DIY Perketat PSBB, Penjual Resahkan Penerapan Jam Malam

 

Sumber: Gatra.com


Nuansa Online –
 Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengeluarkan instruksi nomor 1/INSTR/2021, mengenai Pengetatan secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM). PTKM yang diberlakukan di wilayah DIY meliputi Sleman, Bantul, Kulon Progo, Gunung Kidul, dan Kota Yogyakarta ini demi menekan angka penularan COVID-19 yang semakin tak terkendali. Instruksi ini diumumkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto pada Rabu (06/01) setelah dilakukannya rapat terbatas di Istana Negara.

Dikutip dari laman degadeonline.com menyatakan bahwa Sultan masih berharap ada peningkatan kesadaran masyarakat untuk mendisiplinkan diri melaksanakan protokol kesehatan termasuk tetap berada di rumah demi mencegah persebaran Covid-19. “Sebetulnya kita PSBB atau tidak kalau mereka patuh dan disiplin mau tinggal di rumah ya sebetulnya selesai kok masalahnya,” ujar Sultan

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ini diterapkan pada kebanyakan daerah di Indonesia guna mengurangi angka penularan dan penyebaran COVID-19. Namun, kebijakan PSBB tentunya menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan masyarakat, khususnya masyarakat yang berprofesi sebagai wirausaha. Hal ini dikarenakan kebijakan tersebut mengurangi jam berjualan mereka.

Merespon hal ini, Penjual makanan Seblak Bismillah, Mahfud beserta istri mengatakan bahwa PSBB yang dilakukan oleh pemerintah kali ini kurang efektif dikarenakan pembatasan jam penjualan hingga pukul 20.00 WIB saja. Namun, selama PSBB berlangsung mereka tetap mengikuti instruksi pemerintah dengan menerapkan protokol kesehatan. Mereka mengaku takut diberi sanksi berupa penahanan KTP dan ditutup selama 3 hari oleh Satpol PP yang bertugas menertibkan penjual.

Ketakutan ini berawal dari rekan mereka sesama penjual makanan yang telah diberi sanksi sebelumnya, “Itu yang jual pecel lele ditahan KTP-nya 3 hari belum dibalikin”. Tak hanya penjual seblak, pedagang lain, penjual angkringan AKYT juga mengikuti instruksi pemda DIY dalam PTKM ini seperti membatasi waktu berjualan dari pukul 14:00-22:00 WIB saja.

Pembatasan jam berjualan ini tentunya mempengaruhi omset dari penjual yang terkena dampak dari kebijakan PSBB. Di lain sisi kebijakan ini diambil untuk menangani pandemi COVID-19 yang semakin tidak terkendali. Walaupun demikian, kebijakan ini juga menimbulkan permasalahan baru seperti masalah perekonomian.

Reporter: Vinny Aleandra & M. Ihsan 

Editor: Sa'idatuz Zakiyah

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar