Masjid Jogokariyan Sebagai Masjid Pemersatu Umat

 


Sumber: Dokumen Nuansa


Nuansa Online - Masjid Jogokariyan di Yogyakarta mulai dibangun pada tahun 1966. Kegiatan keagamaan dan dakwah awalnya berpusat di sebuah langgar kecil di pojok kampung terletak di RT 42 RW 11 (sekarang menjadi rumah keluarga Bp. Drs. Sugeng Dahlan, selatan rumah Almarhum Bp. H. Basyir Widyahadi). Sejarah mencatat kampung di mana masjid ini berdiri sempat menjadi basis komunis atau PKI (Partai Komunis Indonesia). Maklum masyarakat Jogokariyan pada saat itu umumnya kalangan abangan karena budaya abdi dalam prajurit keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang lebih ngugemi “Tradisi Kejawen” dari pada budaya keislaman yang mana bekas-bekasnya masih ada sampai sekarang.

Untuk saat ini sendiri, Masjid Jogokariyan lebih difokuskan pada pelayanan kepada jamaah. Hal ini terlihat dari perubahan struktur kepengurusan dalam masjid yang mana terdapat biro-biro penanggungjawabnya tersendiri, seperti Biro Ibadah, Biro Kesehatan atau Poliklinik, dan Biro lainnya.

“Jadi, memang prinsip kita ini kan pelayanan, jadi harus betul-betul melayani jamaah kita bukan kepada penguasa masjid tapi lebih kepada pelayanan jamaah. Jadi, ya melalui berbagai pelayanan itu yang kita lakukan sehingga di banyak bidang kita berusaha untuk memenuhi berbagai kebutuhan-kebutuhan yang memang menjadi permintaan kebutuhan jamaah yaitu dari masalah ibadah mahdhah mapun yang ghairu mahdhah” kata Ustadz Agus Abadi selaku Ketua Takmir Masjid Jogokariyan. (25/12/2020)

Di dalam kepengurusan masjid takmir sendiri terdapat 130 pengurus yang meliputi sekitar 30 sampai 31 biro yang tujuannya berfokus pada pelayanan jamaah, misalnya untuk biro ibadah yang bersangkutan dengan koordinator dan anggotanya berfokus untuk melayani peribadatan di Masjid Jogokariyan mulai dari mengatur ketua muadzin dan imam, jadwal khotib, dan lain-lain. Selain itu yang menyangkut kemasyarakatan ada biro kesehatan atau poliklinik yang mana dananya disubsidi dari masjid itu sendiri yaitu dari dana infaq subuh. Dana ini pun nantinya digunakan untuk kebutuhan lainnya.

Terkait eksistensi hubungan Masjid Jogokariyan terhadap warga sekitar baik itu warga muslim maupun yang non-muslim memiliki sisi kepositifan. Bisa dilihat dari pelaksanaan Idhul Adha di Masjid Jogokariyan, di mana dari pihak masjid memberikan qurban kepada mereka serta pelaksanaan pengajian (untuk kaum muslim) dan Baitul Mal. Berdasarkan data masjid, terdapat sekitar 387 jamaah atau kartu keluarga yang tercatat untuk keterkaitan dengan Baitul Mal yang dilaksanakan sebulan sekali dengan pemberihan bahan-bahan pokok seperti beras, gula, minyak goreng, nugget, air mineral dalam kemasan, dan sebagainya.

“Yang non muslim misalnya untuk kegiatan ibadah qurban, yang muslim juga kita beri jika memang berkenan, tapi kalau pengadaan bahan pokok untuk jamaah yang memang sudah kita daftar dan kita pantau untuk diberi memang untuk kaum muslim, memang kita punya pengajian dan baitul mal sebulan sekali. Pada masa normal itu kita undang untuk diajak hadir dalam pengajian sampai isya dan pulangnya mereka menukarkan undangan itu dengan bingkisan yang sudah disiapkan dari biro baitul mal. Biasanya untuk situasi normal, setiap hari Jumat sebelum sholat dibagikan nasi kotak sedangkan untuk situasi pandemi masih dibagikan tapi dengan saran dimakan di rumah masing-masing”

Kerukunan antar umat beragama nyatanya memang terus ditingkatkan di dalam kampung ini di mana Masjid Jogokariyan berada. Namun, kenyataannya hal itu bukan hal mudah, belum lagi posisi kampung ini merupakan kampung yang majemuk dan masyarakat yang heterogen, bukan hanya berbeda agama tetapi juga partisipasi politiknya juga berbeda. Karena kampung ini dulunya termasuk kampung abangan sehingga tidak bisa memaksakan kehendak, misalnya membuat banner bertulisan ‘Pemilu 2004 satu suara’.

Sesuai dengan perkembangan Masjid Jogokariyan, masyarakat pun antusias akan hal itu. Terutama dalam hal pelayanan, seperti di masa pandemi saat ini, kondisi ekonomi masyarakat Indonesia sedang terpuruk, untuk itu pengurus masjid menyiasati hal tersebut dengan memberikan bantuan kepada yang membutuhkan. Kegiatan keagamaan juga demikian, pihak masjid berusaha melayani jamaah dengan tetap membuka masjid tetapi dengan memperhatikan protokol kesehatan.

“Meskipun tidak memaksakan untuk menyelenggarakan sholat lima waktu di masjid tetapi kita tetap melayani 24 jam dan untuk warga luar kampung kita sediakan tempat untuk sholat di lantai dua. Bahkan lantai masjid kita semprot desinfektan sehari lima kali serta waktu awal pandemi kita membagikan masker kepada para jamaah dari rumah ke rumah. Dari maghrib sampai isya dan juga waktu subuh kita sediakan makanan tradisional dan pembagian sembako kita perluas, serta penyaluran pekerjaan bagi para kepala keluarga yang terkena PHK dengan membuat grup WA yang mana bagi para ibu-ibu yang bisa memasak membuat masakan yang nantinya bisa dijualkan untuk penguatan ekonomi mereka” ucap Ustadz Agus Abadi.

 

Reporter          : Ira Wijayanti & M. Ihsan Darmawan

Editor              : Ashita Dewi Alifatuzzahra

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar