Gema Hari Pers, Bangkitnya Kesadaran Hak Berpendapat

 

Sumber: Google

Nuansa OnlineSebagai negara yang menganut sistem demokrasi, Indonesia menjamin setiap warganya untuk bebas menyatakan pendapatnya di muka publik. Bahkan, tanggal 9 Februari setiap tahun dijadikan momentum untuk memperingati Hari Pers Nasional. Euforia peringatan Hari Pers Nasional selalu disambut antusias oleh masyarakat setiap tahunnya. Bagaimana tidak, berbagai peristiwa besar yang berkaitan dengan kebebasan berpendapat di Indonesia sendiri telah banyak dilalui salah satunya reformasi. Peristiwa besar tersebut hingga kini terarsip dengan baik sebagai salah satu momentum kemenangan masyarakat atas dicapainya kembali kemerdekaan hak bicara dan berpendapat.

Reformasi sebagai peristiwa besar tidak hanya dikenang sebagai titik balik bangkitnya kemerdekaan berpendapat sebagai hak mutlak masyarakat negara demokrasi. Peristiwa tersebut tidak jarang pula menjadi patokan masyarakat untuk mengemukakan pendapatnya di hadapan publik, dengan asumsi pada umumnya bahwa “hak bicara kita adalah salah satu agenda besar reformasi yang harus dipertahankan”. Peristiwa reformasi juga memunculkan landasan konstitusi yang menaungi hak dan kebebasan berpendapat setiap individu yang tertuang dalam UU No. 40 Tahun 1999 tentang menyampaikan pendapat di muka umum.  Landasan tersebut menjadi penegasan bahwa hak berbicara di negara ini dijunjung tinggi oleh konstitusi.

Peringatan Hari Pers Nasional selalu disambut antusias oleh masyarakat Indonesia setiap tahun. Segala aktivitas yang berkenaan dengan pemberitaan dan penyampaian opini di kalangan masyarakat semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Bayangkan saja, tidak membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun setelah terjadinya peristiwa reformasi banyak bermunculan media-media berita mainstream di masyarakat. Hal ini menunjukkan semakin kesini gairah dan kesadaran masyarakat dalam menyampaikan pendapat mengalami peningkatan yang cukup signifikan.  Apalagi dengan adanya teknologi media sosial saat ini, setiap individu yang aktif menjadi pegiat media sosial bahkan dapat menjadikan dirinya sebagai reporter di tengah masyarakat maya. Tentu peristiwa ini menguatkan fakta bahwa gairah dan kesadaran akan hak berpendapat di hadapan publik semakin meningkat seiring berkembangnya zaman.

Momentum peringatan Hari Pers Nasional terbukti berhasil mengubah perilaku dan pandangan masyarakat terhadap hak kebebasan berpendapat, hal ini dibuktikan dengan meningkatnya aktivitas media sosial yang dilakukan oleh pegiatnya sebagai wadah untuk menuangkan gagasan, pendapat dan kritik atas realitas sosial yang terjadi. Namun terkadang agak disayangkan ketika kesempatan tersebut justru dijadikan ajang untuk saling menyerang dan menjatuhkan antara satu sama lain, bahkan tidak jarang hal ini dilakukan dengan membawa unsur SARA yang justru mengarahkan kita kepada perpecahan di atas persatuan keberagaman bangsa ini. 

Di sisi lain, realita kebebasan berpendapat dalam naungan pemerintah semakin menunjukan pada arah kemunduran. Hal ini ditunjukkan dengan maraknya pembungkaman media-media Pers di era rezim saat ini. Ditambah lagi dengan penggunaan landasan konstitusi yang berbentuk undang-undang dengan pasal karet semakin menunjukan komitmen bangsa ini untuk menyukseskan agenda Reformasi kian berkurang dan bertolak belaka dengan amanat konstitusi.

Sudah semestinya peringatan Hari Pers Nasional yang diperingati setiap tahun tidak lagi sebatas momentum peringatan simbolis yang sarat akan seremonial namun sukar akan penerapan. Justru momentum ini yang disambut dengan euforia dan antusiasme meriah dapat kita jadikan sebagai upaya reflektif apakah selama ini hak dan kewajiban yang semestinya sudah kita lakukan, meningkatnya kesadaran akan kebebasan berpendapat perlu diiringi dengan upaya yang baik dan semestinya pula tanpa melewati batas-batas yang ada.

 

Reporter: Dimas Adi N.

Editor: Sa'idatuz Zakiyah

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar