Waspada Depresi Mahasiswa Meningkat Seiring Parahnya Pandemi

 


 


Sumber ilustras: GRID.id

Nuansa Online - Sudah hampir 8 bulan kegiatan perkuliahan secara tatap muka di semua kampus Indonesia ditiadakan. Bukan dikarenakan libur semester yang molor, tetapi disebabkan oleh virus yang menyerang tubuh penderitanya. Hal ini menyebabkan perubahan drastis pada vibes masyarakat terutama mahasiswa. Perubahan yang sangat drastis jika mengingat pada saat pertama pengenalan PSBB hingga tiba-tiba berubah menjadi Lock Down di seluruh Indonesia.

Hampir seluruh kampus di Indonesia menerapkan pembelajaran jarak jauh menggunakan media sosial sebagai media pembelajarannya. Hal ini menyebabkan mahasiswa perlu beradaptasi dengan prosesi pembelajaran jarak jauh. Dengan status pandemi yang terhitung baru dan asing menyebabkan beberapa mahasiswa banyak yang merasa terbebani secara psikologi.

Bukan hanya itu, beberapa mahasiswa merasa tidak siap dengan pemberlakuan pembelajaran dalam jaringan atau yang bersifat online. Mereka memerlukan adaptasi yang lebih jika dibandingkan dengan pembelajarn tatap muka. Mungkin bagi sebagian mahasiswa lainnya, pembelajaran seperti ini sangat menguntungkan bagi mereka, karena tidak harus dibebani dengan masuk kampus setiap hari dan bisa lebih menggunakan waktu efektif.

Seperti yang dikutip oleh Ultimagz.com menginformasikan bahwa berdasarkan penelitian dari China menunjukan bahwa dari 7.143 responden yang berupa mahasiswa sekitar 24,9% mengalami anxiety atau kecemasan, dengan rincian 0,9% mengalami kecemasan berat, 2,7% mengalami kecemasan moderat, dan 21,3% mengalami kecemasan ringan.

Terlihat bahwa psikologis mahasiswa sangat mudah terpengaruh oleh hal-hal yang terlihat sepele. Terlebih beberapa faktor penyebab psikologi mahasiswa yang dapat berubah seperti masalah perekonomian. Di masa pandemi sekarang sangatlah berat bagi mahasiswa yang perekonomiannya kurang beruntung. Dikarenakan kelonjakan harga kebutuhan pokok serta pemutusan hubungan kerja kepada mahasiswa yang melakukan kerja sampingan. Hal ini tentu saja membuat perekonomian mahasiswa menjadi tidak beraturan.

Faktor lainnya yaitu kecemasan yang menjebak mahasiswa dalam stigma mereka sendiri yang mengatakan bahwa jika keluar rumah dan berada dalam kerumunan, maka itu akan menyebabkan dirinya terkena virus COVID-19. Kecemasan-kecemasan kecil seperti inilah yang mempengaruhi perkembangan psikologi mahasiswa.

Dikutip dari artikel milik halodoc menyebutkan bahwa menurut riset American Psychological Association, kasus gangguan mental pada mahasiswa naik hingga 10 persen dalam 10 tahun terakhir. Banyak hal yang membuat mahasiswa terkena depresi, beberapa di antaranya mungkin karena kurangnya manajemen dalam mengatur waktu bermain dan kuliah. Tidak hanya itu, persaingan yang semakin terbuka saat masa kuliah membuat mahasiswa menjadi tidak percaya diri akan kemampuannya dan merasa tidak bisa melakukan apapun dibandingkan teman-temannya.

Belajar dan mengerjakan tugas terkadang membuat seorang mahasiswa terjaga hingga larut malam. Kebiasaan ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan mahasiswa. Insomnia, yang membuat mahasiswa kekurangan waktu istirahat dikarenakan alasan melembur tugas yang diberikan. Padahal hal ini justru memiliki dampak buruk pada fungsi kognitif. Kurang tidur atau istirahat membuat otak terasa lelah sehingga mengakibatkan sulit berkonsentrasi dan berpikir dengan baik.

Faktor yang lain adalah gangguan makan. Hal yang cukup sepele yang sering dihiraukan banyak mahasiswa yang sebenarnya mengalami gangguan secara psikologis namun tidak mereka tanggapi. Sebagai contoh gangguan makan adalah saat menyadari ada perubahan pada pola makan, seperti makan menjadi lebih banyak atau terlalu sedikit, ini bisa menjadi tanda awal mengalami gangguan makan. Jika merasa mengalami gangguan makan, sebaiknya paksa diri untuk kembali pada pola makan seperti awal.

Telepas dari banyaknya aktivitas mahasiswa dan seberapa beratnya tugas yang diberikan dari dosen ataupun tugas lainnya yang menghadang, jangan lupa untuk meluangkan sedikit waktu untuk berolahraga maupun aktivitas yang menyenangkan untuk dilakukan agar terhindar dari stres maupun depresi yang pada akhirnya mengganggu proses pembelajaran dalam jaringan ini.

 

Penulis: Faishal Fathin Najib

Editor: RF Wuland


 

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar