Trauma Aksi Ricuh Omnisbus Law Sebabkan Warga Tolak Aksi Massa di Kawasan Malioboro

Sumber : Dokumen Nuansa 


Nuansa Online - Kawasan Malioboro menjadi titik pagelaran aksi peringatan hari HAM Internasional dari berbagai aliansi di Yogyakarta pada Kamis (10/12). Aliansi Rakyat Bergerak (ARB), salah satu aliansi yang semula akan melangsungkan aksi dengan longmarch melintasi jalan Malioboro menuju Titik Nol Kilometer justru mendapat penolakan dari pedagang yang juga merupakan warga di kawasan Malioboro. Selain dihadang pihak kepolisian, warga juga melakukan blokade terhadap massa aksi agar tidak melakukan aksi di sepanjang jalan Malioboro.

Beberapa warga mendatangi massa aksi untuk mengingatkan agar tidak menggelar aksi di Malioboro. Doni Ruli Setiawan, selaku pengelola taman parkir Abu Bakar Ali meminta massa untuk langsung menuju ke Titik Nol Kilometer tanpa harus melintasi jalan Malioboro. Menurutnya, para pedagang kaki lima (PKL) masih trauma dengan aksi Omnibus Law yang berujung ricuh 8 Oktober lalu.

“Saya tidak melarang kalian menyampaikan aspirasi, karena kalian juga generasi penerus bangsa. Tapi saya meminta agar kalian tidak melakukan aksi di Malioboro karena pedagang yang ada di sepanjang jalan Malioboro masih punya trauma karena kericuhan sebelumnya” ujar Doni.

Keresahan serupa juga dirasakan oleh Diah, pedagang kaos di kawasan Malioboro. Dirinya mengeluhkan kondisi ekonomi di tengah pandemi yang sangat bergantung pada wisatawan. Jika citra Jogja memburuk akibat aksi yang berujung ricuh, tentu dapat menurunkan jumlah wisatawan di Malioboro.

Menurut Rini, salah satu pedagang di kawasan Malioboro, mengungkapkan bahwa sebelumnya terdapat massa aksi yang tergabung dalam aliansi Front Pembela Rakyat (FPR) juga mendapatkan penolakan pagelaran aksi yang melewati Malioboro, namun massa aksi menerima tawaran warga untuk tidak melakukan aksi di Malioboro. Massa aksi FPR kemudian dikawal polisi menuju Titik Nol Kilometer untuk menggelar aksi massa.

Meski demikian, massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) mengabaikan tawaran untuk segera berpindah menuju Titik Nol tanpa longmarch. Berdasarkan kesepakatan massa aksi, mereka bersikukuh untuk tetap melakukan longmarch menuju Titik Nol Kilometer.

Satuan petugas kepolisian kemudian memasang kawat berduri untuk menghadang massa aksi agar tidak dapat melintas. Selain polisi, sekelompok pedagang baris berjajar sembari merentangkan spanduk bertuliskan “Demo Dilarang Masuk Malioboro, Tempat Kami Mengais Rejeki”. Pun di sepanjang jalan Malioboro, ratusan pedagang juga tengah bersiap siaga menghadang jika massa aksi melewati kawasan tersebut. Bahkan sepanjang jalan Malioboro di blokir oleh warga dengan menempatkan andong dan becak di tengah jalan.

Massa aksi yang tertahan di area parkir Abu Bakar Ali akhirnya memutuskan untuk menggelar aksi di tempat. Orasi demi orasi disampaikan oleh masing-masing perwakilan organisasi dan ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap Aliansi Rakyat Bergerak terhadap penegakkan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia.

 Reporter : Umar Al Jufri

Editor : Naila

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar