus (Ospek). Ceramah demi ceramah, video-video, dan segala kegiatan yang kita lakukan bersama baik dari mahasiswa sampai rektor sekalipun memberikan nasihat, amanat, bahkan guyonannya. Semua itu sebagai upaya untuk mengenalkan bagaimana nantinya tuan dan puan sekalian dapat menjalankan perkuliahan dengan nyaman.

Terutama dengan perkenalan yang menggunakan video, kita dapat melihat bagaimana damainya suasana perkuliahan, dosen dan mahasiswa belajar harmonis dengan interaktif dan tak lupa senyuman yang tak pernah lepas dari wajah setiap mahasiswa dan dosen dalam video tersebut. Seperti seorang host/MC di panggung yang harus tetap tersenyum tanpa tanggug-tanggung. Sungguh indah sekali perkuliahan, bagai iklan arena bermain, semua orang gembira tidak satupun dari mereka yang merasa takut, sedih, galau, resah, dan gelisah.

Apakah benar seperti itu? Apakah kuliah seindah itu? Apakah mahasiswa kerjanya hanya masuk kelas, mendengarkan ceramah dosen sambil tersenyum seperti video saat ospek online? Apakah kau tak pernah mendengar warta bahwa mahasiswa adalah para calon pengangguran masa depan? Hitung saja berapa pengangguran di negeri ini, dan berapa persen dari mereka yang menyandang gelar S1.

Tuan dan Puan mahasiswa baru yang saya muliakan

Jangan mudah percaya pada berita yang menyenangkan, dan jangan tutup telingamu dari hal-hal yang nampaknya tidak enak untuk didengarkan karena terkadang, kesenangan itu tipuan dan ketidak-enakan itu peringatan. Jangan cepat percaya bahwa kuliah yang rajin mampu membawamu pada masa depan yang gemilang, seperti yang biasa kau dapati pada brosur Penmaru. Dan ingat, kuliah juga begitu, tak seindah video yang kau tonton itu. Tapi bukan berarti saya mengatakan itu tidak asyik dan tidak layak dijalani.

Mungkin Sebagian besar dari anda ingat apa yang terjadi setahun lalu di depan kantor DPR. Protes besar-besaran yang digelar oleh mahasiswa diberbagai penjuru daerah di Indonesia lantaran kebijakan pemerintah yang semakin hari semakin memangkas demokrasi, dari mulai disahkannya RUU KPK yang berdampak pada tumpulnya pisau rakyat untuk membedah tumor-tumor koruptor dalam tubuh indah pemerintah. Hal tersebut merupakan wujud esensi dan eksistensi mahasiswa. 

Terlebih lagi jika kita mengingat kembali lengsernya Bung Karno begitu juga dengan Bung Harto dari kekuasaannya, mahasiswa menjadi aktor utama yang memprakarsai momen-momen bersejarah tersebut. Agent of change dan social control adalah dua peran bagi mahasiswa selain daripada kehadirannya dalam setiap sesi perkuliahan. Luasnya wawasan dan dalamnya pengetahuan mahasiswa merupakan secercah harapan bagi rakyat akan hadirnya sebuah perubahan. Ilmunya memberikan kepekaan dalam melihat realita sosial, dan gerakannya selalu memiliki kebermanfaatan bagi masyarakat.

Kawan-kawanku mahasiswa baru sekalian

Penindasan, kemiskinan, kesenjangan dan ketidak-adilan sampai hari ini menjadi belenggu bagi rakyat. Rakyat sangat merindukan perubahan. Bisa jadi rindunya lebih berat daripada rindu Milea pada Dilan. Kedaulatan dan kebenaran merupakan tuntutan dari perubahan.

Akta kelahiran bukanlah menjadi parameter sepadan bagi kebenaran. Mungkin dosen, dekan, bahkan rektor sekalipun merupakan orang-orang yang lebih dulu lahir, akan tetapi bukan berarti mereka terbebas dan ma’shum dari kekeliruan.

Jika silang pendapat silakan didebat, jangan selalu menurut jika memang perlu sesekali untuk dituntut. 

Sudahlah, sudah cukup bagimu masa-masa sekolah yang semuanya serba se-ragam. Buku bacaan sama, buku tulis harus disampul sama, jawaban harus sama, dan bahkan kaos kaki pun harus sama. Seakan-akan perbedaan merupakan aib yang hina. Selama mampu memberi kebaikan dan tetap dalam kebenaran, mengapa tidak boleh berbeda?

Mahasiswa tidak hanya panggilan bagi mereka yang dalam proses meraih gelar dan mampu beli rumah megah. Tetapi mahasiswa merupakan gelar bagi mereka yang ingin bersusah-payah membela hak “orang susah”.

Bukan seberapa banyak upahmu nanti, tapi seberapa besar kiprahmu kelak. Bukan berapa banyak uang yang didapat, tapi bagaimana “darah juang” selalu menjadi semangat. Singsingkan lengan bajumu, kencangkan “ikat pinggang”mu tanpa perlu kau perlihatkan pada seniormu. Lipat kembali outfit-outfit mahalmu dan simpan bik-baik uang jajanmu untuk kau belikan buku, karena rakyat sedang menunggu perjuanganmu.

Ilmu adalah imam, amal adalah makmumnya, dan tauhid adalah tujuannya.

Wahai Tuan dan Puan mahasiswa baru yang saya segani

Permasalahan yang ada adalah tanda bahwasannya Tuhan sedang menuntut perjuanganmu.

Semoga surat ini mampu menjadi re-orientasi dari dis-orientasi pada masa orientasi studi perkenalan kampus (OSPEK).


Hizba M.A  (@kontrakanbocor)

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar