Satu Tahun Kuliah Daring : Sedikit Plus, Banyak Minus





Ilustrasi : Jogya.com

    
   

Nuansa Online- Sejak Maret 2020 pembelajaran dilakukan secara jarak jauh atau daring. Tidak hanya sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja yang melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), namun seluruh sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia bahkan dunia melakukan hal yang sama dikarenakan pandemi Covid-19. Kini setelah setahun berjalan,  PJJ mengundang banyak plus-minus yang dirasakan baik oleh dosen maupun mahasiswa di Universitas Muhammdiyah Yogyakarta (UMY). Beberapa beranggapan bahwa kelebihan dari PJJ sendiri adalah simpel dan fleksibel karena dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Namun ternyata kelebihan itu tidak sebanding dengan kekurangan yang dirasakan.

Zahrul Anam, S.Ag, M.Si., salah seorang dosen jurusan Hubungan Internasional (HI) UMY mengatakan, “Durasi pembelajaran disesuaikan dengan perangkat dan persyaratan teknis. Misalnya video pembelajaran yang bertele-tele dan panjang membutuhkan bandwith besar dan tentu membosankan.” Hal senada juga diikuti oleh pernyataan Anisa Sopiah, salah seorang mahasiswi HI 2018 yang berpendapat bahwa PJJ dinilai kurang efektif dan juga kurangnya fasilitas aktualisasi materi dan diskusi yang interaktif.

Anisa Sopiah menambahkan bahwa presentase kehadiran dosen sangat mempengaruhi pembelajaran. Banyak juga dosen yang melimpahkan seluruh pembelajaran kepada asisten dosen (asdos) yang membuat mahasiswa resah karena kurang memahami materi pembelajaran.

“Sesibuk apapun dosennya, Bapak-Ibu dosen harus mengajar langsung mahasiswanya tanpa digantikan oleh asdos, tugas, belajar mandiri, dan lain-lain. Jika memang ada kegiatan bisa dibuat kelas pengganti, bagi yang tidak bisa ikut perkuliahan bisa direkam, agar kami benar-benar mendapatkan hak kami,” ujar Anisa Sopiah menambahkan.

M. Iqbal Adi Putra, salah seorang mahasiswa Ilmu Pemerintahan 2019 juga mengutarakan keluhannya terhadap kuliah daring. “Kuliah daring bukanlah solusi utama untuk menjalani pendidikan yang efektif.  Karena pada kenyataannya bukan kuliah daring yang terjadi diranah civitas akademika, akan tetapi yang saya dapat adalah tugas-tugas daring yang sangat menyita waktu dan tenaga.” ungkapnya.

Salah seorang mahasiswa lain dari Ilmu Komunikasi 2019 bernama Ira Manicha Kusuma W. juga turut berkomentar terhadap pengaruh kuliah daring, “Pengaruh kuliah online dalam aspek psiklogis yaitu dapat membuat mahasiswa menjadi stress karena tidak pahamnya materi yang diberikan. Kuliah di rumah dan (bersama) keluarga serta kondisi lingkungan yang tidak mendukung juga memicu ketidakfokusan mahasiswa dalam mengerjakan tugas.”

Di sisi lain, Zahrul Anam, S.Ag, M.Si., mengungkapkan bahwa PJJ tidak hanya berdampak pada mahasiswa. PJJ berdampak juga pada aspek psikologis dosen. “Dosen harus mampu mengelola tekanan karena tuntutan pembelajaran daring yang menantang dan juga harus dapat menyajikan materi dengan durasi singkat dan tingkat kedalaman materi yang sama dengan pembelajaran tatap muka,” timpalnya. Ia menambahkan bahwa perlu adanya strategi supaya mahasiswa mengikuti pembelajaran dengan baik yaitu dengan cara menguatkan partisipasi mahasiswa dalam forum diskusi, memberikan reward, dan penugasan individu. Ia juga menilai hasil PJJ selama ini sudah cukup baik karena mahasiswa terdorong untuk mencari sumber lain di luar perkuliahan.

Dr. Suciati, S.Sos., M.Si. menambahkan bahwa dirinya merasa kurang puas dengan PJJ meskipun sudah dilakukan secara interaktif. Menurutnya, jumlah audience dalam PJJ harus diperkecil supaya output pembelajaran dan konsultasi dapat maksimal. Ia juga sangat terbuka dengan mahasiswa yang ingin berkonsultasi secara privat dan tidak segan untuk melayaninya. “Dari perspektif psikologis, pembelajaran efektif adalah yang bersifat privat. Jadi saya harus siap melayani konsultasi japri bagi mahasiswa yang membutuhkan pasca kuliah klasikal, karena kemampuan individu tidak sama.”

Sedangkan menurut Anisa Sopiah, banyaknya tugas yang diberikan bahkan pada hampir setiap pertemuan menjadikannya sebagai dampak psikologis bagi mahasiswa. “Bahkan beberapa mata kuliah punya tugas di setiap pertemuan, belum lagi kondisi kami yang harus belajar dari rumah punya kendala-kendala lain yang kami tidak tahu apa menjadi bahan pertimbangan atau tidak,” ujarnya.

“Selain sinyal, hambatan konkret adalah motivasi internal dari mahasiswa untuk mengikuti kuliah online dari awal sampai akhir, selain itu bisa juga perilaku plagiasi dari tugas teman-teman,” Dr. Suciati, S.Sos., M.Si. kembali mengutarakan tentang hambatan yang dialami selama PJJ.

Adanya kontroversi terkait kuliah daring sedikit plus-nya, banyak minus-nya, Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM., selaku Rektor UMY pun menanggapi hal tersebut. Bahkan Ia membenarkan pernyataan tersebut. “Memang saya sendiri mengakui bahwa itu tidak efektif, tidak bisa mendalam kan.” Ia juga mengutarakan terkait sistem yang sebenarnya diterapkan oleh kampus. “Kampus kan sebetulnya blended, jadi perkuliahan campuran antara luring dan daring sebetulnya.”

Rektor juga membuka suara terkait kinerja dosen yang menjadi sasaran banyak mahasiswa. Mahasiswa mengatakan bahwa banyak dosen yang hanya memberikan tugas atau melimpahkan perkuliahan kepada asdos sehingga membuat mahasiswa tidak memahami materi yang disampaikan.

“Sudah mendengarnya, tapi kan lisan. Saya minta mahasiswa itu berwadah himpunan mahasiswa untuk mengirim surat ke wakil rektor bidang akademik. Ke rektor boleh, ke wakil rektor boleh, untuk bahan evaluasi kami.” Gunawan menambahkan bahwa penggunaan WhatsApp Grup untuk sepenuhnya pembelajaran merupakan sebuah kekeliruan. “Bahkan dosen yang menggunakan WA memberikan  tugas itu juga nggak bener. Jadi WA itu hanya dipakai untuk melengkapi online yang pakai MyKlass atau pakai Zoom.”

“Sudah ada yang dihukum. Pertengahan bulan Oktober itu kita selesaikan, di teknik juga sudah ada langsung kita selesaikan.” tambahnya  menyampaikan bahwa ada oknum dosen yang berlaku sewenang-wenang dan sudah ditindaklanjuti oleh pihak universitas.

Namun, adanya problematika tersebut tidak menghambat mahasiswa untuk terus mengikuti sistem perkuliahan yang ada. M. Iqbal Adi Putra membeberkan strategi untuk menunjang keberlangsugan perkuliahan yaitu  mengikuti alur yang sebagaimana telah ditentukan oleh tenaga pengajar, tetapi juga tidak menutup kemungkinan untuk mahasiswa mengevaluasi tenaga pengajar apabila tidak sesuai sebagaimana mestinya.

Tidak sampai disitu, Anisa Sopiah, sebagai Mahasiswa Berprestasi tingkat FISIPOL UMY membagikan strateginya supaya mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan dengan baik, antara lain: belajar materi sebelum kelas dimulai, menanyakan langsung kebingungan saat dikelas atau mengatakan kendala di grup chat, konsultasi dengan asdos terkait materi yang membingungkan, menyiapkan alat kuliah jauh-jauh waktu agar saat perkuliahan dimulai bisa maksimal fokus mengikuti kuliah dan menyiapkan kuota cadangan dan mengisi daya perangkat untuk antisipasi jika ada kendala.

Reporter : Larasati Putri Indaryani, M. Rishad Abdilla A.

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar