Massa Aksi Kembali Turun ke Jalan Peringati Hari HAM Sedunia


Sumber: Dokumen Nuansa


Peringati hari HAM Internasional, massa kembali turun ke jalan. Massa aksi yang terdiri dari sejumlah mahasiswa serta berbagai organisasi pergerakan dan kemanusiaan menggelar aksinya di area parkir Abu Bakar Ali dan TItik Nol Kilometer Yogyakarta pada Kamis (10/12)
.

Aksi dilakukan untuk menyadarkan masyarakat betapa pentingnya nilai HAM yang harus selalu diperjuangkan oleh setiap individu. Pada peringatan Hari HAM Internasional ini merupakan sebuah momen untuk menyerukan tuntutan atas HAM yang belum sepenuhnya diimplemetasikan dengan baik oleh negara sebagai entitas tertinggi. Aksi massa menyoroti bahwa peran negara yang belum berhasil dalam menuntaskan kasus HAM, bahkan kasus yang sudah bertahun-tahun. Berikut segelintir fakta penjajahan dan ketidakkonssitenan pemerintah dalam penegakan HAM yang dilakoni oleh negara:

  1. Tidak seriusnya pengusutan sehingga para pelau pelaku dan aktor kunci dari kasus 65, Marsinah, Widji Thukul, dan Munir masih bebas berkeliaran hingga sekarang.
  2. Pembiaran terjadinya kekerasan pada kelompok minoritas seperti agama/kepercayaan minoritas
  3. Genosida terus dilanjutkan pada rakyat Papua untuk menghentikan keinginan Rakyat Papua menentukan nasib sendiri. Hingga saat ini, hampir setiap hari TNI dan Brimob masih melakukan kekerasan hingga berujung pembunuhan di Papua.
  4. Penguasaan lahan oleh segelintir orang semakin parah di Indonesia.
  5. Pertumbuhan ekonomi nasional mengalami penurunan hingga menyentuh level -5,32% akibat terlambatnya penanganan COVID-19 yang dilakukan pemerintah. Indonesia tercatat menempati urutan tertinggi ketujuh di antara negara berpendapatan menengah dan rendah dalam Utang Luar Negeri (ULN.
  6. PHK massal terus alami kenaikan dan diperkirakan jumlah karyawan yang di-PHK dan dirumahkan mencapai 15 juta orang.
  7. Pada isu gender, kasus kekerasan terhadap perempuan mengalami lonjakan yang cukup tinggi, terutama di masa pandemi.
  8. Pada 2017, Oxfam Indonesia dan International NGO Forum on Indonesia (INFID) mencatat bahwa aset empat orang terkaya Indonesia setara dengan harta 100 juta orang termiskin.
  9. Pemaksaan bangsa West Papua untuk menjadi bagian dari Indonesia.

Aliansi Front Perjuangan Rakyat (FPR) melangsungkan aksi di Titik Nol Kilometer pada Kamis (10/12) 

Massa aksi yang bergabung dalam aliansi Front Perjuangan Rakyat (FPR) dimulai sejak pukul 13.30 di Titik Nol Kilometer dengan orasi-orasi. Dalam orasinya, massa aksi menyatakan tuntutannya berupa lawan rezim fasis Jokowi-Ma'aruf sebagai pelanggar HAM serta mencabut Omnibus Law UU Cipta Kerja dengan mewujudkan reforma agraria sejati dan industrialisasi nasional.

Sedangkan massa aksi yang berkumpul di Parkiran Abu Bakar Ali tengah dimulai sejak pukul 11.00 WIB. Dua jam kemudian, tepat pukul 13.00 WIB rencana awal untuk melakukan longmarch di sepanjang jalan Malioboro dengan titik kumpul di Titik Nol KM gagal terlaksana. Hal tersebut dikarenakan massa aksi dihadang oleh polisi dengan barisan kawat berduri.

Tidak hanya polisi, para pedagang di kawasan Malioboro turut membawa spanduk yang berisi penolakan aksi tersebut dengan longmarch melalui kawasan Malioboro. Menurut Ponija, salah satu polisi yang berjaga di kawasan tersebut, menyatakan bahwa massa aksi diperbolehkan melakukan aksi namun tidak perlu melakukan pawai di sepanjang kawasan Malioboro yang ditakutkan mengganggu stabilitas keamanan di kawasan tersebut.

“Boleh melakukan aksi, namun bukan dengan longmarch, takutnya akan mengganggu kawasan Malioboro yang menjadi destinasi wisata nasional,” tuturnya.

Mendapati penghadangan tersebut, akhirnya massa aksi memutuskan untuk tetap melakukan aksinya dengan orasi di area Parkiran Abu Bakar Ali. Satu persatu dari perwakilan beberapa gerakan rakyat berorasi secara bergiliran menyampaikan aspirasinya terkait HAM. Aksi ditutup dengan pembacaan tuntutan aksi, seperti penghapusan utang luar negeri, peredistribusian kekayaan, reforma agrarian, nasionalisasi aset asing dan swasta untuk kesejahteraan rakyat, dan dukungan untuk perjuangan hak menentukan nasib sendiri bagi wilayah West Papua. Aksi ini berakhir ditandai dengan bubarnya massa aksi di area parkir Abu Bakar Ali pada pukul 16.15 WIB.

 

Reporter: Talita Rahma, Almaida Putri

Penulis : Rizky Feby Wulandari



Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar