Perjuangan Kartini Sudahkah Berakhir?


Nuansa Online- Permasalahan perempuan, gender, dan pendidikan akan selalu menjadi sesuatu yang sensi dan hangat untuk diperbincangkan. Stigma perempuan sebagai makhluk yang dinomorduakan setelah laki-laki masih sering terdengar sampai sekarang. Kesetaraan gender nampaknya tetap menjadi ladang perjuangan bagi segelintir perempuan yang merasakan adanya sentimen di setiap keadaaan. Perjuangan Kartini tempo lalu dirasa masih perlu kita perjuangkan. Perjuangannya baru terasa 30 tahun setelah sepeninggalannya. Membuka jalan pendidikan bagi perempuan memperbaiki kualitas diri. Dari situlah perempuan mendapat wawasan mengenai politik, sosial, agama, dan lain sebagainya.

Kita ambil contoh terdekat sekarang ini jika dilihat kebanyakan mahasiswa yang berada di kelas adalah perempuan. Ini merupakan salah satu dari perjuangan Kartini.

Terlebih, sekarang sudah banyak perempuan yang berada di ruang publik dan mengambil peranan. Meski tidak menduduki kursi utama, akan tetapi seringkali tugasnya melebihi capeknya seorang ayah. Jika di ruang publik tugas seorang pemimpin biasanya laki-laki, penulis pikir lebih ringan jika dibanding dari seorang sekretaris yang mengurusi segala sesuatu yang biasanya diduduki oleh perempuan.

Memang sudah banyak perempuan yang menjadi pemimpin dari sektor terkecil hingga besar. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan laki-laki sangat jauh kuantitasnya. Belum lagi mitos umum yang sering menakut-nakuti perempuan saat dia berpendidikan tinggi para laki-laki akan sungkan mendekatinya. Padahal mitos itu bisa dipatahkan setiap jodoh merupakan cermin diri kita masing-masing.

Perjuangan kesetaraan gender nampaknya masih menjadi cahaya yang dikejar beberapa orang. Meskipun sebenarnya kesetaraan gender itu bukan berarti harus dibagi sama-rata. Akan tetapi juga bisa dilihat dari potensi-potensi yang dimiliki setiap kita sebagai manusia. Perempuan yang kewajiban terbesarnya membesarkan, mendidik, dan merawat anak ini merupakan proses yang paling krusial dan urgen dikerjakan. Jika hal ini lengah sedikit saja, bayangkan berapa banyak masyarakat Indonesia yang bermoral dan berwawasan rendah. Karena bagaimana pun ibu merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Perempuan yang selalu mendambakan kesetaraan gender sudahkah mampu menunaikan apa yang menjadi kewajibannya? Menuntut ilmu memang tidak ada batasan tinggi, terutama untuk perempuan. Hanya saja kita yang memberhentikan diri sendiri untuk melangkah. Memperpantas diri dan meningkatkan kualitas diri merupakan tugas yang harus dilakukan untuk perempuan masa kini meneruskan estafet perjuangan hak perempuan yang dicanangkan Kartini pada masa itu. Hanya dengan pendidikan dan pembentukan karakter kepribadian kita mampu mencanangkan harga diri setara dengan laki-laki.

Terlepas dari ringan beratnya suatu amanah atau pekerjaan semua sudah menjadi ketetapan Tuhan atas segala kemampuan yang kita tanamkan dalam diri. Kartini masa kini, jangan sia-siakan perjuangan Kartini tempo lalu untuk meningkatkan kualitas kaum perempuan. Sehingga kesetaraan dapat terwujud dan penomorsatu duaan tiada terdengar. Karena setiap dari kita ditentukan oleh kemampuan dan kepribadian diri bukan pada status gender yang tersematkan.


Penulis : Rizky Feby

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar