Menelisik Nasionalis K-Popers Indonesia

                     Sumber ilustrasi: IDN.Times

Nuansa Online-  Kerusakan lingkungan di Indonesia tidak jarang berangkat dari tuduhan yang dilemparkan kepada perusahaan asing. Seperti pembakaran hutan di Papua untuk usaha perkebunan kelapa sawit oleh salah satu perusahaan asal Korea Selatan, Grup Korindo. Aksi ini kemudian membuat banyak warga Indonesia geram dan beberapa justru ikut menyalahkan para pencinta aliran musik dan budaya Korea Selatan atau K-Popers.

Berdasarkan investigasi yang dilakukan oleh Greenpeace International dan Forensic Architecture, menemukan adanya pola pembakaran yang disengaja untuk memperluas lahan kelapa sawit di tahun 2011-2016. 

Grup Korindo sendiri memang memiliki perkebunan kelapa sawit terbesar di Papua. Mereka telah menghancurkan sekitar 57.000 hektar hutan di provinsi tersebut. Sejak 2001 sebuah wilayah yang hampir seluas Seoul, ibu kota Korea Selatan.

Pihak Korindo dengan tegas menolak tuduhan tersebut dan bersikeras bahwa itu adalah isu lama yang diulang-ulang untuk menjatuhkan pihak mereka. Mereka juga menekankan telah mematuhi segala protokol pembukaan lahan dan tidak pernah melakukan pembakaran.

Wakil Ketua Komisi IV DPR, Hasan Aminuddin, dalam wawancaranya dengan BBC news pada 16 November lalu, menggambarkan temuan investigasi perluasan lahan sawit di Papua ini, ''Menginjak-injak harga diri bangsa dan sumber daya alam Indonesia".

Berkenaan dengan permasalahan yang menciderai lingkungan ibu pertiwi, para pecinta aliran musik dan budaya Korea Selatan di Indonesia turut dipermasalahkan oleh sebagian masyarakat Indonesia yang terlanjur geram dengan perlakuan perusahaan asal Korea Selatan. 

Para K-Popers yang menjadi sasaran amukan beberapa warga Indonesia kemudian menyuarakan suara mereka terhadap hal ini lewat media sosial. Bahkan tagar mengenai ini memuncaki trending topic di media sosial twitter pada 13 November 2020. Mereka mengatakan bahwa mereka memang menyukai idola-idola dari Korea Selatan. Akan tetapi tanah kelahiran mereka adalah Indonesia, jadi untuk masalah ini mereka dengan tegas mendukung tagar #savepapua.

"Saya tegaskan, Aliran musik kami memang K-Pop, tapi hal itu kemudian tidak menyebabkan kami para K-Popers lupa bahwa darah yang mengalir dalam diri kami adalah darah bangsa Indonesia. Maka ketika isu ini mencuat, dengan bangga saya mengatakan bahwa kami para K-Popers akan membela tanah kami dengan sepenuh hati," ungkap Ganis Khoirunnisa, salah satu K-Popers yang juga merupakan penggiat lingkungan kepada Tim Nuansa, Selasa (22/12).

Tim Nuansa juga menyebar survei mengenai tanggapan K-Popers akan hal ini melalui media sosial. Hasilnya, para responden mengaku menyukai musik k-pop, namun hal itu kemudian tidak menyebabkan mereka tutup mata akan kasus tersebut. Mereka berujar akan tetap mengawal kasus ini dan membela tanah air mereka.

Menanggapi isu ini, Prof.Tulus Warsito, selaku dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sekaligus pengamat ekonomi kawasan Asia Timur mengungkapkan bahwa hal ini masih harus dikaji dan diselidiki lebih lanjut kebenarannya. "Perlu juga dilihat kemungkinkan issu ini muncul karena persaingan usaha modal asing antara Korindo dengan para pesaingnya, sehingga perlu data yg lebih sahih untuk mempertanyakan kebenarannya," tambahnya.

Reporter: Arina Zahrotannis & Layyts Layyin Mubarokah

Editor: Wln

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar