Kompetensi Mahasiswa UMY di Bawah 40%. Rektor : Ini Ancaman

 

(Dokumen Pribadi)


Nuansa Online
- Selang beberapa waktu peringatan satu tahun lahirnya pandemi di Indonesia tuai berbagai catatan buram pada kualitas pendidikan, tak terkecuali di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM., Rektor UMY, melalui kegiatan Olahraga bersama pada Jum’at (5/3) menjelaskan secara signifikan bahwa tingkat kompetensi mahasiswa sangat rendah.

Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) UMY mencatat bahwa capaian presentase kompetensi mahasiswa hanya mencapai 38,2 %. Hal ini diakui oleh rektor terkait buruknya kualitas pendidikan sepanjang pembelajaran jarak jauh dan menjadi ancaman masa depan.

“Yang paling memukul saya adalah survei beberapa mata kuliah dipilih random, pencapaian kompetensi cuma 38%. Ini yang membuat kita ini ada ancaman. Gimana mungkin UMY yang unggul dan islami akan melepas anak-anak dengan standar kompetensi di bawah 40%,” papar Gunawan.

Hasil survei yang dilakukan oleh LPP UMY meliputi empat indikator, yang pertama yaitu variabilitas atau jumlah kehadiran mahasiswa dalam perkuliahan yang berubah-ubah. Naasnya, perubahan peserta di kelas tidak mengalami kenaikan, namun menurun. 

“Di awal mahasiswa yang hadir 30, nanti lama kelamaan yang hadir hanya 10 saja,”  jelasnya.

Indikator kedua capaian kompetensi mahasiswa juga dilihat dari keseriusan mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan daring. Dalam pengamatan yang terekam oleh sistem, keseriusan belajar mahasiswa sangat buruk. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran mahasiswa tanpa mengaktifkan fitur kamera sehingga tidak adanya interaksi yang baik di dalam kelas. Pun tidak menutup kemungkinan hal serupa dilakukan oleh tenaga pendidik atau dosen.

“Bulan pertama masih on camera, nanti bulan kedua ketiga off semua. Dosen off camera mahasiswa juga off camera. Kalau begini apa yang didapat dari perkuliahan?” tegas Gunawan.

Indikator ketiga terkait durasi mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran. Gunawan menyinggung persoalan yang kerap kali dilakukan oleh mahasiswa di kelas. Ia mengatakan bahwa durasi masuk kelas daring mahasiswa tidak utuh 100% hingga waktu kuliah berakhir. Mahasiswa hanya bertahan di awal jam masuk kelas. Sementara, di akhir waktu jumlah peserta dalam kelas berkurang.

Terakhir, pengerjaan tugas oleh mahasiswa juga menjadi indikator turunnya presentase kompetensi mahasiswa. Hasil survei ini diambil dari survei acak jawaban dosen yang menunjukkan bahwa mahasiswa dinilai asal-asalan dalam mengerjakan tugas.

“80% tugas yang disampaikan yang penting bikin, yang penting upload. Tiap dosen berbeda-beda ada yang 60%, 30% tapi nilainya rata-rata keseluruhan 38,2 %,” terang Gunawan.

Untuk mengantisipasi kendala yang mencederai kompetensi mahasiswa, Gunawan mengupayakan  berbagai hal pendukung. Diantaranya melalui berbagai kegiatan, seperti “Rektor Menyapa”. Selain itu, ia juga tengah memberikan peringatan kepada para tenaga pendidik untuk lebih mengoptimalkan pembelajaran daring dan mewajibkan pembelajaran luring minimal 6x pertemuan.

Harapannya, hasil survei Lembaga Pengembangan dan Pendidikan (LPP) UMY dapat menjadi catatan koreksi internal untuk menghapus catatan buram pembelajaran jarak jauh di tahun ini dan seterusnya. Pasalnya, catatan kompetensi mahasiswa menjadi acuan sebuah universitas untuk menilik tingkat kualitas pendidikan. Terlebih, nasib suatu bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikannya.  Ia berupaya untuk membawa UMY mencapai presentase kompetensi yang wajar.

“Ya minimal 60% lah, karena kan sebenarnya meskipun kuliah luring juga belum tentu optimal. Jadi 60-70% sudah baik. Harapannya pembelajaran online di tahun ini lebih optimal dan tingkat kompeten UMY meningkat." tambah Gunawan.


Reporter : Naila Salma

Editor : Sa’idatuz Zakiyah

 

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar